Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 81: Bertemu Tanpa Sengaja


__ADS_3

Keluar dari toko perhiasan dengan membawa paper bag kecil di tangan, Myria masih begitu berat menerima pemberian Angkasa. Beberapa kali napas pelan keluar dari bibirnya yang manis.


“Ka, udah magrib, nih.”


Angkasa berhenti, lalu menarik ponsel dari saku hodie. “Iya. Cari musala terus salat bentar baru makan.”


“Kita nggak makan malam di rumah, Ka?”


“Enggak. Aku udah kirim pesan sama Mama kalau kita main.”


Tak lagi mendebat keputusan Angkasa, Myria menuju musala dan harus segera menjalankan kewajiban.


Selesai dengan urusan ibadah, dua sejoli yang menghabiskan waktu sorenya berdua itu kini pindah tempat lagi. Di lantai empat, tempat di mana area penjual makanan berkumpul, Angkasa mengajak Myria mengisi perut. Cowok itu tadi hampir membelokkan diri ke sebuah restoran yang cukup mewah, tetapi Myria menariknya untuk duduk di tempat lain dan membeli makanan dari stand-stand yang berjajar.


Nasi putih dan ayam goreng menjadi pilihan Myria. Selain tidak pernah rewel soal makanan, gadis itu tidak ingin menghabiskan uang Angkasa lebih banyak lagi. Masa depan keduanya masih panjang, Myria berpikir alangkah baiknya uang ditabung.


“Kita belum mandi udah sampek mana-mana.” Baru saja bokong mendarat di kursi, Myria berceletuk.


Angkasa tertawa menanggapi. “Yang penting masih wangi.”


“Iya, wangi. Kamu kalau pakai parfum sebotol soalnya.”


Gemas dengan ucapan Myria, Angkasa menarik kepala sang istri dan diarahkan padanya seolah-olah hendak melahap. Lagi-lagi Myria hanya tertawa.

__ADS_1


Dua insan itu terus bercanda sembari makan. Sesekali Angkasa menawarkan makanan lain untuk tambahan, tetapi Myria menolak. Namun, akhirnya, cowok itu berdiri setelah nasinya habis. Dia kembali ke salah satu stand penjual es krim.


Saat menunggu Angkasa di kursi duduk, Myria didatangi seseorang. Gadis itu memalingkan wajah dan mendapati dua pria sudah ada di di dekatnya.


“Ayah?” Myria lekas berdiri dan memeluk. Dia mencium tangan dan meminta Tuan Tirta duduk. “Ayah kenapa bisa di sini?”


“Kebetulan ketemu klien. Biasanya Ayah meeting di restoran luar, tapi tidak tahu kenapa klien kali ini meminta di dalam mal. Kamu sendirian, Nak?”


“Enggak, Yah. Aku sama Kasa.” Beberapa pekan telah berlalu dan setiap hari mengobrol melalui pesawat telepon, kini Myria tidak canggung lagi saat berhadapan dengan Tuan Tirta. Dia begitu luwes menguntai kalimat demi kalimat seperti saat menulis.


Mendengar nama itu, kening Tuan Tirta mengerut. Beberapa pertanyaan yang belum sempat ditanyakan kini mencuat ke permukaan. Pria 48 tahun itu tentu heran mengapa putrinya sedekat itu dengan satu pemuda bernama Angkasa.


“Dari kemarin-kemarin, Ayah selalu ingin bertanya padamu. Kenapa kamu terlihat dekat sekali dengan anak muda itu?”


Wajah semringah memudar, Myria menelan ludah susah payah. Gadis berjilbab krem itu lupa menjelaskan siapa sebenarnya Angkasa.


Ponsel Daniel terjatuh dari genggaman mendengar pengakuan Myria. Pria itu ikut kaget seperti Tuan Tirta. Dia mendekati bosnya yang tengah mengusap dada.


“Saya belikan air, Tuan.” Belum disuruh, Daniel segera pergi. Tentu saja dia peka dengan kondisi sang bos yang sangat syok.


Myria mendekat. “Ayah, maaf. Aku selalu lupa mau bilang. Ceritanya juga panjang, nanti kalau Ayah ada waktu mendengarkan, aku janji cerita semuanya.”


“Ceritakan sekarang.” Bukan perkara sepele, tentu saja Tuan Tirta ingin tahu kehidupan Myria selama ini. Pria itu akhirnya bicara pada Daniel agar membatalkan satu pertemuan lagi.

__ADS_1


“Ayah, enggak perlu sampai membatalkan pekerjaan. Aku bisa cerita kapan-kapan, Yah.”


Tuan Tirta menggeleng tidak setuju. “Tidak, Nak. Ayah sudah kehilangan banyak waktu bersamamu. Sekarang Ayah sudah menemukanmu. Ayah tidak ingin menyia-nyiakan ini semua.”


Permintaan Tuan Tirta terkesan tulus, Myria akhirnya setuju dan hendak menjelaskan satu per satu.


Akan tetapi, belum sempat bercerita, Angkasa telah tiba dengan dua cup es krim. Pemuda itu buru-buru menaruh ke meja dan segera menyalami Tuan Tirta serta Daniel. Dia juga melirik Myria seolah bertanya mengapa Tuan Tirta tiba-tiba ada di sana.


“Jadi kamu menantuku, Anak Muda?”


Pertanyaan Tuan Tirta seolah pasir yang menimbun diri hinggga membuat Angkasa sesak. Pemuda itu terbata dalam menjawab, “I–iya, Tuan.” Setelah menjawab, mata Angkasa kembali mengarah pada Myria untuk minta penjelasan. Namun, istrinya hanya melipat bibir dengan sorot mata sendu.


Tuan Tirta menghela napas. Sekali lagi dia meneguk air mineral yang dibelikan Daniel. “Ceritakan semua dari awal agar Ayah paham. Kenapa kalian yang masih sekolah bisa menikah seperti ini? Lalu, selama ini kalian tinggal di mana? Ayah lihat waktu di restoran kemarin, kalian dijemput dengan mobil.”


“Itu, mobil ibu mertua, Yah.” Myria mulai bercerita dari awal hingga akhir kehidupannya bersama Angkasa. Tentang semua perkara yang harus dihadapi selama hidup sendiri.


Tuan Tirta tanpa sadar meneteskan air mata mendengar cerita putrinya. Dia berdiri dan menarik Myria ke pelukan. “Maafkan Ayah, Nak. Maaf. Seharusnya kamu tidak hidup sesusah itu.”


“Ayah, semua udah baik-baik saja. Ada Kasa yang selalu bantu aku.” Masih di pelukan Tuan Tirta, Myria mendongak. Dia tersenyum dan menenggelamkan diri kembali. “Ayah enggak perlu khawatir. Aku udah nggak sedih lagi sekarang.”


Pria dengan jas rapi itu mengusap kepala putrinya. Tuan Tirta ingin memutar waktu andai bisa agar bisa membahagiakan Myria dan almarhumah Nyonya Kinara. “Kapan-kapan, bawa Ayah menemui kedua orang tua Angkasa ini.”


.

__ADS_1


.


......................


__ADS_2