Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 72: Siapa Ayahmu?


__ADS_3

Pintu ruang kepala sekolah terdorong dari luar. Selang beberapa detik muncul Myria dari balik benda bercat cokelat tua itu. Dia mengucap salam, lalu masuk setelah dipersilakan.


Dua mata Myria sempat menatap sekeliling dan mengucap permisi pada dua orang yang diduga tamu kepala sekolah. Kemudian, dia mendekat pada kepala sekolah. “Maaf, Pak. Bapak memanggil saya?”


“Iya. Namamu Myria.”


Myria mengangguk. “Benar, Pak.”


Pria tua berpakaian batik itu tersenyum. Pak Kepala Sekolah meminta Myria duduk di sofa bersama dua tamu tadi.


“Begini, Myria,” kata kepala sekolah dengan langgam tenang dan ramah. Dua mata beliau memberi tatapan teduh sehingga terpancar aura kesabaran. “Pagi ini Bapak kedatangan tamu. Ya, beliau-beliau ini. Tuan Tirta dan Tuan Daniel namanya.” Tangan Pak Kepala Sekolah mengarah pada dua pria di depannya.


Myria ikut memandang para tamu. Dia tersenyum sembari mengangguk. Gadis itu lupa bahwa pernah bertemu dengan Tuan Tirta dan asistennya sebelum saat ini.


Tuan Tirta yang sejak tadi menunggu membalas tak kalah ramah. Beliau tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Akan tetapi, Myria lebih dahulu menangkup tangan di dada dan berhasil membuat Tuan Tirta kembali pada posisi duduknya.


“Oh, maaf, Tuan. Anda dan anak didik kami bukan mahram. Gadis seumuran Myria pasti sudah akil baligh.”


Lagi-lagi Myria membenarkan ucapan Pak Kepala Sekolah dengan mengangguk.


Tuan Tirta tidak keberatan. Dia memang belum menyampaikan apa keinginannya datang ke sekolah. Hanya bilang ada keperluan sangat penting sehingga memohon pada kepala sekolah untuk dipertemukan dengan gadis bernama Myria. Pak Kepala Sekolah setuju, tetapi dengan syarat tetap bicara di ruangannya.


“Silakan bicara, Tuan Tirta, mengenai keperluan Anda. Saya harap keberadaan saya di sini tidak mengganggu Anda.”


“Oh, tidak apa-apa, Pak.”


Dua pria dewasa itu mengobrol. Myria hanya kebagian menjadi pendengar dengan perasaan tegang. Dalam pikiran gadis itu, ada apa sebenarnya sampai harus menemui tamu seperti Tuan Tirta.


“Nak.”

__ADS_1


Panggilan dari Tuan Tirta membuyarkan lamunan Myria. “Oh, i–iya, Tuan. Saya.”


Senyum kembali tersulam di bibir Tuan Tirta. Pria berjas hitam itu menarik napas sebentar. “Apa kamu ingat denganku? Kita pernah bertemu di rumah sakit dua pekan lalu. Waktu itu, kamu baru selesai membeli makanan.”


Sembari terdiam, Myria mengulang memori di kepala saat berada di rumah sakit. Gadis itu sampai mengerutkan kening saking seriusnya mengingat-ingat. “Oh, Tuan yang saya tabrak itu, ya?”


“Benar.”


“Ah, maaf sekali, Tuan. Saya benar-benar  tidak sengaja saat itu. Saya buru-buru karena meninggalkan pasien di taman. Jadi kurang hati-hati. Apa saya perlu ganti rugi? Saya siap karena itu memang salah.”


“Bukan-bukan, Nak.” Melihat Myria risau, Tuan Tirta merasa iba. Pria itu segera meluruskan. “Aku kemari karena ingin mengenalmu.”


Pak Kepala Sekolah agak kaget dengan ucapan Tuan Tirta. Begitu juga Myria yang tiba-tiba takut.


“Tuan, ada yang salah dengan kata-kata  Anda.” Daniel yang menyadari gelagat dua orang di sana langsung berbisik pada bosnya.


Bibir Myria terkatup. Dia ragu ingin menjawab. Tuan Tirta tetap orang asing yang tiba-tiba datang menanyakan hal privasi bagi Myria. Maka dari itu, dia waspada.


Tanggapan Myria ditunggu, tetapi tak jua ada jawaban. Tuan Tirta ganti mengarah pada kepala sekolah pertanda meminta bantuan.


“Myria, jawab saja. Bapak yang akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa.” Pak Kepala Sekolah ikut turun tangan. Beliau berkata pelan-pelan agar Myria luluh dan merasa aman.


Dengan ragu-ragu, Myria mengangguk. “Iya, Tuan. Ibu bernama Kinara Iswari, orang-orang memanggil Ibu Kinar. Dan nama belakang saya juga diambil dari beliau.”


Tuan Tirta mengangguk sekali, lalu melanjutkan pertanyaan. “Kalau ayahmu, siapa?”


Mendengar kata ‘ayah’ hati Myria bergerimis. Selama ini dia tidak tahu di mana sosok pria yang harusnya dipanggil ayah itu. Sang ibunda tidak pernah memberi tahu sedikit pun mengenai sosok tersebut dan justru mengatakan ayahnya telah lama meninggal.


“Ayah ….”

__ADS_1


“Ya, ayahmu.”


“Saya lahir hanya bersama Ibu, Tuan. Jadi tidak tahu siapa ayah saya. Ibu bilang Ayah pergi dan mungkin telah meninggal lama sehingga tidak ada harapan kembali pada kami.” Mata Myria mulai berkaca-kaca. Rasanya dia tak sanggup jika membahas perkara orang tua. Kini, dia hidup sendiri tanpa keluarga kandung dan hanya ada keluarga dari pihak Angkasa.


 “Apa ibumu tidak memberi tahu nama ayahmu?”


Gelengan kepala diberikan Myria sebagai jawaban. Dia seka air di sudut mata dengan ujung jari. “Ibu selalu menangis saat saya menanyakan soal Ayah. Beliau merasa sedih dan membuat saya tidak tega. Tapi, saat sudah sekolah dan bisa membaca, saya tahu data di Kartu Keluarga nama ayah adalah Tirta Mandala.”


Jantung Tuan Tirta berdetak hebat. Beliau ingin mengatakan dengan tegas pada Myria bahwa dirinya itulah sosok sang ayah. Akan tetapi, Tuan Tirta sadar tidak akan semudah itu membicarakan masalah serius.


Tangis tak mampu ditahan lagi, Myria terisak di depan tiga pria dewasa itu. Telah lama dia merindukan ayahnya dan sering kali merasa iri pada teman-teman yang memiliki keluarga utuh. Kadang, saat iman turun dan lupa bersyukur, Myria ingin menyalahkan takdir. Dirinya tidak memiliki orang tua lengkap dan hidup susah sehingga sering kali menerima hinaan ataupun cacian.


Semua orang terdiam dan menatap iba pada Myria. Tidak ada yang bisa memberi pelukan karena dipastikan gadis itu akan menolak. Pak Kepala Sekolah hanya bisa menyodorkan tisu dan memberi kalimat penyemangat sebagai bukti bahwa beliau peduli.


Setelah Myria tenang, Tuan Tirta membungkuk agar lebih dekat pada Myria. Gadis itu mundur karena refleks.


“Jangan takut, Nak. Aku tidak akan membahayakanmu. Apa kamu bersedia melakukan tes DNA denganku?”


Isakan tangis Myria berubah kekagetan. Tidak terkecuali Pak Kepala Sekolah yang ada di sana. Pria pemilik ruangan itu menyela, “Maksud, Tuan?”


Sebelum menjawab, Tuan Tirta menarik napas cukup kuat. Dia duduk menghadap sepenuhnya pada kepala sekolah. “Saya sedang mencari istri saya, Pak. Namanya sama seperti ibu dari Myria ini. Dan nama saya juga Tirta Mandala, entah ini hanya kebetulan atau tidak, tapi saya yakin Myria putri saya.”


Penjelasan Tuan Tirta sukses mengundang kekagetan Kepala Sekolah dan Mryia. Namun, gadis itu tidak ingin gegabah karena bisa saja nama banyak yang memiliki kesamaan.


“Saya ceritakan lebih lengkap, Pak.” Tuan Tirta berkata lagi. “Begini, dulu saya memang menikah dengan Kinara saat masih kuliah. Karena keterbatasan biaya, saya hanya bisa menikahinya secara agama dulu. Tapi, karena berumah tangga apalagi akan memiliki anak butuh banyak biaya, saya pergi bekerja ke luar kota saat Kinara hamil.”


Kepala sekolah hanya bisa manggut-manggut mendengar penjabaran Tuan Tirta. Beliau syok tidak berkesudahan.


“Tapi sayangnya ….” Ada jeda sebentar sebelum Tuan Tirta melanjutkan. Beliau memindah pandangan pada Myria yang diduga putrinya. “Tapi nahas, waktu saya perjalanan ke luar kota itu, saya mengalami kecelakaan parah hingga amnesia beberapa tahun.”

__ADS_1


__ADS_2