Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 43: Ujung Emosi


__ADS_3

“Aaa!” Friska dan beberapa siswa perempuan berteriak bersama. Hanya Myria yang tak mampu berkata-kata kala melihat Angkasa melayangkan tinju ke pipi Sakti. Dua mata gadis itu terbuka lebar dengan mulut menganga.


Ketika kesadaran Myria kembali, dia segera menengahi. “Kasa,” kata Myria dengan suara lirih. Dua tangannya mendorong perut Angkasa agar mundur dan sedikit menjauh dari Sakti, sementara Sakti langsung ditarik Friska.


Panggilan Myria bagaikan angin. Angkasa memang mundur dua langkah, tetapi tatapan tajam tidak bergeser sedikit pun dari wajah sahabatnya. Emosinya kali ini memberanguskan semua kesabaran, sekelebat bayangan beberapa menit lalu saat kulit istrinya tersentuh oleh Sakti, hati pemuda itu terbakar kembali.


“Gue emang brengsek, tapi bukan berarti mulut gue nggak bisa ngomong hal bener. Mata lo ke mana? Sebelum lo asal pegang-pegang, lo bisa lihat ceweknya!” Tungkai kaki Angkasa menendang meja di belakang hingga menimbulkan suara keras karena benda itu dan bangku saling bertabrakan. Myria yang ada di depannya sampai menutup telinga karena takut. Angkasa melenggang keluar selepas menyambar ransel.


Bukan hanya Myria, kepergian Angkasa juga menyisakan rasa takut pada teman-teman yang masih tersisa. Mereka mengusap dada masing-masing karena jantung berdebar kuat.


Myria segera menyusul sang suami. Dia bermaksud ingin menenangkan. Langkah gadis itu dipercepat, tetapi rasanya percuma karena Angkasa melangkah lebih cepat lagi darinya.


Kaki yang awalnya melangkah tergesa, kini berlari kecil dan berbelok ke parkiran. Myria hendak menghampiri Angkasa yang telah menyambar helm. Hampir saja dia sampai, tetapi suaminya sudah melajukan kendaraan dan tidak menggubris teriakan.


“Kasa!” Tidak ada waktu untuk mematung, pulang ke rumah adalah satu-satunya jalan untuk bertemu Angkasa. Perkara apa yang akan terjadi atau ungkapan seperti apa yang harus dikerahkan untuk bicara, Myria bisa memikirkannya nanti.


“Myria!”


Suara Friska menghentikan ayunan kaki sahabatnya. Myria memutar badan ke belakang dan menunggu Friska menghampiri.


“Aku harus cepet pulang. Kamu lihat Kasa kayak gimana tadi,” kata Myria dengan tergesa.


“Iya, aku paham. Tapi kamu harus hati-hati.”


Myria mengangguk. Dia tinggalkan Friska di area parkiran dan segera ke luar sekolah.


***


Berbeda dari Myria yang masih bingung mencari kendaraan pulang, Angkasa melajukan motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia memang bukan pemuda yang sabar luar biasa. Sama seperti cowok pada umumnya, darah muda yang mengalir di tubuh Angkasa sering kali mudah tersulut akan emosi hati yang sering berubah.

__ADS_1


Jalan menuju pinggir kota menjadi tujuan Angkasa. Jalanan sepi di mana hanya ada tanah kosong di kanan dan kiri yang menjadi tempat dahulu dia sering melakukan balap liar saat tengah malam. Angkasa menghentikan motor, lalu duduk bersandar di jok dengan menenteng helm.


Kesiur angin menerbangkan rambutnya yang tebal. Ada hawa sejuk kala udara menyentuh permukaan kulit pemuda itu. Angkasa menghela napas, lalu meraup wajah dengan satu tangan.


“Gue kira ada sedikit harapan buat bahagia habis kehilangan semua yang ada di sini. Tapi nyatanya, memang enggak semudah itu.” Angkasa menegakkan badan. Dia melangkah ke tepian jalan dan memandang area tanah lapang yang ada di sekitar. Setiap dia berkedip, setitik bayang masa lalu menyapa. Telinganya seakan mendengar teriakan penonton, deru motor, decit ban yang bergesekan dengan aspal kala rem terinjak, dan semua makian kala lawan balapannya kalah.


Senja menguning di ufuk barat hingga matahari benar-benar tenggelam sepenuhnya, tetapi Angkasa masih berdiri di tempat. Dia ingin melepas rindu meski tak akan pernah bisa mengulang apa yang pernah dilalui. Saat ini, meski tidak sedang diawasi, Angkasa tetap patuh akan aturan. Teriakan Nyonya Nasita saat mendengar sang kakak meninggal dan dirinya kecelakaan selalu menyanyat hati kala diingat.


Tepat ketika jarum jam ada di antara angka tujuh dan delapan, Angkasa baru tiba. Dia dibuat kaget karena Myria ada di ruang tamu.


“Ka—” Ucapan Myria tertahan saat melihat Angkasa mengangkat tangan. Pemuda itu tidak menoleh sedikit pun dan langsung menuju tangga.


Myria mematung di tempat. Dia pandangai dua tangannya yang hendak meraih lengan Angkasa tadi. “Buat kesekian kalinya, dia marah lagi.”


Dihelanya napas panjang sebentar untuk mengumpulkan energi, Myria lantas menuju kamar untuk menemui Angkasa. Dia segera membereskan seragam suaminya yang teronggok di kursi belajar ketika sampai.


“Kasa, mau salat sekarang?” tanya Myria saat Angkasa keluar dari kamar mandi.


Pemuda itu berhenti mengusak rambut. Dia pandangi tangan Myria yang menyodorkan sesuatu, lalu menoleh ke wajah sang istri. “Thanks,” katanya sembari menyahut sajadah.


Myria mengulas senyum, tetapi senyum itu tidak ditanggapi karena Angkasa lewat begitu saja dan segera menunaikan kewajiban.


Empat rakaat ditambah dua rakaat sunah badiyah Isya terlaksana dengan ketenangan. Angkasa melipat sajadah dan hendak mengembalikan ke tempat. Baru memutar badan 90 derajat, dia baru sadar jika Myria masih menunggu.


Pemuda itu mendekat, lalu meletakkan sajadah ke atas tempat tidur. “Udah makan lo?”


Myria menggeleng sambil tersenyum. “Nunggu kamu.”


“Ngapain lo nunggu? Gue kalau nggak minta ditunggu, nggak usah nunggu.”

__ADS_1


“Aku nggak mau.” Myria menjawab dengan nada tenang. Meski begitu, ada kesan berani dari cara dia menyampaikan jawaban.


“Selain lo berisik, keras kepala juga, ya?” Angkasa menyindir sembari melangkah ke meja rias. Dia menyisir rambutnya yang masih sedikit basah, lalu mengusapkan pelembab ke wajah.


“Kayak kamu, kan?”


Tangan Angkasa berhenti. Dia melirik bayangan Myria yang terpantul di cermin. “Apa maksud lo?”


“Kamu bilang aku keras kepala, gimana sama kamu?”


Angkasa berdecak. Dia membuang pandangan dan kembali mengurus wajah. Terjadi hening sesaat di antara dirinya dan Myria.


“Apa kamu puas habis mukul Sakti?”


Wajah santai dan tak acuh langsung berubah. Angkasa melirik tajam istrinya. “Lo mau belain dia?”


“Aku nggak pernah bela siapa pun. Tapi nggak seharusnya—”


“Nggak seharusnya gue mukul dia dan berteriak?” Angkasa menukas cepat. Dia tersenyum miring dan membuat istrinya menelan ludah karena takut. Sorot mata pemuda itu menajam dengan tatapan dingin. Mulutnya kembali mengeluarkan kata-kata, “Cuma cowok bego yang diem aja saat miliknya disentuh cowok lain. Apa lo ngganggep gue ini bego, My? Sorry, lo salah, kalau mikir gue kayak gitu!”


Badan berputar seratus persen menghadap istrinya, Angkasa kembali bicara, “Apa lo seneng didekati Sakti?”


Myria menggeleng dengan bibir terkatup rapat.


Seringai sinis di bibir dan sorot mata tajam Angkasa makin jelas. Pemuda itu mencengkeram lengan bagian atas milik istrinya. Dia membungkuk sedikit hingga wajahnya dekat dengan wajah Myria. “Kalau lo nggak suka, kenapa selama ini diem aja? Lo harusnya bisa baca suasana kalau Sakti lagi usaha deketin lo!”


.


.

__ADS_1


__ADS_2