Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 80: Kencan Pertama


__ADS_3

Selesai dari bengkel, nyatanya Angkasa tidak membawa Myria pulang. Dia ganti tujuan ke suatu pusat perbelanjaan. Istrinya lagi-lagi dibuat bingung, tetapi sikap Angkasa sama seperti tadi. Meminta Myria menurut.


Hawa sejuk menyapa seluruh tubuh kala pintu mal bergeser dan Myria masuk. Bersama Angkasa, dia berjalan menuju tangga eskalator. Kata suaminya, tidak ada yang menarik di lantai satu. Jadi, Angkasa mengajak langsung menuju lantai dua dan seterusnya.


Gedung tinggi yang berisi barisan toko itu terdiri dari empat lantai. Angkasa menarik Myria ke lantai tiga di mana banyak penjual pakaian dan aksesoris lain. Pemuda itu berhenti, lalu bertanya, “Beli baju nggak?”


“Enggak.” Tanpa pikir panjang, Myria sudah menolak. Baru kali ini dia pergi ke mal bersama laki-laki dan itu suami sendiri. Selama ini, Myria jarang jalan-jalan karena sibuk bekerja. Ada waktu pun, dihabiskan bersama mendiang ibunya atau sesekali bersama Friska.


“Baju couple mau?”


Myria tetap menggeleng. Aneh tapi nyata, kebanyakan pasangan yang memiliki ide pakai pakaian couple adalah perempuan, tetapi kali ini justru Angkasa. Myria sampai terkikik geli.


“Kenapa? Kalau nggak mau, ya, udah kita jalan-jalan aja.”


“Nggak pa-pa. Kamu lucu.” Langkah Myria terayun pelan. Dia berjalan sejajar dengan Angkasa di sebelah.


Cowok dengan hodie biru muda itu terus menggenggam tangan sang istri. Angkasa seolah-olah takut kehilangan. Myria sendiri beberapa kali menunduk, lalu tersenyum malu-malu dapat perlakuan itu sejak tadi.


“Ngapain dari tadi senyum-senyum?”


“Ah, enggak. Siapa yang senyum-senyum?” Seperti penguntit yang tepergok, Myria gelagapan dan segera mengedarkan pandangan. Dalam hati, dia merutuki diri karena tak bisa mengontrol ekspresi.  Selain itu, Myria heran, bagaimana bisa Angkasa tahu padahal cowok itu terus berjalan dan menghadap depan.

__ADS_1


Kayak punya mata di pipi aja si Kasa ini.


Batin Myria mulai menduga-duga hal di luar nalar. Namun, apa pun itu, dia tidak menyangkal jika hati tengah berbunga.


Meski pernikahan berawal tanpa rencana dan bukan keinginan sendiri, Myria merasa bahagia sekarang.  Angkasa tak pernah sedingin di sekolah. Cowok itu justru lebih banyak omong dan membuat Myria nyaman memiliki tempat berbagi keluh kesah. Selain itu, mempunyai suami yang cerdas, Myria juga merasa ada untungnya. Setiap ada pelajaran yang memusingkan, Angkasa sukarela diajak diskusi.


Sibuk melamun dan memikirkan Angkasa dalam benak, Myria tidak sadar bahwa pemuda itu membelokkannya ke sebuah toko. Toko yang dinominasi warna putih sebagai cat dinding serta etalase kaca yang dipenuhi perhiasan berbagai macam. Myria berhenti sebelum langkahnya makin jauh ke dalam. “Ka, ngapain kita ke sini?”


“Ikut aja. Aku cariin sesuatu.”


Masih dalam mode bingung, tetapi Myria menurut begitu saja. Dia terus berjalan dan ikut berhenti kala Angkasa berhenti.


“Kak, minta tolong carikan ukuran sejari manis dia.” Angkasa tiba-tiba bicara pada wanita penjaga etalase. Tangan yang sejak tadi menggenggam, kini mengangkat telapak tangan Myria dan menunjukkan pada sang pegawai.


“Udah, nurut aja.”


Pekerja toko itu tersenyum sendiri melihat tingkah dua remaja di hadapannya. Wanita dengan tatanan rambut bergaya side bun itu masih setia menunggu pembeli memutuskan pilihan. Wajah cantiknya terlihat ramah meski orang yang dihadapi belum tentu membeli.


Myria akhirnya diam dan menurut. Gadis itu mendekati kaca etalase sembari menunjukkan jarinya yang mungil. Matanya ikut mengembara dari ujung ke ujung untuk mencari cincin sesuai selera.


“Ini cocok untuk Anda, Nona.” Satu cincin kecil dengan ornament bunga sakura di tengah ditawarkan sang penjaga. Myria menerima cincin itu dan mencobanya. “Pas dengan jari Anda?” tanyanya lagi.

__ADS_1


“Iya, Kak.”


“Ini koleksi terbaru. Baru dua pekan lalu tiba di toko kami. Apa Anda cocok?”


Myria pandangi cincin itu sekali lagi. Melihat hiasan di tengah-tengah, dia teringat keinginan Angkasa yang ingin liburan bersama ke Jepang waktu lalu. Maka dari itu, dia rasa tidak ada salahnya memilih itu saja sebagai tanda mengenang keinginan sang suami. Siapa tahu, suatu saat impian itu terwujud.


“Boleh lihat harganya, Kak?” Meski menyukai dan memiliki maksud, Myria tetap berpikir masalah harga. Dia tidak terbiasa menghabiskan uang hanya untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu diperlukan.


“Boleh, No ….”


“Saya ambil ini saja, Kak.” Angkasa menyela. Tentu saja dia paham pemikiran Myria mengarah ke mana. Cowok itu mengeluarkan dompet dari tas, lalu mengambil satu kartu debet. “Saya bayar sekarang.”


“Kasa!” Myria menyikut perut Angkasa. Baginya, sikap sang suami sangat gegabah.


Melihat dua anak muda itu kembali berdebat kecil, sang penjaga toko tersenyum lagi. Dia mengurungkan niat mengambil kartu ATM dari tangan Angkasa.


“Nggak pa-pa. Tenang aja.” Kembali Myria menghadap sang pegawai. “Tidak perlu dengar istri saya, Kak. Berapa pun harganya, saya bayar.”


Hampir saja pegawai toko itu membuka mulut lebar-lebar mendengar ucapan Angkasa yang mengakui Myria istri. Namun, sebagai profesionalitas pekerjaan, dia hanya menanggapi dengan anggukan dan senyum.


“Baik, geser ke sebelah sini untuk menggesek kartunya.”

__ADS_1


Angkasa berjalan sesuai arahan. Dia segera melakukan transaksi dan keluar bersama Myria. Pegawai toko yang melayani mereka tadi terus memandangi.


“Anak-anak muda sekarang sudah berani nikah padahal masih pakai seragam sekolah. Terus aku yang hampir kepala tiga ini masih setia jomlo. Astaga ….”


__ADS_2