Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 32: Deep Talk


__ADS_3

Hampir tengah malam, tetapi Angkasa tak kunjung terlelap. Matanya masih terbuka lebar dan rasa kantuk seakan  hilang begitu saja. Setelah makan malam, pemuda itu masuk kamar sebelah dan meninggalkan Myria di kamar yang dahulu jadi kamarnya. Obrolan sore hari menggantung tanpa penjelasan apa pun.


Tidak seperti biasanya yang cuek dan tak acuh, entah mengapa jika menyangkut Myria, Angkasa berubah jadi sosok pemikir. Bayangan Myria yang ingin menyampaikan sesuatu terus berkelebat di kepala.


“Argh!” Angkasa bangkit. Dia terduduk di atas ranjang sembari mengacak rambut. Ingin tidur dalam kondisi resah, nyatanya tidak semudah perkiraan. Angkasa pikir dengan tidur, segala pikirannya terlupa begitu saja. Akan tetapi, dugaannya salah dan justru berbanding terbalik, dia imsomnia.


“Apa saja yang lo sembunyiin dari gue, My?” Kesepakatan soal saling tidak mengurusi perkara privasi sepertinya keliru. Saat seperti ini, Angkasa baru menyadari jika hubungan rumah tangga harus ada rasa terbuka dan saling percaya. Dia diciptakan sebagai pria dengan akal dan logika yang terdepan, sementara wanita penuh perasaan. Angkasa tidak pandai menebak-nebak perasaan istrinya.


“Gue ke kamar sebelah ajalah.” Menyerah. Akhirnya Angkasa benar-benar pergi dan menyusul Myria ke kamarnya. Dia harap pintu tidak terkunci sehingga leluasa masuk tanpa mengganggu.


Baru saja memegang handle pintu dan ingin mendorong, Angkasa sudah kesulitan. Dia berdecak karena tidak bisa menerobos dan terpaksa harus membangunkan Myria.


Ketukan pintu mengganggu tidur Myria. Gadis itu membuka mata dan duduk sebentar untuk memastikan tidak salah dengar.


“My, ini gue.”


Samar-samar suara dari luar tertangkap telinga. Myria segera bangun dan meraih jilbab yang ada di kursi belajar.


“Kasa.”


Angkasa tersenyum manis. Dia garuk kepala yang tidak gatal. Bingung dan ragu dialami pemuda itu saat ingin menyampaikan maksud kedatangannya.


“Mau ambil sesuatu?” Myria bertanya malas sembari mengucek mata. Kesadarannya belum seratus persen utuh kembali dan hanya bisa menerka demikian. Angkasa memang tidur di kamar lain, tetapi soal buku dan semua keperluan pemuda itu tidak dibawa.


“Gue mau tidur sama lo.”


Kantuk Myria hilang perlahan. Dia buka mata sempurna dan mengamati Angkasa dengan saksama. Bibir hendak menolak, tetapi kenyataan menentang itu. Myria tidak mungkin menolak kemauan suaminya.


Pintu dibuka lebar, Myria melangkah menuju tempat tidur lagi. Dia tidak berkata apa pun dan langsung merebahkan diri di sisi kiri.


“Apa lo bakal tidur munggungi gue gini?”


“Kenapa? Bukannya biasanya juga gini?” Tanpa berbalik, Myria menjawab. Dia tidak mengantuk lagi, tetapi sengaja memaksa mata untuk terpejam.

__ADS_1


“Gue mau ngomong, Myria.”


Tidak peduli jam berapa pun itu, Myria hanya bisa pasrah. Dia memutar badan, lalu bangkit dan berakhir duduk bersandar di kepala ranjang. “Iya, apa? Besok kita masih harus sekolah? Kenapa ngobrol malam-malam?”


Angkasa membuang napas. Kecurigaannya menguat kala mendapati Myria makin jutek melebihi hari-hari biasa. Dia sadar jika istrinya itu jarang tertawa bersama meski telah digoda, tetapi aura yang ada tetaplah berbeda.


“Jujur sama gue, apa lo marah?”


Dahi Myria berkerut. “Kenapa marah?”


Kembali Angkasa menghela napas dapat pertanyaan demikian. “Kenapa cewek kalau ditanya sukanya balik nanya? Gue serius, Myria.”


“Aku nggak marah. Kamu dateng-dateng nanya gitu, aku bingung. Jadi nanya, kenapa aku marah?”


“Serius lo nggak marah? Sikap lo aneh dari sore. Gue lihat kayak banyak pikiran dari wajah lo.”


Myria memalingkan wajah. Dia yang awalnya menaruh perhatian penuh saat Angkasa bicara, kini menatap lurus ke kaca jendela yang menghubungkan kamar dan balkon. Bibir gadis itu mulai bergerak. “Kasa, apa yang akan kita jalani ke depannya? Apa kamu nggak ngerasa terbebani karena pernikahan ini? Bukannya anak muda lebih suka menjelajah dan menikmati masa muda dengan semua kesukaannya? Termasuk kamu.”


Myria menunduk. Dia pandangi usapan ibu jari Angkasa di punggung tangannya, lalu kembali mendongak. “Gimana kalau suatu saat kamu suka sama cewek di luaran sana?”


“Laki-laki suka banyak perempuan itu hal biasa kali, My. Tapi yang paling penting, seberapa banyak godaan di luaran sana, tempat kembali tetaplah istrinya. Jangan menuhin pikiran lo buat hal buruk yang belum pasti kejadian. Fokusin aja gimana caranya suami lo bisa ngerasa cukup dan bersyukur atas kehadiran lo doang tanpa perlu nambah orang lain lagi sebagai pelampiasan.”


Angkasa menarik napas panjang sebagai penjeda pembicaraan. Dia genggam erat telapak tangan Myria dan kembali berucap, “Ya, meski nggak ngejamin kalau istri baik dan nurut itu bisa ngecegah suami nggak kegoda di luaran sana, paling nggak, lo udah ngejalani kewajiban lo. Ntar kalau di akhirat ditanya, lo bisa jawab kalau udah usaha sebaik mungkin. Perkara hati itu sebenarnya cuma Allah dan pasangan lo yang bisa ngendaliin. Mau dikasih pasangan se-perfect apa pun, kalau nggak ada niat setia, ya, ujungnya main serong.”


Kondisi hening beberapa detik karena Myria tidak menjawab semua penjabaran suaminya. Alhasil, Angkasa yang berkelakar, “Gue kalau ngomong gini udah kelihatan dewasa banget, ya?” Pemuda itu tertawa pelan, menertawakan dirinya sendiri karena mendadak bijak.


Myria yang sejak tadi gundah, akhirnya tersenyum. Memang Angkasa sering menyebalkan karena tukang maksa, tetapi tidak kurang pula tingkahnya membuat orang terhibur. Dari sekian ragam sikap cowok itu, Myria bersyukur hanya dirinya dan orang-orang rumah yang tahu.


“Apa kamu nggak capek habis main basket malah belum tidur jam segini?” Topik obrolan, Myria ganti. Meski tidak bicara secara terbuka tentang kerisauannya sejak sore, dia percaya pada Angkasa dari cara pemuda itu berpikir.


“Nggak tahu, gue tiba-tiba insomnia.” Angkasa menjawab dengan nada lesu. Sudah jarang dia begadang, tetapi malam ini susah tidur. “Kayaknya gue butuh dikelonin, deh, My.”


Tangan segera ditarik, Myria mencipta jarak dengan Angkasa. “Kasa, jangan sembarangan!”

__ADS_1


Angkasa yang kaget langsung protes, “Gue nggak ngapa-ngapain lo.” Dia berdecak. “Udah sini. Ayo, tidur.”


Enggan percaya. Tentu saja demikian, Myria takut Angkasa tiba-tiba menerkam. Siapa yang menjamin dirinya aman?


“Tidur, Myria.” Mata sudah terpejam, badan merebah ke kasur, tetapi Angkasa tahu jika istrinya masih duduk di tepian ranjang. Cowok itu menepuk sisi sebelahnya yang masih kosong. “Gue pengin tidur sama lo. Serius, nggak ngapa-ngapain.”


“Janji?”


“Hm ….”


***


Pagi hari hendak berangkat sekolah, Myria dibuat heran oleh Angkasa. Suaminya sudah pamit keluar beberapa menit lalu lebih dahulu, tetapi nyatanya masih di depan  teras.


“Bareng gue.” Helm tersodor ke arah Myria, sementara Angkasa sudah duduk tenang di jok depan.


“Enggak, ah. Mau naik angkutan aja kayak biasanya.”


Angkasa berdecak. “Buruan! Mau sampek kapan kita sembunyi-sembunyi? Biarin aja anak-anak tahu, paling mereka ngiranya kita pacaran.”


“Justru itu, aku nggak mau.”


“Kenapa emangnya? Apa gue malu-maluin kalau jadi pacar lo?”


“Kasa, kamu nggak sadar berapa banyak penggemarmu? Aku nggak mau dimusuhi cewek satu sekolah.”


“Ada apa-apa, gue yang lindungi elo. Buruan, ayo!”


Bukan Angkasa kalau menyerah dan tidak memaksa. Pemuda itu tetap kukuh dengan kehendaknya dan akan menunggu sampai istrinya mau.


Myria menerima helm dengan wajah cemberut. Dia lantas naik ke boncengan dan terpaksa berangkat bersama sang suami.


Kamu bilang jadi pelindungku? Kemarin di mana waktu mantan pacarmu itu ganggu aku, Kasa?   

__ADS_1


__ADS_2