
Nyonya Nasita menutup lembaran kertas yang baru saja selesai dibaca. Ibu dua anak itu memandangi putranya dengan saksama. Beliau menarik napas sebelum bicara. “Mama tidak menyangka kamu kecolongan seperti ini, Ka.”
“Ma, di sekolah aku emang jarang interaksi sama Myria. Dia sendiri yang minta.”
“Tapi ini sudah keterlaluan. Ingat tanggung jawabmu di akhirat, Myria akan menuntutmu kalau dia merasa terzalimi.”
Angkasa menunduk pasrah. Sang mama justru marah padanya perkara nasib Myria. Dia tadi berniat cerita untuk meminta solusi karena bingung mengatasi Myria seorang diri, tetapi respons Nyonya Nasita di luar dugaan. “Aku udah ngaku salah dan minta maaf sama Myria, Ma,” kata Angkasa dengan nada penuh sesal.
“Mulut pria adalah godaan bagi perempuan karena lihai menguntai kata-kata manis berisi pujian, janji dan rayuan. Tapi tidak semua yang terucap dari mulutnya itu jadi nyata. Mama tidak ingin punya anak laki-laki mengandalkan kelebihan bicaranya untuk mengobral janji palsu, Kasa. Tapi lebih banyaklah beri bukti dengan tindakan.”
Kalah. Angkasa selalu kalah terhadap dua orang tuanya. Baik Tuan Aji maupun Nyonya Nasita yang memberi pertanyaan atau perintah, mana pernah dia bisa mengelak.
“Sekali lagi, aku minta maaf, Ma. Aku mohon, kali ini bantu aku.”
“Papa akan ikut menyalahkanmu kalau tahu soal ini.”
“Ma ….”
“Sudahlah. Mama akan bicara pelan-pelan pada Papa soal kemauan Myria. Tapi, pindah sekolah saat seperti ini, mungkin tidak bisa.” Tak ada guna mendebat putranya, Nyonya Nasita mengambil tindakan. “Di mana Myria sekarang?”
“Masih di kamar. Ini aku turun mau ambil makan sama nyerahin undangan BK itu tadi ke Mama.”
__ADS_1
“Kamu di sini saja.” Nyonya Nasita siap beranjak. Dia lipat dahulu undangan di tangan, lalu menyerahkan kembali pada Angkasa. “Biar Mama yang antar makanannya. Kamu di sini, tidak perlu khawatir. Myria mungkin tidak tenang melihatmu.”
Kembali patuh adalah pilihan terbaik menurut Angkasa. Menyerahkan pada sang mama perkara masalah yang terjadi antara Myria dan dirinya mungkin itu opsi terbaik. Sejak siang tadi saat dia yang menemani, Myria tetap murung dan tidak banyak bicara. Istrinya itu hanya melamun, tetapi sesekali tanpa penjelasan tiba-tiba air mata menetes tanpa henti. Angkasa bingung, dia hanya menghapus air mata di pipi dengan tisu lalu memberi pelukan tanpa berkata apa pun.
Nyonya Nasita mulai menapaki anak tangga dan menuju kamar putranya. Beliau membawa satu nampan berisi makanan lengkap dan minum. Dia memanggil menantunya dari luar tanpa berani membuka pintu sebelum ada sahutan.
“Boleh Mama masuk, Sayang?” Nyonya Nasita bertanya saat dapat jawaban dari dalam. Tidak berselang lama, pintu terbuka dan menampakkan wajah Myria. Menantu satu-satunya itu menunduk. Myria pasti tidak mengira jika Nyonya Nasita sampai datang ke kamar.
“Kamu tidak turun? Mama bawakan makanan ini kemari.”
Myria kira Angkasa yang akan membawakan makanan seperti siang tadi. Namun, ternyata justru ibu mertua. Andai tahu seperti itu, dia lebih baik turun dan makan bersama agar tidak merepotkan. “Maaf, Bun. Myria kurang enak badan.”
“Tidak pa-pa, Sayang.” Nampan pindah ke meja dengan pelan. Nyonya Nasita mengulas senyum dan mendekati Myria. Beliau tidak bertanya langsung perihal perundungan yang dialami, tetapi menyempatkan diri untuk mengobrol santai.
Myria mengangguk. Dia melangkah pelan. Wajahnya terus menunduk dengan tangan saling menaut dan meremas kuku-kuku sendiri.
“Perlu Mama suapi?”
Wajah Myria terangkat untuk membalas tatapan Nyonya Nasita. Kemudian, dia menggeleng. “Myria makan sendiri, Bunda.”
“Ya, baiklah. Mama hanya ingin mengobrol denganmu.”
__ADS_1
“Sekarang, makanlah.” Semangkuk sup didekatkan ke piring nasi yang tersedia. Myria lantas menerima pemberian Nyonya Nasita itu dan mengucap terima kasih.
Gadis berpiyama biru muda itu menyuap makanan perlahan. Meski sebenarnya tidak terlalu berselera mengisi perut, tetapi dia masih mampu berpikir jernih untuk menghargai orang lain.
Nyonya Nasita setia menemani dan menaruh perhatian. Sesekali, beliau mengelus rambut Myria yang terikat. “Rambutmu cantik, Nak. Kapan-kapan, ikut Mama perawatan di salon.”
Tangan Myria berhenti sebentar. Dia menoleh, tetapi tak bisa bicara karena mulut masih terisi makanan.
“Tenang saja, salon muslimah banyak di sini. Jadi, kita tetap aman.”
Makanan telah melewati tenggorokan, Myria baru menyahut, “Myria enggak butuh itu, Bunda. Sudah bisa tinggal di sini, sudah berterima kasih banyak, kok.”
“Sstt, jangan terus menganggap dirimu orang lain. Kamu sekarang juga anak Mama. Fasilitas apa yang didapat Kasa, kamu juga boleh mendapatkannya. Dengan catatan, itu tidak melanggar fitrahmu sebagai perempuan.”
Bibir Myria mengatup. Matanya mendadak perih dan langsung mengembun. Memiliki ibu mertua sebaik Nyonya Nasita adalah salah satu titipan terindah setelah ibu kandungnya diambil. Maka dari itu, sudah sepatutnya Myria merasa sangat bersyukur dan tidak meminta aneh-aneh.
Gadis itu buru-buru meletakkan piring kembali ke meja dan ganti memeluk Nyonya Nasita tanpa permisi. “Bunda ….” Tangis Myria kembali pecah. Perundungan dari Erika yang terjadi kali ini benar-benar memukul kesehatan jiwa. Sehari penuh, hal yang ingin dilakukan Myria hanya menangis tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Salat dan membaca Al-Quran sudah dikerjakan dengan harapan dapat ketenangan, tetapi memang tidak semua hasil itu instan.
Hati ngilu mendengar Myria terisak begitu dalam. Nyonya Nasita mendongak dan berkedip secara cepat agar air mata tidak jatuh ke pipi. Tangannya setia mengusap punggung Myria dengan lembut. “Ada Mama di sini, Nak.”
.
__ADS_1
.
......................