
“Lo tidur, My?”
Myria membalik badan yang awalnya memunggungi, kini berganti menghadap atas. Kepalanya menoleh sedikit ke samping. “Hampir tidur, kenapa?”
“Tidur aja kalau gitu.”
Dahi Myria mengernyit lantaran heran atas sikap Angkasa. Dia bertanya lagi, “Kamu nggak tidur? Udah hampir jam sebelas sekarang.”
“Gue nggak ngantuk. Imsomnia lagi kayaknya.” Angkasa membuang napas berat setelah itu. Dia seperti cowok frustrasi karena susah tidur. Entah apa yang menjadi penyebabnya.
Myria tiba-tiba bangun dan merapikan jilbab. Dia duduk menghadap suaminya. “Apa mau aku buatin susu? Katanya, kandungan asam amino triptofan dalam susu bisa bikin tenang sama bikin tubuh rileks. Mungkin bisa bantu kamu ngantuk nantinya.”
Angkasa melirik sebentar, lalu kembali menatap langit-langit kamar. Cahaya di dalam ruangan sudah remang remang dan tidak silau sedikit pun, tetapi pemuda itu masih sulit memejamkan mata apalagi terbang ke alam mimpi.
“Nggak usah. Yang ada gue malah ngerepotin elo. Balik tidur, gih!”
“Mana ada istri ngerasa direpotin suami?” Myria menjawab sekaligus bertanya. “Udah kewajiban aku, kok, ngelayanin kamu.”
Angkasa mengulas senyum. Lesung pipinya tetap terlihat jelas meski kamar minim cahaya. Pemuda itu menggeleng, lalu menyuruh Myria berbaring kembali.
Tidak perlu protes apalagi sampai berujung debat, Myria merebahkan badan dan turut menatap plafon kamar. Dia dan Angkasa akhirnya saling diam dan merenung atas pikiran sendiri-sendiri.
“Lo nggak pengin buka jilbab, My? Gue bukan orang asing.”
Dirabanya kain penutup kepala yang memang terpakai sejak sore, Myria melipat bibir karena ragu. Dia masih belum terbiasa menunjukkan rambut dan lehernya pada anggota keluarga, baik Tuan Aji maupun Angkasa.
“Kamu keberatan aku gini?”
Angkasa menghela napas. “Apa salahnya nunjukkin keindahan lo buat suami sendiri?”
Keheningan menyelinap. Angkasa memang tidak memaksa, tetapi ucapan pemuda itu menjadikan Myria overthinking. “Iya, deh, aku buka. Tapi kamu nggak boleh minta yang lain lagi.”
Cowok 18 tahun yang awalnya berwajah datar itu justru tertawa pelan. Angkasa melirik Myria yang sedang menyampirkan jilbab di kepala ranjang. Rambut panjang dan hitam yang baru pertama kali dilihat beberapa hari lalu, akhirnya bisa dilihat kembali sekarang.
__ADS_1
“Papa bicara sama gue perkara kuliah, tadi waktu elo bantu Mama beresin piring habis makan malam. Beliau nanya, kita pengin kuliah di mana.”
Sembari mengatur posisi rebahan yang nyaman, Myria mendengarkan dengan saksama. Matanya berkedip ringan dengan wajah menghadap Angkasa. “Terus?”
“Sekarang gue mau nanya elo pengin kuliah di mana?”
“Eum …” Myria berpikir. Satu telunjuknya menempel di dagu, sementara keningnya berkerut lagi seakan menunjukkan keseriusan. “Dari dulu aku nggak terlalu mimpi tinggi yang susah dijangkau, tapi kalau kamu nanya aku punya keinginan kuliah di mana, aku ingin ke Turki. Selain taraf pendidikan yang bagus, lebih nyaman aja kayaknya hidup di negara yang mayoritas tetap muslim.”
Hati Angkasa sedikit kecewa karena ternyata dirinya dan sang istri berbeda jalur. Namun, itu tidak lantas ditelan mentah-mentah begitu saja perkara obrolan kali ini. Angkasa ikut mengubah posisi menjadi miring hingga dia dan Myria saling berhadapan. “Tapi gue penginnya ke Inggris,” kata pemuda itu secara jujur.
Myria terdiam. Matanya mengerjap pelan dengan tatapan terpaku penuh pada wajah Angkasa. Meski ada guling di tengah sebagai pembatas, posisi seperti itu tetap menjadikan jantungnya sedikit tidak terkondisi.
Angkasa terlalu sempurna memang. Wajah tampan, otak cerdas, dan harta melimpah telah dimiliki saat ini. Belum lagi, keahlian mengendarai motor dan permainan bola basketnya tak diragukan lagi.
“My, malah ngelamun.”
“Oh, itu, ya. Ya, nggak pa-pa. Bukannya setiap orang punya cita-cita sendiri?” Myria meringis. “Aku paham, kok, kalau kita nggak akan selalu sama. Lagian itu cuma keinginanku aja, belum tentu terwujud.”
“Tapi, Ka—”
“Gue nggak ridho kalau lo safar sendirian meski ini urusan menuntut ilmu. Apalagi sampai tahunan.”
Myria kicep. Sekali Angkasa berkata demikian, tidak ada yang bisa dilakukan lagi.
“Papa cuma ngasih pilihan kita sama-sama ke luar negeri, atau kalaupun LDR, lo tetap bersama keluarga di sini. Nggak ada pilihan lo di sana sendiri dan gue di tempat lain sendiri juga.”
“Ka, aku tadi cuma berpikir nggak ingin ngebatesin impian kamu. Kalau inginmu ke Inggris, aku nggak berani maksa buat keinginanku. Aku bisa nunggu kamu di sini atau ikut ke Inggris juga.”
Satu tangan Myria ditarik Angkasa. Pemuda itu memberi kehangatan lewat sentuhan. “Gue lebih suka lihat lo bahagia sama pilihan lo daripada ngurusi kebahagiaan gue sendiri. Elo seneng, gue bakal ikut seneng.”
Myria terpaku. Dia sampai tidak bisa menerka apa yang ada di dalam kepala Angkasa. Makin ke sini, makin banyak hal mengejutkan dari pemuda di depannya itu. Angkasa seperti dua sosok berbeda saat di sekolah dan rumah. Pemuda itu bisa sedingin es dan tak acuh sama sekali dengan keadaan, tetapi ketika bersikap hangat, akan mampu menggoyahkan hati.
Mengalihkan tatapan menjadi pilihan Myria. Dia khawatir tidak kuat dengan pesona Angkasa dan sukses menumbuhkan benih cinta nantinya. Myria akui, dia belum ingin membuka hati untuk lawan jenis saat ini.
__ADS_1
“Kasa, terima kasih buat semua kebaikanmu,” kata Myria dengan wajah sedikit menunduk. Tangannya masih digenggam erat oleh Angkasa, dia tidak ada pikiran untuk menarik mundur.
Senyum tipis membingkai wajah Angkasa. Pemuda itu merapatkan badan ke guling, lalu berkata, “Gimana kalau terima kasih lo itu diwujudin ke tindakan?”
“Maksudnya?” Mata indah yang sempat menatap arah lain itu kembali mengarah pada Angkasa. Dua indra penglihatan Myria terlihat tenang setenang air telaga.
Angkasa mengetuk pipi sendiri dengan telunjuk. Bibirnya mengulas senyum lebar yang terkendali. “Beri gue kecupan sebagai tanda makasih lo.”
Kantuk hilang seketika karena mata Myria terbuka lebar. Dia nyaris berbalik memunggungi, tetapi Angkasa menahan.
“Sekali, doang, My.”
“Kasa.”
“Sekali, sebagai pengantar gue tidur.” Terus mencoba merayu, senyum Angkasa masih mengembang sempurna di wajah. Dia sedang bernegosiasi supaya dapat keuntungan malam ini.
“Ka—”
“Ini perintah.”
Selalu kalah, pada akhirnya Myria menurut. Dia mulai mengangkat badan, lalu mendekat ke wajah Angkasa. Satu tangan dipakai untuk menahan berat badannya agar tidak jatuh.
Kondisi langsung sepi dan hanya ada suara debaran jantung Myria yang menggila. Sungguh! Selama 18 tahun dia hidup, jangankan mencium laki-laki, dekat saja hampir tidak pernah. Kegugupan tidak bisa dibantah lagi, saking gugupnya, Myria menutup mata rapat-rapat.
Hampir saja wajah Myria sampai di dekat pipi, tetapi Angkasa sengaja memutar setengah badannya. Alhasil, bukan bibir Myria yang bertemu dengan pipi Angkasa, melainkan bibir bertemu bibir.
Cup!
.
.
.
__ADS_1