Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 34: Terimpit Keadaan


__ADS_3

Halte sekolah menjadi pemberhentian Angkasa. Cowok itu tadi sudah menunggu Myria di parkiran hampir setengah jam lamanya, tetapi yang ditunggu tak kunjung datang. Myria memang mengirim pesan akan pulang bersama Friska, tetapi Angkasa bersikeras menunggu.


“My, Kasa, tuh.”


Pandangan Myria beralih saat Friska berbisik. Dia menoleh pada pemuda yang meninggalkan motor di pinggir jalan dan menuju padanya sembari menenteng helm. Siapa lagi kalau bukan sang suami.


“Pakai ini.” Baru datang, Angkasa langsung memerintah. Helm terangkat setinggi dada Myria. Ekspresi cowok satu itu begitu datar dan tidak mengacuhkan Friska di sebelah.


Myria refleks menerima pemberian Angkasa. Dia gagap hendak menolak.


“Fris, hari ini sahabat lo gue bawa. Pulang sendiri, ya.” Setelah membuat orang bingung beberapa detik, mulut Angkasa terbuka juga. Dia beralih pada Myria yang masih bengong tanpa melakukan perintah.


Helm diambil lagi, Angkasa memakaikan secara paksa ke kepala Myria. “Kalau lo nggak tutup mulut, bisa-bisa lalat masuk sampai tenggorokan,” ujarnya sembari mengunci helm hingga terdengar bunyi ‘klik’ dari arah dagu.


Myria langsung tersadar. Dia memaksa mundur dan sukses mengundang tawa Angkasa. Gadis dengan bros pita di bahu kiri itu mendengkus. “Aku mau naik angkutan.”


“Gue udah nunggu lo dari tadi di parkiran, kirim pesan puluhan kali, tapi lo abaikan gitu aja? Sekarang nggak ngerasa dosa gitu?”


Makin tergagap Myria menanggapi. Dia terperangkap dalam lembah kebimbangan saat diberi pertanyaan demikian. Status istri memang tak bisa disangkal sehingga dia tidak bisa pula sembarangan mengambil keputusan tanpa keridhoan Angkasa.


Myria menggulir pandangan pada Friska, sahabatnya itu sudah memelototi dengan wajah cemberut. Alis  Friska mengeriting dengan dahi mencetak kerutan beberapa garis, sementara Angkasa memberi tatapan tak kalah menuntut.


“Kalian kenapa, sih?”  Friska buka mulut. Dia mendorong Angkasa dan menarik Myria. “Ka, lo kalau jadi majikan nggak usah semena-mena gitu? Myria cuma pulang bareng gue kayak biasanya, kenapa lo maksa banget harus bareng kayak pagi tadi?”


Bibir saling menempel, tetapi tatapan Angkasa memicing pada Myria. Dia sengaja membiarkan istrinya yang menjelaskan semua hal pada Friska. Angkasa mulai lelah harus kucing-kucingan perkara hubungannya dengan istri sendiri.


Akan tetapi, sampai hitungan menit, Myria tak jua melakukan hal seperti harapan Angkasa. Akhirnya , pemuda itu yang bicara lagi. “Fris, gue ada perlu sama Myria sore ini. Lo balik sendiri dulu, ya, buat kali ini.”


“Urusan apa? Nggak harus sampai maksa juga, kan?”


“Ada pokoknya, gue nggak bisa ngasih tahu lo.”

__ADS_1


Tidak segampang itu mengambil Myria dari Friska. Cewek itu terlalu posesif karena rasa sayang sebagai sahabat begitu tinggi. Friska memang anak tunggal, alhasil saat bertemu Myria dan merasakan kecocokan, dia seperti menemukan saudara baru. Meski bukan anak orang kaya, sebisa mungkin Friska selalu membantu saat Myria kesusahan.


Ratusan menit berlalu, beberapa angkutan juga terlewatkan begitu saja selama Angkasa membujuk. Dia berulang kali mengecek ponsel untuk melihat jam. Bahkan, lapisan rasa sabarnya pun kian menipis.


Angkasa melepas helm, lalu mengacak rambutnya hingga berantakan. Dia berjalan menuju tempat duduk di halte yang tersedia. “Myria! Gue nunggu lo di sini.”


Myria menelan ludah. Intonasi bicara suaminya meninggi, sudah bisa dipastikan Angkasa mulai kesal. Namun, dia makin bingung saat melihat tangannya masih terus digenggam Friska dan kesulitan untuk pergi.


Ditatap serius dari dua orang yang berbeda, membuat Myria kalang kabut. Perlahan-lahan, dia menurunkan tangan Friska. “Fris, kamu bisa pulang lebih dulu. Aku bareng Kasa aja.”


“Kamu lebih milih dia dibanding aku, My?”


Aduh! Hati Myria ngilu dapat pertanyaan demikian. Dia meringis seperti orang bodoh mencari alasan. “Eum, itu, aku ….”


“Ada apa, sih, sebenarnya kalian ini? Kamu nutupin sesuatu dariku, kan? Selama ini aku diam dan percaya gitu aja, My. Tapi aku mulai curiga dari tadi di kantin kenapa Kasa perhatian banget sama kamu? Padahal cuma makan bakso, doang.” Friska berkata menggebu. Wajah manisnya tidak ramah seperti hari biasa.


Gadis itu melanjutkan, “Jangan ngira aku nggak tahu waktu Kasa ngasih bagiannya buat kamu, aku juga lihat tangan Kasa selalu megangin paha, tapi kamu diem aja. Belum lagi waktu kamu ilang, waktu kamu nggak ngerjain PR dulu. Ini, tuh, bikin aku punya pertanyaan besar yang sengaja aku simpan sendiri dari kemarin.”


Berulang kali Angkasa berbisik agar Myria makan lebih banyak. Tidak cukup sampai di situ, selesai makan, bisa bisanya tangan cowok itu turun dan mendarat di paha Myria. Demi menutup ulahnya, Angkasa pura-pura mengobrol terus menerus dengan yang lain.


“Fris, itu ….”


“Kalian pacaran?” Friska menyela. Dia lempar tatapan pada Angkasa yang masih duduk di kursi halte.


Kondisi sudah seperti ini, tidak ada pilihan untuk mengelak. Ditinggalkannya kursi besi yang ada, Angkasa menghampiri Friska dan Myria kembali. Satu tangannya mengulur ke samping, lalu mendarat tepat di bahu Myria. “Dia istri gue, Fris.”


Petir seolah menyambar langit sore ini. Angin yang awalnya sepoi-sepoi berubah menjadi tiupan sedikit kencang.  Friska kehilangan keseimbangan, dia nyaris ambruk ke trotoar dan segera ditangkap Myria.


“Fris!” Myria panik. Dia berusaha melepas helm dan membawa sahabatnya duduk. Satu pedagang asongan kebetulan lewat, gadis itu berteriak dan minta tolong Angkasa untuk membelikan air mineral.


“Angkasa ngaco, kan, My?” Friska bergumam lirih. Dia syok mendadak. “Mana mungkin kalian nikah di masa SMA gini?”

__ADS_1


“Minum dulu, Friska. Nggak usah peduliin Kasa.”


Usai minum beberapa kali tegukan. Friska bisa mengontrol diri. Dia berkata, “Aku minta penjelasan dari ucapan Angkasa, My.”


Sebelum menjawab, Myria melirik pada Angkasa yang berdiri di depan. Suaminya diam saja dan terkesan tidak ingin membantu. Di pikiran Myria, Angkasa memang sudah bosan menunggu sedari tadi. Dia sadar jika dirinya salah. “Aku selesaikan urusan Kasa nanti, sekarang Friska dulu aja.” Hati Myria berkata.


“Friska, semua ucapan Kasa benar.”


Friska melotot. Mulutnya menganga lebar tanpa ada kata-kata keluar. Akan tetapi, beruntungnya dia tidak pingsan. “Ka–kamu serius, My?”


Udara di sekitar dihirup kuat-kuat, Myria berusaha menata hati. “Tolong jangan menyela sebelum aku selesai cerita.”


Demi jawaban dari semua kecurigaan yang bercokol di hati selama ini, Friska mengangguk. Dia genggam erat-erat botol di tangan.


“Aku emang nikah sama Kasa, dua minggu setelah Ibu pergi. Ini pasti ngagetin kamu, tapi aku sendiri juga nggak bisa cerita gitu aja. Sebenernya, aku nggak pengin juga nikah muda. Kasa beberapa kali mau nikahin aku dan aku nolak. Dia sempat nyerah waktu itu, tapi ada satu hari di mana aku hampir dilecehkan para preman, Friska, dan ….” Cerita Myria terhenti sejenak. Ada sesak di dada secara spontan saat mengingat sore hari kala itu. “Dan Kasa yang menolongku. Mungkin kalau nggak ada dia, masa depanku udah hancur sekarang. Soal pernikahan ini, dia nggak maksa aku, tapi aku sadar kalau aku nggak aman ke mana-mana sendiri, hidup sendiri juga.”


Friska bergeming. Dia sempat menutup mulutnya karena lebih kaget lagi mendengar sahabatnya hendak mengalami hal menyedihkan seperti itu. “My, kenapa kamu nggak cerita kalau pernah ngalamin kayak gitu?”


Myria menghapus tetes air mata yang sempat jatuh. Dia menggeleng dan tersenyum. “Enggak perlu, Alhamdulillah aku nggak pa-pa, kan? Aku nggak mau inget-inget itu, jadi aku diam.”


“Terus hubungan kalian ini?”


“Nggak ada yang tahu. Cuma kamu yang tahu aku tinggal di rumah Kasa, cuma kamu yang tahu kalau kami pasutri muda. Jadi, tolong jangan katakan ini sama siapa pun.”


Friska mengalihkan perhatian pada Angkasa yang sejak tadi diam, lalu kembali pada Myria. Gadis 18 tahun itu mengangguk dan dapat pelukan dari sahabatnya.


Angkasa menghela napas. Dia bergumam, “Gitu, kek, dari kemarin.”


.


.

__ADS_1


__ADS_2