
“Berhenti kalian!” Erika berteriak lantang. Teriakannya itu berhasil menghentikan Myria dan Friska. Dia bergegas menghampiri.
Bersama Risti, Erika berdiri dengan membusungkan dada di depan Myria. Tatapannya menajam seiring gejolak cemburu dan emosi yang menggelora, membakar jiwa.
Satu tangan Erika mendorong bahu Myria dengan cukup kasar. “Seneng lo dapat perhatian dari Kasa?”
Friska menarik Myria mundur. Dia tepis tangan Erika dengan gerakan tak kalah kasar. “Jangan ngerusuh, deh, lo!”
Bukan Erika kalau diam. Dia tersenyum miring, lalu meludah ke samping. “Selalu sok pahlawan lo, Cewek Miskin!” Hinaan itu terlontar bersamaan kaki menginjak sepatu Friska.
Tanpa jeda, Friska langsung memekik kesakitan dan membuat Myria panik. Istri muda Angkasa itu menunduk. “Fris, kamu baik-baik aja?”
Friska belum mengeluarkan jawaban, tetapi Erika sudah menjambak rambut Myria yang tertutup jilbab. Kesempatan emas saat Friska lengah, Erika tidak tanggung-tanggung dalam bertindak.
Teriakan kesakitan mengudara dari mulut Myria. Erika menyakitinya tanpa perasaan. Gadis itu mencoba melawan, tetapi memang begitu sulit.
“My!” Rasa sakit Friska seketika hilang. Dia harus menghentikan perbuatan Erika sebelum parah dan makin menjadi. Namun, seperti biasa, belum sempat melindungi sahabatnya, langkah Friska tertahan oleh Risti.
“Minggir lo!” Friska menggeram. Dia dorong Risti dengan seluruh tenaga. Dua matanya masih awas melihat Myria terseret ke sana kemari oleh tindakan Erika.
“Biarin aja, sih, temen lo itu ngrasain akibatnya. Siapa suruh deketin Kasa?”
“Mata lo rabun?” Ucapan Friska tak lagi terkondisi. Kata-kata kasar keluar secara lantang dan mudah tanpa hambatan saat stok sabarnya tergerus amarah. “Jelas-jelas Kasa yang nyamperin sahabat gue. Bukan Myria!”
“Sama aja kali.” Risti bersikeras akan penilaiannya. Hati yang gelap akan kebencian, memang sulit menimbang mana yang benar atau salah. “Intinya, kenapa juga harus berdekatan sama Kasa. Cowok itu pantesnya cuma sama Erika. Bukan sama cewek-cewek cupu kayak kalian berdua!”
Tak tahan lagi, Friska menampar wajah Risti dan tepat mengenai pipi hingga mulut. Dia lantas menjambak rambut Risti untuk membalas rasa sakit yang dialami Myria.
Pertikaian empat gadis itu akhirnya mengundang perhatian dan menimbulkan kerumunan. Baik adik kelas maupun teman setingkat saling berbondong-bondong mendatangi.
Tidak ada yang berani melerai. Para siswi di sana hanya menatap sedih dan panik. Berbagai reaksi mereka tunjukkan, bahkan ada yang masih sempat merekam meski tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar.
Dua siswi muslimah kelas XI segera menyingkir. Mereka berinisiatif melapor ke guru BK daripada menunggu ada orang menghentikan pertikaian kakak kelasnya. Langkah dua gadis itu terburu, menyusuri koridor agar segera sampai.
Tiba di ruangan BK. Kedua gadis itu segera menyampaikan apa yang dilihat, sehingga guru BK bergegas datang.
“Berhenti!”
__ADS_1
Erika segera menghentikan tindakan penganiayaannya terhadap Myria, sementara Risti dan Friska masih saling serang seolah tidak mendengar apa pun.
Guru BK berjenis kelamin pria itu menghampiri, lalu menengahi Friska dan Risti. Dia berdiri tegap di tengah dan memberi tatapan tajam. “Kalian pikir sekolah ini ring tinju atau tempat adu gulat? Di mana etika kalian sebagai siswi teladan?”
Semua kicep. Tidak ada yang berani menjawab. Saat seperti ini, diam adalah hal yang paling benar daripada dapat hukuman.
Guru muda berumur 25 tahun itu kembali memberi perintah, “Kalian berempat, ke ruangan saya sekarang!”
Erika mendengkus. Dia mengentakkan kaki berulang kali saat berjalan di belakang bersama Risti. Mulutnya megucap sumpah serapah dan makian pada guru BK di depannya.
Sementara itu, Myria lebih memilih pasrah akan situasi yang dialami. Semua hal berawal dari Angkasa, lagi-lagi kepopuleran suaminya membawa petaka. Entah sampai kapan hal seperti itu harus dihadapi.
“My, kamu nggak capek? Udah, bilang aja kalau Kasa suami kamu.” Friska bicara sangat pelan sambil membenarkan jilbab. Jangan tanya lagi penampilan gadis itu, wajah Friska sudah penuh keringat dan terdapat luka cakar di pipi kiri gara-gara melawan Risti tadi.
Myria menatap sendu sahabatnya. Dia menggeleng dan menunduk. “Enggak semudah itu, Fris.”
“Tapi kalau kamu biarin kayak gini, nggak ngomong juga sama Kasa, dua cewek gila itu bakal ganggu kamu terus.”
Dada Myria terasa sesak. Air matanya sudah menggenang di pelupuk dan ditahan agar tidak jatuh. Baru kemarin malam dia bicara pada Angkasa jika bahagia dinikahi, tetapi nyatanya memang semua tidak ada yang sempurna. Semua hal tidak akan lepas dari masalah, termasuk pernikahan diam-diam itu.
Sang guru menarik sebuah buku dan pena, lalu menatap siswanya satu per satu. “Sebutkan nama dan kelas kalian bergantian.”
Berawal dari paling ujung, Erika menjawab. Kemudian, tersusul Risti di sampingnya dan dilanjutkan Friska serta Myria.
“Kenapa kalian bertengkar?”
Tidak ada yang menjawab. Erika si pembuat perkara juga diam dan enggan berkomentar. Dia merasa tidak bersalah dan hanya menanggapi dengan ekspresi malas.
“Bapak tanya sekali lagi, kenapa kalian bertengkar?”
Suara guru muda itu menegas. Meski tergolong rupawan, tetapi ketika bersikap demikian, pria itu terlihat menyeramkan.
“Dia iri sama sahabat saya, Pak!” Tiba-tiba Friska menjawab hingga membuat Myria dan Erika sama-sama terperanjat.
“Sembarangan mulut lo!” Risti kembali beraksi. Dia maju dan nyaris menyerang lagi.
“Diam semua!”
__ADS_1
Ruang guru berukuran 5x5 meter itu langsung menggema saat pemilik ruangan berteriak. Pria itu sampai menghela napas karena ternyata menghadapi siswa perempuan sama peliknya dengan siswa laki-laki.
“Bapak minta satu dari kalian jelaskan kronologi kejadian. Tidak perlu ada yang ditutupi.”
Risti dan Friska hendak menjelaskan bersama, tetapi guru BK itu segera peka. “Kamu saja.”
Telunjuk Friska mengarah pada dirinya sendiri. “Saya, Pak?”
“Iya, kamu. Jelaskan.”
Friska merangkul Myria. Dia mulai bicara dan memberi gambaran pada sang guru sesuai apa yang terjadi, sementara Erika dan Risti berulang kali membantah apa yang dikatakan Friska.
“Sudah cukup!” Kericuhan terhenti. Sang guru berdiri dari kursi, lalu menumpu meja dengan dua tangan. Tidak lama, pria itu kembali menegakkan badan. “Bapak minta orang tua kalian datang kemari besok.”
Keputusan yang sangat mengejutkan bagi keempat gadis itu. Apalagi Friska, ibunya pasti akan mengamuk saat dapat undangan ke sekolah yang bukan berkaitan dengan administrasi.
“Tapi, Pak—”
“Bapak tidak akan menerima atau mendengar protesan kalian.”
“Pak, tapi kami tidak salah.” Friska masih terus berkelit. Sebisa mungkin dia tidak ingin sampai menyodorkan kertas undangan wali murid perkara kenakalan di sekolah.
“Siapa salah siapa benar, Bapak tetap perlu bertemu orang tua kalian.”
“Maaf, Pak, saya tidak punya orang tua.”
Kata-kata Myria mengalihkan perhatian semua orang. Friska di sampingnya makin mengeratkan rangkulan, sementara gurunya mengerutkan kening begitu dalam.
“Kamu ….”
“Saya yatim piatu.” Belum selesai guru BK bicara, Myria lebih dahulu memberi tahu. “Ibu saya meninggal sekitar tiga bulan lalu dan ayah saya tidak tahu keberadaannya di mana sejak saya lahir. Entah hidup atau sudah meninggal juga.”
“Anak haram kali dia, Pak!”
.
.
__ADS_1