
“Baru juga Mama mau manggil kamu, Ka.”
“Nggak perlu, Ma. Aku udah selesai bicara sama Papa.” Cowok berbaju putih itu memberi senyuman manis pada Nyonya Nasita. Ibunya sampai heran sendiri atas kelakuan yang diperbuat.
“Ya, sudah. Mama tinggal, yang akur kalian.”
“Beres, Ma.” Kali ini, ganti cengiran lebar diberikan Angkasa. Sungguh, pemuda itu berbeda sekali dengan tampangnya di sekolah yang terkesan dingin dan cuek layaknya bongkahan es.
Nyonya Nasita memutar badan menghadap Myria. “My, Mama tinggal, ya?”
“Ah!” Myria tersentak. Sedari tadi dia tidak fokus. “Iya, Bunda.”
Angkasa menahan tawa melihat respons Myria. Baginya, teman yang kini jadi istrinya itu terlihat lucu. Tidak diapa apakan, tetapi gelagapan sendiri.
Pintu tertutup setelah Nyonya Nasita benar-benar keluar. Angkasa mendekati ranjang dengan langkah pelan. Dia sengaja bertingkah demikian untuk menggoda Myria. Padahal, tanpa diungkapkan, dia tahu jika istrinya masih gugup.
Kasur empuk mencipta gelombang kala Angkasa mendaratkan diri. Dia duduk di samping Myria dan tidak bicara apa pun. Dua matanya melirik ke samping sedikit dan masih menahan senyum.
Myria bergeser ke samping, lalu diikuti Angkasa. Dia bergeser kembali dan lagi-lagi Angkasa mengikuti. Posisi yang awalnya ada di tengah, kini sudah sampai di ujung dan akan jatuh ke lantai andai Myria memaksakan diri bergeser lagi. Mau tidak mau, dia diam.
“Kasa, menjauh sedikit dariku,” kata Myria pada akhirnya karena tak tahan lagi dipepet terus menerus. Jantungnya sedari tadi tidak beristirahat memompa darah lebih deras karena perasaan tak tenang. Lantas, kini terus dipaksa menghadapi tingkah aneh yang ditunjukkan Angkasa.
Cowok dengan rambut hitam bercat kecokelatan bagian ujung itu diam. Angkasa sedang pura-pura tuli dan tidak mau melakukan permintaan Myria. Pahanya makin merapat, sementara tangan bisa kapan saja mendekap.
“Kasa.” Panggilan diulang Myria.
Angkasa menoleh, tetapi Myria justru memalingkan wajah dan menunduk. Cowok satu itu menyeringai, lalu mengangkat tangan dan bergerak menuju punggung Myria.
“Aaaa!” Tiba-tiba Myria berteriak kencang dan berlari. Sontak, Angkasa kaget dan langsung berdiri.
“Myria, kenapa?” Angkasa celingukan. Dia cari seekor hewan atau benda apa pun yang membuat istrinya ketakutan. Selimut yang awalnya tertata sampai disibak Angkasa ke tengah kasur. Akan tetapi, dia tidak menemukan apa pun. “Enggak ada apa-apa. Kamar ini bersih, nggak mungkin, kan, ada kecoak atau tikus?”
“Memang nggak ada.” Myria menjawab dari sudut kamar. Dia masih berdiri di samping tembok dan membiarkan Angkasa kebingungan dalam waktu beberapa menit.
“Hah? Terus ngapain lo teriak-teriak?” Setelah ngos-ngosan, ternyata jawaban Myria sangat di luar dugaan.
“Eum, aku ….” Myria meremas kembali ujung jilbabnya. Bibir bawahnya digigit pelan, sementara bola matanya terus berputar.
“Lo kenapa?”
“Aku nggak mau dipeluk kamu.”
__ADS_1
“Hah? Njir! Siapa juga yang mau meluk elo?”
“Kasa, kamu mengumpatiku?”
“Kesel gue. Rese banget lo bikin gue jantungan. Gue cuma mau ambil label di jilbab lo tadi. Liat, noh, di ujung belakang.”
Dapat jawaban dari Angkasa, Myria segera meraih ujung jilbabnya. Meski sedikit kesusahan, tetapi akhirnya dia bisa meraih kertas kecil persegi panjang itu. Benar saja, masih ada label harga tertempel. Semua itu karena jilbabnya tak sempat dicuci karena tertinggal di butik dan baru diantar pekerja sore hari.
“Tuh! Liat, kan, lo?” Angkasa berkata setengah jengkel. Dia mendadak ketus pada Myria.
“Ya, maaf.”
Cowok berkulit putih itu membuang napas, lantas membanting tubuhnya di atas kasur. Dua matanya menatap lurus ke langit-langit kamar tanpa memedulikan keberadaan Myria.
“Sampai kapan lo mau berdiri di situ?” Selang lima menit saling diam, Angkasa membuka mulut. Dia baru bisa mengontrol emosi yang sempat terpancing. “Duduk sini.” Lagi, Angkasa memberi perintah sembari menepuk sisi tempat tidur di sebelah kanan yang kosong.
Akan tetapi, perkataan Angkasa tak lekas ditanggapi. Cowok itu mengangkat kepala dan menyangga dengan satu tangan. “Gue suami lo, My. Salah satu kewajiban istri adalah menjalankan perintah suami.”
Ah, ya! Baru puluhan menit jadi suami Myria, Angkasa memanfaatkan status. Cowok satu itu benar-benar sedikit licik dan tidak bisa ditebak.
Mryria menurut. Perlahan-lahan kaki mungilnya melangkah maju.
“Lama! Gue tarik lo!”
“Buruan, makanya.” Masih di posisi yang sama, tiduran sambil menopang kepala, pemuda 18 tahun itu menuntut Myria agar lekas sampai. Dia tidak mau tahu tentang kegugugpan yang dialami istrinya. Toh, pikiran Angkasa, mereka setiap hari bertemu dan tidak ada niat darinya untuk berbuat apa pun.
Sampai di tempat tidur, Myria tetap diam. Namun, berbanding terbalik dengan Angkasa. Cowok itu ganti ulah. Dia mengubah posisi jadi tengkurap dan menyahut satu bantal untuk dijadikan tumpuan. “Pijitin gue, deh, My, daripada kita nggak ngapa-ngapain.”
Ya, Tuhan, ingin rasanya Myria menepuk kening. Ternyata Angkasa lebih menyebalkan dan mungkin sama persis seperti ucapan Friska. Mau tidak mau, Myria memutar badan dan duduk bersila, lalu mulai memijat dengan hati-hati.
“Gak kerasa, My.”
“Iya.”
“Kencengin dikit.”
“Iya.”
Angkasa berbalik tiba-tiba, seketika menghentikan gerakan Myria. “Lo jawab iya-iya terus. Ikhlas nggak?”
“Ya, ikhlas. Harus jawab apa memangnya?”
__ADS_1
Bukan menikmati suasana romantis, dua anak muda itu malah adu mulut dan berdebat.
“Udahlah, tambah capek gue berantem ama lo. Belum juga sehari jadi suami istri, udah kayak gini.” Angkasa bangkit dari kasur, lalu turun dan membuka lemari.
Myria yang diam kembali hanya memperhatikan tanpa mau bertanya.
“Gue mau mandi. O, iya, kata Mama baju lo di gantungan situ.” Tangan Angkasa yang menenteng handuk menunjuk stand hanger di dekat pintu, di mana ada beberapa stel pakaian dan piyama telah tergantung rapi. “Besok aja masukin lemari sini.”
Tak dapat jawaban, Angkasa menoleh. “Myria.”
“Um.” Myria manggut-manggut. Dia sebenarnya juga gerah dan ingin menghapus mekap di wajah. Baju panjang dan jilbab yang menutup rambutnya sedari tadi ingin segera dilepas pula. Namun, karena ada Angkasa, dia masih belum terbiasa.
Beberapa menit dihabiskan Angkasa membersihkan diri. Tidak ada suara apa pun kecuali gemercik air. Selepas itu, Angkasa keluar dengan rambut basah. “Mandi, gih! Itu handuk.”
Tidak seperti tadi yang banyak protes, Myria beranjak dan membawa handuk serta pakaian ganti ke kamar mandi. Dia ingin segera merasakan sensasi dingin dari percikan air.
Sembari menunggu Myria, Angkasa sibuk dengan ponsel. Dia mengecek grup chat kelas dan membaca obrolan teman-teman lain. Hanya menyimak tanpa ikut bergabung mengetik seperti teman lain. Angkasa enggan melakukan itu sekarang.
Pintu kamar mandi terbuka menghadirkan Myria dengan piyama merah muda. Angkasa melihatnya tanpa berkedip. Gadis itu segera menunduk dan memperhatikan badan dari bawah ke atas, tetapi dia rasa tidak ada yang salah “Kasa, apa aku aneh?”
Angkasa diam saja seperti tidak mendengar apa pun.
“Kasa.” Handuk digerakkan Myria ke kanan dan kiri di depan Angkasa untuk menyadarkan.
“Oh, nggak. Lo nggak pengin lepas jilbab? Serius mau tidur kayak gitu?”
Myria melipat bibir. Dia biasa tidur tanpa jilbab, tetapi sekarang ada Angkasa. Mana bisa tenang nanti. “Um, ya. Begini saja.”
“Oh, terserah. Duduk sini.”
Ranjang besar berlapis sprei putih itu ditempati dua orang. Mereka sama-sama bersandar di kepala ranjang dengan kaki selonjoran.
“Lo takut sama gue, My?”
Myria menoleh sekejap. “Dikit.”
Angkasa tergelak. “Tenang aja, gue udah bilang nggak ngapa-ngapain lo. Gue tunggu lo bisa terima gue sebagai suami. Gue juga nggak bakal maksa lo jatuh cinta sekarang. Biarin ngalir aja, ntar juga terbiasa.”
Mulut Myria membisu. Dia menoleh lagi dan mendapati Angkasa tersenyum. Pemandangan langka yang banyak gadis idamkan setahun belakangan sejak Angkasa kecelakaan, kini Myria dapat secara gratis.
“O, iya. Mama bicara apa sama lo kemarin di kamar?”
__ADS_1
Wajah Myria terangkat seiring jilbabnya yang melorot ditarik ke belakang. Cewek itu menjawab, “Bunda nyaranin aku buat pasang kontrasepsi.”