Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 27: Erika Bukan Manusia


__ADS_3

“Myria!” Teriakan Erika mengagetkan dua gadis yang ada di kelas. Myria dan Friska langsung mendongak.


“Ada apa?” Nada tenang masih bisa Myria ucapkan untuk menyambut Erika. Dia memang tidak terbiasa menaruh curiga pada orang tanpa alasan.


Berberda dari Myria yang sabar, Friska sudah melangkah maju untuk menghadapi Erika. Namun, belum sampai menjangkau target, tangan Friska sudah lebih dahulu ditarik Risti.


“Apa-apan ini? Lepasin!” Friska memberontak saat Risti menyeretnya keluar dengan susah payah.


Melihat Friska diperlakukan demikian, Myria hendak menyusul. Akan tetapi, tangannya dicengkeram oleh Erika. Dia menoleh bingung. “Kenapa, Rik?”


“Gue perlu ngomong sama lo!” TIdak ada kesan ramah dan bersahabat dari Erika. Dia menatap penuh kebencian pada Myria. Dengan satu tarikan kuat, gadis itu mendudukkan Myria ke bangku, sementara dirinya berdiri sembari berkacak pinggang. “Apa maksud lo tadi pagi berangkat bareng Kasa?”


Mata bulat Myria makin membulat. Dia akui, pagi tadi adalah salah satu kesalahan yang dilakukan karena tidak turun secara terpisah dari suaminya. Nyonya Nasita memang melarang, alhasil gadis itu tidak turun lebih dahulu daripada Angkasa.


“Jawab! Lo nggak denger?” Lagi-lagi suara Erika menggelegar. Dia sedang dikuasai amarah karena api kecemburuan.


Myria menggeleng. “Cuma kebetulan, Kasa ngasih tumpangan. Nggak lebih dari itu.”


Tidak puas dengan jawaban Myria, Erika tersenyum masam. Dia tiba-tiba menjambak jilbab hingga membuat Myria berteriak. “Lo pikir gue bego? Alasan lo selalu sama kalau gue nanya!” Erika berkata begitu lantang di depan wajah. Tatapannya setajam mata pisau usai diasah dan siap melukai siapa saja yang menyentuh. “Lo ada hubungan apa sama Angkasa?”


“Lepas, Rik!” Tangan mungil Myria memukul lengan Erika. Dia berusaha bebas, tetapi yang ada cengkeraman Erika makin menyakitkan.


“Enak aja. Gue nggak bakal lepasin lo kalau belum dapat jawaban.”


Myria sampai meringis kesakitan. Dia memang tidak bar-bar seperti Friska. Sahabat satu-satunya itu berhasil dikurung Risti di kelas sebelah dan tinggal dirinya seorang yang harus pandai mempertahankan diri.


“Lo bisu? Jawab!” Erika gelap mata. Seluruh hatinya diselimuti amarah mahahebat dan ingin dilampiaskan pada Myria.

__ADS_1


“Woi, lepasin sahabat gue!” Suara Friska dari kelas sebelah sampai terdengar. Ada pintu penghubung antar kelas yang sering dibuka waktu ujian semester. Namun, sayangnya, ketika hari-hari biasa pintu itu terkunci.


Gadis itu terus menggedor pintu penghubung tiada lelah karena pintu utama terkunci dari luar. Risti pelakunya. Sahabat Erika itu mengunci dengan memberi ganjal pada pegangan pintu sehingga tidak bisa dibuka selain dari depan.


“Abaikan, Rik,” kata Risti dengan santai. Dia berdiri di belakang sembari menyaksikan sahabatnya memberi pelajaran pada Myria. Risti begitu bangga atas perundungan yang dilakukan Erika.


“Huh! Lo lihat, My? Lo lihat sahabat lo yang biasa jadi pahlawan itu, sekarang nggak bisa bantu. Jadi, apa susahnya lo tinggal jawab pertanyaan gue.”


“Ak–aku beneran nggak ada apa-apa sama Angkasa.” Suara Myria putus-putus. Dia kesusahan bicara karena menahan sakit dari kepala dan lehernya mulai tercekik akibat jilbab yang tertarik ke belakang.


Erika mendecih. Dia menatap jijik dan memanggil Risti mendekat. Sahabatnya itu datang, lalu menyodorkan sekaleng minuman ringan.


“Bukain!” Erika memerintah dengan senyum menyeringai. Dia ulurkan satu tangan ke belakang untuk menerima pemberian. “Gue kasih kesempatan sekali lagi buat ngaku sebelum soda ini gue siram ke muka lo!”


Myria memberontak. Dua tangannya memukul-mukul lengan Erika lagi. Namun, yang ada justru Risti maju dan memiting dari belakang. Alhasil, pergerakan Myria makin sulit dan terbatas.


“Kelamaan lo jawab, males gue!” Secara brutal, Erika menyiram sekaleng soda ke wajah Myria. Tanpa melepas jambakan dari kepala, dia ganti membongkar tas dan mengeluarkan barang-barang lain. Ada saus dan kecap yang masih utuh masing-masing satu botol, lalu dia menumpahkan seluruh isinya ke wajah Myria secara kesetanan.


Puas dengan pembalasan yang diberikan, Erika tertawa. “Inget ya, Myria. Kalau lo punya nyali deketin Kasa, paling nggak mikir siapa gue dan siapa lo. Lagian cewek miskin, yatim piatu kayak lo itu nggak pantes sama Kasa. Bisa sekolah aja, harusnya lo udah bersyukur. Jadi nggak perlu banyak gaya! Gue bisa lakuin lebih dari ini kalau lo masih ngeyel!” Bahu Myria didorong Erika. Dia dan Risti keluar kelas tanpa peduli keberadaan Friska yang masih terkunci.


Kepergian Erika menyisakan luka, Myria tergugu sendirian. Bahunya bergetar hebat dengan satu tangan meraih ujung jilbab untuk membersihkan wajah. Setelah merasa matanya bisa melihat, Myria beranjak dan membukakan pintu untuk Friska.


“Myria!” Friska histeris. Dia buru-buru membawa sahabatnya ke toilet. Air matanya ikut luruh melihat kondisi sahabatnya sangat kacau.


“Maafin aku, My.” Friska menunggu sembari menyesali apa yang telah terjadi. Dia merasa gagal jadi sahabat kali ini.


Hampir lima belas menit Myria di dalam. Dia baru keluar dengan wajah basah dan jilbab tidak berupa, penuh noda dari atas sampai bawah karena dipakai untuk menyeka. Friska yang melihat itu menggeram kesal.

__ADS_1


“Emang Erika itu bukan manusia. Kita harus aduin ini ke BK, My.”


Myria terdiam. Dia sulit berpikir dalam suasana hati yang kalut. Menghadapi Erika mungkin tidak segampang itu selesai, bisa saja Erika nekad dan melakukan hal lebih gila lagi.


“Aku ingin pulang.” Tak ada tanggapan bagi Friska. Myria memutuskan untuk pulang ke rumah dan menenangkan diri dahulu. Perkara apa pun yang menimpa dirinya, memang menjadi risiko karena memiliki suami seperti Angkasa. Mungkin masih beruntung hanya Erika yang mendendam, tetapi kala status hubungannya terungkap ke satu sekolah, bisa saja adik-adik kelas pengagum Angkasa ikut menyerang.


Sekolah ditinggalkan dua gadis tadi. Selama berjalan keluar, tidak ada pembicaraan apa pun. Friska sengaja diam agar Myria bisa tenang sedikit. Lagi pula, mood sahabatnya itu pasti sudah tidak karuan.


“Apa nggak sebaiknya kamu ganti jilbab dulu, My? Gimana kalau ke rumahku dulu pakai jilbabku.”


Perkataan Friska ada benarnya. Myria tidak mungkin pulang ke kediaman Angkasa dengan rupa semenyedihkan itu. Pertanyaan beruntun pasti akan di dapat dari orang rumah.


“Aku ada cukup uang, kita beli jilbab di toko sekitar sini aja. Biar nggak dilihatin penumpang angkutan juga.” Setelah beberapa menit bungkam, mulut Myria akhirnya mengeluarkan kata-kata. Dia melangkah lagi mencari toko selepas dapat persetujuan dari Friska.


***


Jam digital di ponsel menampilkan angka 4.45. Sesore itu Myria baru sampai dibanding Angkasa yang lebih dahulu tiba hampir satu jam lalu. Dia bergegas ke kamar dan beruntung sekali tidak berpapasan dengan ibu mertua.


“Baru pulang lo?” Angkasa yang sibuk di meja belajar memutar kursi. Dia hendak menghampiri, tetapi Myria lebih dulu menghindar.


“Aku belum salat, mau mandi dulu,” kata Myria tanpa menatap Angkasa. Tangan dan matanya sibuk menaruh tas ke kursi belajar, lantas ke kamar mandi tanpa bicara lagi.


Angkasa membatu di tempat. Dia pandangi punggung istrinya sampai hilang. “Biarinlah,” katanya dengan bahu mengedik tak acuh.


Bersih-bersih dan salat usai, Myria berdoa cukup lama. Dia lupakan Angkasa yang ada di satu ruangan karena terlalu khusyu.


“Kasa.”

__ADS_1


“Ya?” Dihentikannya aktivitas memahami materi pelajaran, Angkasa memutar kursi kembali dan menghadap Myria yang masih melipat sajadah.


“Aku ingin pisah kamar. Boleh aku bilang sama Bunda malam ini?”


__ADS_2