
Nyonya Nasita datang tergopoh-gopoh masuk ruang IGD. Selesai mengambil raport putranya, beliau dapat kabar mengejutkan dari Myria. Sontak, wanita itu langsung menangis di tempat.
Sang sopir yang melihat majikannya menangis, buru-buru menghampiri dan bertanya. Pria berseragam cokelat tua itu segera mengantar Nyonya Nasita ke rumah sakit, lalu mengabari Tuan Aji.
“Myria.”
Myria menoleh. Dia masih berdiri di dekat brankar menemani sang suami bersama teman lain. Gadis itu lekas berlari menghampiri saat tahu ibu mertuanya datang. Sampai di depan Nyonya Nasita, Myria langsung menghambur ke pelukan.
“Bunda, maafin Myria, Bun.” Tangis Myria pecah kembali. Dia merasa bersalah atas apa yang menimpa Angkasa. Gadis itu pikir, andai Angkasa tidak menolong, kejadian seperti ini tidak akan terjadi.
Nyonya Nasita yang masih kaget atas kabar putranya, tetap diam tanpa menanggapi omongan Myria. Wanita itu melerai peluk, lalu menangkup pipi si menantu. “Kamu baik-baik saja, Sayang?”
“Myria baik-baik aja, Bun. Tapi, Kasa ….”
Dihapuskannya lelehan air mata di pipi Myria, Nyonya Nasita berusaha mengontrol diri. Andai kesedihannya terus dituruti, kemungkinan kecemasan wanita itu akan kambuh. “Mama mau lihat Kasa.”
Myria mengangguk. Di dalam pelukan Nyonya Nasita, dia berjalan menuju brankar.
Semua siswa yang masih di sana menyingkir untuk memberi jalan ketika ibu temannya tiba. Mereka saling menyapa dan memberi salam pada Nyonya Nasita.
Nyonya Nasita sendiri menyempatkan diri tersenyum sedikit untuk menanggapi dan baru mendekati Angkasa yang tergolek lemah.
“Ma, apa aku dapat juara kali ini?” Agak lain memang tanggapan Angkasa atas kedatangan ibunya. Dalam kondisi tak berdaya pun, masih sempat memikirkan perkara nilai. Sebenarnya, bukan tanpa alasan pemuda itu begitu peduli atas prestasi kali ini, Angkasa memang menunggu-nunggu momen di mana Nyonya Nasita memberinya kebebasan meski sebentar.
“Kamu itu sakit, masih sempat bertanya soal juara? Jangan pikirkan itu.”
Angkasa menatap ibunya tanpa rasa bersalah. Dia lantas mengangkat tangan kanan dan menyeka air mata di pipi Nyonya Nasita. “Aku baik-baik aja, Ma. Jadi gimana nilai semesterku kali ini?”
__ADS_1
Sang anak yang keras kepala membuat Nyonya Nasita jengah. Ibu dua anak itu mundur dan menegakkan badan. “Bukan kamu yang juara satu. Peringkat pertama tetap Myria.”
Semua mata beralih menatap Myria, bahkan Friska yang ada di sampingnya. Friska merangkul dan mengucap selamat, lalu diikuti teman-teman yang cowok.
Bibir Angkasa mengatup. Dia beradu pandang dengan Myria, lalu kembali menatap Nyonya Nasita. Tidak ada yang keluar lagi dari mulut setelah itu. Meski ada kekecewaan tersirat melalui sorot mata, tetapi Angkasa tak mungkin marah pada istri sendiri lantaran berebut prestasi.
“Mama urus pendaftaran kamu sebentar agar segera dapat penanganan lanjutan. Lukamu sampai seperti ini, kamu buat Mama takut.”
Urusan administrasi selesai. Tidak menunggu lama, Angkasa dibawa para perawat untuk pindah ke kamar operasi. Myria dan Nyonya Nasita membuntuti karena akan menunggu di depan ruangan, sementara teman-teman yang lain pamit pulang, termasuk Friska. Gadis itu pasti sudah ditunggu ibunya dengan khawatir.
Ibu Friska hampir menyusul, tetapi Friska melarang dan mengatakan baik-baik saja karena sudah dapat pengecekan medis bersama Myria tadi.
Hampir dua jam operasi berjalan, Angkasa baru keluar dalam kondisi setengah sadar. Pemuda itu membuka mata, tetapi tidak bicara apa pun saat dihampiri Myria dan Nyonya Nasita. Dokter bilang efek bius belum hilang sepenuhnya sehingga Angkasa tak bisa banyak memberi respons.
Ruang inap VIP menjadi tempat Angkasa tinggal setelah keluar dari ruang operasi. Kamar itu yang akan dipakai selama perawatan beberapa hari ke depan. Sesuai anjuran dokter, Nyonya Nasita akan melakukan yang terbaik demi keselamatan sang anak.
Myria menggeleng. Dia menyentuh jemari tangan kiri Angkasa yang tak terpasang infus. “Aku bakal nunggu kamu terus selama di sini. Kita udah libur, jadi nggak pa-pa nggak belajar. Biar Bunda aja yang nanti pulang bareng Papa.”
“Tapi kamu capek. Aku yang nggak tega. Lagian di sini ada suster, kalau butuh apa-apa aku tinggal tekan bel. Pulang aja sama Mama sana.”
Myria tetap menggeleng. Mana mungkin dia di rumah sementara suaminya di rumah sakit. Meski Angkasa kuat berjalan ke mana-mana, bahkan ke kamar mandi pun bisa sendiri, tetap saja gadis itu ingin tinggal.
Pintu ruangan terbuka, Nyonya Nasita masuk bersama sang suami. Dua orang tua itu baru saja dari luar mencari makan karena Angkasa merasa tak cocok dengan menu makanan dari rumah sakit.
“Mandi, Nak. Mama belikan kamu baju.” Satu paper bag putih diarahkan Nyonya Nasita pada Myria. Selain membeli makan dan stok buah, wanita itu tidak melupakan kebutuhan sang menantu.
Myria menurut dan segera beranjak. Dia pamit pada Angkasa sebentar untuk membersihkan diri. Tidak memungkiri, kondisi gudang yang penuh debu dan kotoran lain membuat tubuh dan rambut terasa gatal.
__ADS_1
“Ma ….” Angkasa memanggil saat tahu pintu kamar mandi tertutup sempurna. Dia mengulurkan tangan, lalu ibunya mendekat. “Gimana soal izinku ke Jepang?”
“Papa tidak mengizinkanmu, Kasa.” Bukan Nyonya Nasita yang menjawab, tetapi Tuan Aji menyela. Pria yang masih mengenakan setelan jas lengkap itu turut bergabung. “Dokter bilang lukamu terlalu dalam dan panjang. Hampir separuh tanganmu terluka, penyembuhan ini mungkin tidak cukup hanya dua pekan. Jadi, kamu tidak akan bisa ke mana-mana.”
Ingin Angkasa protes, tetapi apa mau dikata. Tuang Aji pencetus keputusan dalam keluarga, selalu dan akan tetap kalah apa pun penyanggkahan dilayangkan Angkasa pada beliau.
“Ma ….” Mode manja, Angkasa siap merengek dan minta pertimbangan. Hanya Nyonya Nasita satu-satunya kelemahan Tuan Aji jika menyangkut keputusan.
“Tidak, Kasa. Mama tidak akan menuruti permintaan liburanmu ke Jepang.”
“Aku juga enggak mau, Kasa.” Myria menyahut. Dia baru keluar dari kamar mandi dan mengusak rambutnya yang basah. Gadis itu mendekat ke bed pasien, lalu berkata pelan dan hati-hati agar Angkasa paham, “kita bisa nikmati liburan di rumah aja. Sama-sama seru, kok, kalau ada temennya.”
Usul Myria membuat Angkasa makin terpojok. Tidak ada yang sependapat lagi dengannya. Pemuda itu mendengkus dan berakhir memasang wajah cemberut.
Di sisi lain, keluarga Erika dibuat tercengang atas kedatangan dua orang polisi. Asisten rumah tangga yang membukakan pintu dan langsung memberi tahu sang majikan.
Kebetulan sekali ibunda Erika ada di rumah. Dua mata beliau langsung terbelalak saat membaca surat panggilan dari kepolisian untuk anaknya.
“Tidak mungkin, Pak. Anak saya itu masih kecil.” Sanggahan terucap dari mulut diikuti gelengan kepala. Ibunda Erika bahkan hampir merobek kertas di tangannya.
“Maaf, Ibu, kami hanya menjelaskan tugas. Laporan lengkap, silakan Nona Erika menjelaskan di kantor kepolisian.”
“Enggak, Pak. Saya nggak salah.” Erika nyaris kabur, tetapi polisi dengan sigap menangkap lengan kanan dan kiri. Gadis itu diseret paksa masuk mobil.
Teriakan menggema di ruang tamu, raungan tangis seorang ibu memenuhi setiap sudut ruang saat melihat dengan mata kepala sendiri anaknya digelandang polisi.
“Bi, cepat telepon Tuan dan minta segera pulang!” teriak wanita itu dengan posisi bersimpuh di lantai.
__ADS_1