Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 60: Misi Merusak Myria


__ADS_3

“Bangun lo!”


Cipratan air mengenai muka serta separuh tubuh Myria dan Friska. Dua gadis itu tak sadarkan diri sejak tadi hingga kini. Keduanya duduk di lantai dengan dua tangan terikat, sementara mulut sudah ditempel lakban hitam.


Gadis muda berparas cantik bak seorang putri sedang berdiri tegap di hadapan Myria dan Friska. Dia sudah menghabiskan satu ember penuh air dingin untuk menyiram dua sahabat itu. Namun, efek bius yang menghilangkan kesadaran Myria serta Friska tak kunjung hilang.


Geram karena tindakannya tidak berefek, gadis itu membanting gayung dari tangan ke lantai. “Lama banget bangunnya ini cewek? Nggak sekalian mampus aja kalian!” Suara itu menggema ke seluruh penjuru ruang. Gedung bekas yang tak terpakai menjadi tempat penyekapan Myria dan Friska.


Debu berterbangan setiap kaki menggesek lantai, sarang laba-laba dan lumut menghias dinding yang telah berubah warna, daun pintu tak terpasang lagi membuat gedung itu terkesan menyeramkan. Namun, para pria yang membawa Friska dan Myria sengaja membawa kedua gadis itu agar tidak diketahui siapa pun.


“Kemari kalian semua!”


Perintah itu membuat enam pria yang menculik Friska dan Myria datang. Sejak tadi, mereka hanya diam dan berdiri mengelilingi sembari menunggu komando selanjutnya.  “Ya, Nona.” Salah satu dari mereka menjawab.


“Gue mau balik dari sini. Capek nunggu mereka bangun. Kalian semua pada nggak ngotak waktu ngasih obat sampek gini modelnya.”


Semua pria suruhan itu saling pandang menyalahkan. Siku mereka menyenggol satu dan lainnya hingga membuat sang nona jengah.


Amplop cokelat tersodor sehingga menghentikan pertikaian kecil di antara para pria seperti preman itu. Gadis yang menyuruh mereka berkata, “Ambil bayaran kalian. Sisanya setelah tugas dari gue kelar. Jangan lupa lakuin sesuai perintah atau nggak bakal gue bayar sisanya.”

__ADS_1


Satu dari enam preman berbaju hitam itu mengambil uang dari tangan orang di depannya. “Thanks, Nona Erika.”


Erika mendecih. Dia melempar tatapan sinis. “Gue tunggu rekaman dari kalian semua. Awas aja hasil nggak bagus! Pokoknya muka dua cewek ini harus kelihatan jelas.”


Pria yang berambut merah menanggapi dengan senyum miring. “Siap, Nona. Pasti hasilnya akan sesuai kemauanmu.”


Sebelum benar-benar meninggalkan gedung terbengkalai itu, Erika menyempatkan diri melihat Myria sekali lagi. Dia membungkuk, lalu mencengkeram dagu Myria hingga kuku-kukunya menusuk kulit dan meninggalkan luka. “Habis lo kali ini. Biar Kasa tahu kalau cewek yang dipuji-puji karena pinter jaga penampilan, yang katanya nggak mudah sembarang cowok lihat, tapi malah gampang banget dinikmati.”


Dihempaskannya wajah Myria hingga membentur kepala Friska yang ada di belakang, kemudian Erika pergi setelah mengibas rambut dan merapikan pakaian.


Enam pria yang jadi suruhan hanya mampu menelan air liurnya kembali kala hampir menetes setiap melihat gerakan Erika. Andai bisa, mereka akan memilih tidur bersama gadis yang menyuruh itu daripada dua gadis yang disekap saat ini.


“Nggak pa-pa, Bray. Dua cewek ini juga nggak kalah manis. Cuma kalah poles aja mereka. Yang penting, kan, rasa tubuhnya, bukan tampang kalau soal itu.” Teman pria berambut merah menepuk bahu dengan kuat, lantas ucapannya itu ditanggapi dengan tawa jahat yang lain.


“Lama banget ini cewek-cewek bangun. Kalau kita lakuin sekarang, sebenarnya justru enak nggak bakal ngelawan, ya?” celetuk salah satu preman.


Pria berambut merah yang jadi bos enam preman itu mendorong kepala anggotanya. “Bego! Lo nggak denger kemauan Non Erika nunggu dua cewek-cewek ini sadar? Lagian, kalau gini nggak enak, Bray. Kurang nikmat sensasinya.”


Tawa yang saling bersahutan kembali menggema. Enam pria itu merasa dapat hal enak secara beruntun. Ibarat kata, satu dayung dua tiga pulau terlampaui karena dapat uang sekaligus dapat perawan.

__ADS_1


Di luar gedung, tepat di bawah kosen jendela kayu yang telah lapuk, seorang pemuda terus bersembunyi sejak tadi. Jantungnya berdebar kuat tiada henti karena takut dan gelisah. Dia yang tak sengaja memergoki Myria dan Friska dibawa sekelompok orang saat di dekat halte sekolah, langsung tancap gas dan memacu motor secepat mungkin mengikuti. Meski sadar tak punya kemampuan, tetapi dia tak ingin kehilangan jejak.


“Ka, lo susah banget dihubungi.” Tangan sibuk merekam apa yang ada di dalam, sementara mulut terus berdoa agar teman sebangkunya itu segera merespons pesan yang dikirim. Pemuda itu sudah meneror Angkasa dengan banyak pesan bahkan telepon sejak tadi, tetapi tak ada yang dibalas satu pun.


“Ya, Allah, Ka. Gue nggak bisa tawuran, kalau nekad yang ada kalah.” Kembali dia bergumam. Kondisi memang mendesak, tetapi tak mampu melakukan apa pun. Andai dia pergi untuk meminta bantuan orang lain, belum tentu segera dapat karena lokasi jauh dari pemukiman. Tak hanya itu yang jadi pikiran, melainkan keselamatan Myria dan Friska apa akan tetap aman selama ditinggal.


Teman sebangku Angkasa itu benar-benar pusing. Akan tetapi, hanya diam dan menunggu bantuan juga membuatnya merasa tidak berguna.


Di sekolah, wali kelas telah memasuki ruangan dan mulai menyalakan proyektor. Beberapa data siswa akan dibacakan secara langsung di depan wali murid. Angkasa ternyata ada di depan kelas bersama beberapa siswa yang sama-sama penasaran akan hasil ujian mereka. Cowok itu sampai mengabaikan ponsel setelah memberi izin pada Myria untuk ke rumah Friska.


Saat satu teman kelas yang ada di sebelah membuka ponsel, Angkasa baru sadar bahwa istrinya telah cukup lama pergi. Sudah seharusnya Myria sampai di rumah Friska.


“Jangan-jangan Myria ng-chat gue dari tadi,” kata Angkasa dengan lirih. Dia buru-buru merogoh saku dan mencari ponsel.


Pemuda itu sengaja mengheningkan ponselnya setiap berada di sekolah. Hanya sesekali mengecek saat dirasa senggang. Saat benda pipih berukuran enam inci terangkat, layar menyala dan menampilkan bilah notifikasi penuh akan tumpukan panggilan tak terjawab serta puluhan pesan baru.


Angkasa mengusap layar, lalu membuka kunci dan segera membaca pesan masuk yang ternyata berasal dari teman sebangku. Sepasang mata itu terbuka lebar, dia langsung berlari tanpa peduli menimbulkan kegaduhan dan mengundang perhatian para wali murid yang ada di sepanjang kelas. Pemuda itu berlari ke parkiran sambil menekan nomor temannya untuk bertanya kabar.


Di waktu yang sama, kala panggilan Angkasa masuk ke ponsel, pemuda yang masih merekam itu kontan berjingkat. Ponselnya terjatuh saking kagetnya hingga menyadarkan orang-orang yang ada di dalam.

__ADS_1


“Woi! Siapa itu!” Beberapa pasang mata langsung tertuju ke sumber suara. Mereka melotot sangar saat tahu ada orang lain yang diam-diam mengintip.


Segera pergi adalah pilihan. Teman sebangku Angkasa itu menyahut ponsel dari tanah dan berlari tak tentu arah. Dia harus cari tempat aman agar selamat.


__ADS_2