
"Serius, My, mau ngajakin aku ke rumah Angkasa?”
Myria mengangguk. Dia yakin bahwa izin dari Angkasa kemarin adalah nyata. Selain sang suami, Nyonya Nasita pagi tadi turut membebaskannya membawa teman. Namun, sayang beliau tidak janji bisa menemui lantaran pekerjaan cukup banyak untuk segera diselesaikan.
“Iya, beneran. Aku udah izin sama Kasa kemarin. Awalnya mau ke rumahmu aja, tapi dia bilang gitu. Jadi kita kerjakan di rumah Kasa aja.”
Penjelasan Myria tidak perlu diulang. Friska tak kalah senang bisa diajak berkunjung ke rumah pemuda seperti Angkasa. Bahkan, bayangan Friska sudah ke mana-mana sebelum sampai tujuan. Dia bergegas merapikan buku pelajaran hari ini, lalu mengajak Myria mencari angkutan.
“Naik taksi aja mau?”
“Eh?” Bertambah lagi kekagetan Friska. “Tapi itu ada angkutan, My.”
“Oh, ya, udah, ayo!”
Dua gadis itu meninggalkan sekolah bersama. Tidak butuh waktu lama, akhirnya tiba di gapura perumahan.
“Kita jalan kaki, My?” Friska bertanya karena tidak ada kendaraan atau tukang ojek yang mangkal di sekitar perumahan. Dia lihat sekeliling, hanya ada pohon-pohon berukuran sedang berjajar satu baris dan mencipta suasa asri berdampingan dengan gang-gang antar komplek.
“Iya. Rumahnya di ujung sana.” Telunjuk Myria mengarah ke satu gang di depan mata, sementara satu tangannya sudah menggandeng Friska.
“Hah? Kamu juga biasanya jalan kaki gini?”
“Kadang, sih. Nggak pasti, kadang dijemput sopir Bunda, kadang Kasa nunggu di sini kalau dia inget.”
“Kalau inget?” Friska masih saja heboh. “Aneh aja itu cowok. Kamu, kan, istrinya, minta anter, lah, My.”
Myria terkekeh pelan mendengar ucapan Friska. Dia menggeleng pelan. “Aku nggak segitunya sama Kasa. Minta anter kalau mau pergi jauh. Tapi aku, kan, jarang keluar. Hari libur juga di rumah aja.”
Sembari berjalan, Myria dan Friska terus asyik mengobrol. Keduanya tanpa sadar sampai di rumah tujuan.
Benar saja sesuai bayangan Friska, ketika gerbang di buka, gadis itu bisa melihat megahnya bangunan yang disebut rumah keluarga. Dia langsung berhenti karena takjub.
“Masya allah, beneran, My, kamu tinggal di sini?”
Myria tersenyum lalu mengangguk. “Cuma numpang. Ini rumah orang. Ayo!”
Letihnya berjalan kaki langsung sirna bagi Friska. Dia pandangi rumah bercat putih dengan hiasan warna emas di beberapa titik seperti ukiran itu. Taman di pinggir pagar yang ditumbuhi pepohonan tidak terlewat oleh sapuan penglihatannya pula. Berulang kali dia memuji Sang Pencipta di dalam hati.
Pintu ruang tamu terbuka. Myria mengajak duduk karena akan mengerjakan tugas di tempat tersebut. Kemudian, dia izin sebentar mengambil laptop di kamar.
Ditinggalkan Myria sendirian, Friska memilih mengamati sekitar. Lagi-lagi dia kagum atas apa yang dilihat.
“Permisi, Nona, mau minum apa?”
__ADS_1
Suara itu membuat Friska berjingkat. Dia langsung memutar badan dan melihat satu wanita dewasa tersenyum ke arahnya.
Friska mendadak gugup. “A, apa, Bu? Eh, Tan? Eh ….”
Melihat Friska kebingungan memanggil, asisten rumah tangga di keluarga Sastra itu makin tersenyum. Dia berujar, “Panggil Bibi saja, Non. Bibi pekerja di sini.”
“Ooh ….” Friska manggut-manggut. Dia ikut menyulam senyuman lebar.
“Jadi mau minum apa, Non?”
“Eum, nggak perlu repot-repot, Bi.”
“Tidak apa, Non. Nyonya berpesan untuk menjamu teman Non Myria. Jadi, Nona bisa sebutkan ingin apa.”
Batin Friska bergejolak. Hidup sahabatnya ternyata seenak itu. Dalam hati, Friska bersyukur dan ikut bahagia melihat Myria tidak terlunta-lunta karena kehilangan keluarga.
“Kalau boleh dan enggak merepotkan, mau es jeruk saja, Bi.”
“Baik, tunggu sebentar.”
Sikap ramah sang bibi diangguki Friska. Dia pandangi wanita itu pergi sampai hilang. Tidak berselang lama, Myria tiba dengan laptop di tangan.
“Maaf, ya, lama,” kata Myria sembari duduk.
“Enggak. Biasa aja. Aku betah, kok, kalau nunggu kamu di sini. Soalnya, tempat ini adem.”
Pintu terbuka dari luar menghentikan tawa Myria dan Friska. Keduanya menoleh berbarengan.
Ternyata, Angkasa baru datang. Pemuda itu muncul dan langsung menghentikan langkah melihat istrinya sudah duduk nyaman di ruang tamu. Dia mendekat, lalu menyodorkan satu paper bag putih ke hadapan Myria. “Ambil ini, titipan Mama.”
Tangan Myria mengulur ke depan dan menerima pemberian. Dia menengok isi paper bag tersebut sembari bergumam, “Kamu dari butik?”
“Mampir bentar.” Angkasa menjawab sembari merobohkan badan ke sofa. Duduknya merosot seperti tidak memiliki tenaga sama sekali. Dia hanya mengemudi motor dan mampir sebentar ke tempat kerja sang ibunda, tetapi sikap yang ditunjukkan seakan-akan baru selesai perjalanan antar Benua.
Myria diam dan tidak bertanya lagi. Dia disibukkan oleh kotak kecil dari dalam paper bag yang ternyata berisi kue, sementara Friska justru memperhatikan Angkasa tanpa berkedip. Padahal, saat di sekolah, Friska jarang melakukan itu.
“Aku ambilin garpu sama piring dulu.”
Suara Myria mengagetkan Friska. Gadis itu mengangguk dan tersenyum.
Angkasa melirik saat Myria hendak pergi. Dia menegakkan punggung, lalu ikut berdiri dan merangkul istrinya saat lewat. Myria sempat kaget dan nyaris menolak, tetapi Angkasa tidak peduli.
Friska di tempat membulatkan mata. Kemudian, dia menghela napas. “Jangan sampek ntar aku jadi obat nyamuk di sini,” gumamnya saat bayangan Angkasa dan Myria hilang sempurna karena sudah masuk ruang tengah.
__ADS_1
“Kamu sengaja, ya?” Kaki tetap melangkah, tetapi mulut disempatkan protes. Myria memasang wajah sedikit cemberut saat mendongak.
Tepat di dekat tangga, Angkasa berhenti sambil terkekeh. Dia jepit pipi Myria dengan ibu jari dan telunjuk karena gemas. “Dikit.” Pemuda itu menjawab dengan enteng tanpa pusing memikirkan perkara Friska.
Bola mata Myria berputar menanggapi omongan Angkasa. Dia lantas menurunkan tangan sang suami dari bahu. “Butuh apa? Aku mau ke dapur? Kamu udah izinin aku belajar kelompok, jadi waktuku sementara buat yang lain.”
Bukan menjawab, Angkasa ganti mencubit pipi. Entah terkena apa cowok itu mendadak bersikap demikian. “Iya, gue tahu. Gue nggak bakal ingkar. Sana, gih! Gue mau ke kamar.”
Dua anak manusia itu berpisah di ruang tengah. Angkasa naik, sedangkan Myria menuju dapur. Namun, belum sampai dapur, Bibi sudah siap-siap antar camilan dan bilang akan membawakan piring dan garpu sesuai keperluan.
Detik jam terus bergerak. Senja hampir menyapa tanpa terasa. Friska dan Myria masih serius berdiskusi. Dua gadis itu sama-sama kompak mencari bahan materi.
“Eh, My, aku tadi denger anak-anak ngomongin Kasa.” Di tengah keseriusan, Friska berceletuk. Dia letakkan pena ke atas buku.
Myria berhenti menggeser kursor, tetapi tidak menoleh dan terus membaca. “Bukannya udah biasa Kasa jadi bahan pembicaraan? Kamu juga tahu sepopuler apa dia.”
“Bukan soal itu tahu, My. Tapi waktu ke toilet tadi, katanya ada yang lihat Kasa hampir aja berantem sama Sakti.”
Berita dari Friska sukses mengalihkan perhatian Myria sepenuhnya. Gadis itu memutar sedikit badan agar lebih enak berbicara. “Siapa yang lihat?”
“Nah, itu, dia. Aku nggak tahu siapa, soalnya aku di dalam toilet. Pas keluar, cewek-cewek itu udah pergi.”
Gradasi wajah Myria berubah. Binar kesenangannya saat mengobrol tadi mulai redup. Pikiran Myria berputar ulang di hari kemarin, tentang sikap Angkasa yang lebih banyak diam sepulang sekolah. Mungkinkah itu penyebab sang suami bad mood sampai berjam-jam?
“My.” Tangan Friska menepuk paha. Dia tidak mengizinkan sahabatnya melamun.
“Oh, ya. Apa?”
“Kasa nggak cerita sama kamu?”
Bahu Myria merosot. Dia menggeleng. “Enggak. Kami jarang ngobrol. Kasa dari awal emang bikin prinsip nggak mau ikut campur urusan aku atau sebaliknya. Jadi, nggak semua hal dijadikan bahan obrolan tiap hari. Kamu lihat aku sama dia kalau di sekolah? Ya, nggak beda jauh, kok, hubungan kami kalau di rumah. Cuma dia nggak sejutek itu.”
Friska menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak paham pernikahan macam apa yang dijalani dua teman kelasnya itu. Biasanya, suami istri akan tahu satu sama lain seluk beluk pasangan, tetapi mengapa Myria tidak?
“Jadi heran. Kalian kenapa nikah, sih?”
“Ya, ibadahlah. Masih nanya kenapa?”
“Tapi cuek-cuekan gini? Mana asyik, My. Jangan-jangan, belum itu juga, ya?”
Dahi Myria langsung berkerut. “Itu apa?”
“Itu, My. Masa nggak tahu? Sini, deh!” Tangan Friska melambai, hingga Myria mendekatkan telinga. Kemudian, Friska berbisik, “Itu, praktik Biologi.”
__ADS_1
.
.