Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 44: Usul Myria


__ADS_3

Ujian semester tahun ajaran ini terasa berbeda daripada tahun-tahun lalu bagi Myria. Dia tak bisa fokus sepenuhya belajar karena pikiran bercabang untuk mengambil hati Angkasa dan menyudahi perselisihan. Kesalahpahaman di hari pertama ulangan kemarin, masih berbuntut panjang di hari-hari berikutnya, bahkan ulangan hampir selesai.


Di depan cermin usai berdandan, Myria menghela napas. Dia pandangi lingkaran hitam yang menghiasi kedua matanya. Tiga hari terakhir, gadis itu sulit tidur. Dia gelisah tanpa arah.


Angkasa memang tidak mendiamkan Myria sepenuhnya. Pemuda itu akan bicara saat-saat tertentu. Ketika istrinya bertanya apakah dia marah? Jawaban Angkasa hanya gelengan.


"Sarapan dulu, Sayang." Nyonya Nasita menaruh mangkuk berisi oatmeal dengan taburan almond di atasnya ke arah kursi di mana Myria sering duduk. Beliau lantas menambahkan segelas susu di dekat mangkuk tadi.


"Makasih, Bun." Myria tersenyum manis. Wajah lesunya harus enyah sekarang juga saat berhadapan dengan ayah dan ibu mertua. Dia tidak ingin mengundang tanya apalagi merepotkan orang lain dalam urusan rumah tangga.


Bukan sekali dua kali Myria berkonflik dengan Angkasa perkara ego yang belum bisa dikondisikan. Kesalahpahaman yang berawal dari perkara kecil dan dibesarkan hingga berujung perang dingin hampir beberapa kali harus dilewati. Namun, apa pun itu, Myria tetap berusaha berpikir positif dan tidak ingin menyalahkan Angkasa maupun dirinya sendiri. Menikah memang proses belajar yang tiada habisnya, dan Myria memahami itu.


Sarapan pagi dalam situasi tenang dan damai. Tuan Aji memang tidak banyak bicara, tetapi Nyonya Nasita sesekali mengobrol.


"Apa ini hari terakhir kalian ujian?"


Gerakan Myria dan Angkasa berhenti secara bersamaan. Keduanya mendongak dan menjawab "iya" dengan serentak.


"Mama tidak sabar lihat hasil ulangan kalian." Senyum merekah diikuti tatap penuh harap menghias wajah Nyonya Nasita. Beliau bergeser sedikit dan mengelus lengan sang suami dengan manja. "Papa juga, kan, Pa?"


Tuan Aji mengangguk. "Tentu saja, Ma. Setiap orang tua, pasti ingin tahu sejauh apa anaknya berproses."


Obrolan dua orang tua itu menjadi pusat perhatian Myria. Gadis itu terenyuh dan membayangkan andai dahulu memiliki keluarga utuh layaknya keluarga Angkasa. Selama bertahun-tahun dia harus terbiasa tanpa dekapan hangat seorang ayah, padahal hati kecilnya sering kali meneriakkan rasa rindu.

__ADS_1


Sarapan Angkasa selesai. Dia pamit terlebih dahulu. Pemuda itu menghampiri Tuan Aji dan Nyonya Nasita untuk cium tangan, lalu berpindah pada Myria dan meninggalkan usapan lembut di atas kepala. Ya, memang seperti itu kebiasaan Angkasa saat berpamitan dengan istrinya.


"Gue berangkat. Lo hati-hati ntar."


Kepala Myria mengangguk sekali dan Angkasa segera pergi.


"Kasa." Nyonya Nasita tiba-tiba memanggil. Padahal tidak ada barang putranya yang tertinggal.


Angkasa memutar badan dan kembali menghadap meja makan. "Ya, Ma."


"Sampai kapan cara bicaramu seperti itu? Mama ingin panggilan lo-gue ke Myria diganti. Mama tidak nyaman mendengarnya."


Angkasa mengatupkan bibir. Dia melirik Myria yang kebetulan menatap ke arahnya. Pemuda itu lantas kembali melihat sang ibunda. "Ya, Ma. Aku berangkat. Assalamualaikum."


Semua orang di meja makan menjawab salam. Myria terdiam beberapa detik, lalu bergegas menaruh sendok dan mengelap mulut. Gadis itu berdiri dan menghampiri Nyonya Nasita. "Bunda, Papa, Myria berangkat juga."


"Myria kenyang, Bun." Sembari cium tangan, Myria menjawab. Dia sedikit berlari menuju ruang depan untuk ke luar.


Tak cukup berlarian di dalam rumah, Myria masih berlari setelah menutup pintu. Dia turun dari teras dan memijak paving block halaman dengan entakan kuat.


Ketika mata Myria melihat Angkasa berhasil mengeluarkan motor dari garasi, dia berlari lagi menghampiri.


Dua tangan Myria membentang kanan dan kiri sepenuhnya ketika sampai. Posisi badan gadis itu menghalangi motor untuk lewat. Angkasa yang melihatnya mengerutkan kening.

__ADS_1


"Kasa, aku mau berangkat sama kamu."


Kerutan di dahi Angkasa makin dalam hingga mencetak beberapa lipatan. Pemuda itu berujar, "Serius lo?"


Myria mengangguk yakin.


"Ya, udah, sini."


Senyum terlukis di bibir semerah delima milik Myria. Gadis itu menerima helm, lalu naik di belakang.


"Udah?"


"Um." Myria bergumam. Kemudian, dia melingkarkan lengan ke perut Angkasa tanpa permisi atau menunggu perintah. Kali ini murni inisiatif sendiri. "Aku udah siap. Ayo, berangkat."


Angkasa melirik turun dan melihat tangan Myria. Dia ingin tersenyum, tetapi sengaja ditahan dan tetap pasang wajah cuek.


Dalam perjalanan, beberapa kali Angkasa melirik spion. Dia kembali menatap depan ketika Myria hampir memergoki.


"Kasa, ayo liburan bersama abis ujian ini. Nggak harus ke Jepang, nginep di vila wilayah puncak atau di hotel deket pantai, aku udah seneng."


Bak menemukan oase di tengah gurun, hati Angkasa yang memanas sejak kemarin-kemarin kini mulai sejuk mendengar ajakan Myria. Pemuda itu tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang dibuka lebar oleh sang istri. Maka dari itu, dia setuju.


"Yeay! Kamu serius?" Senyum Myria merekah sempurna. Senyum yang pernah lenyap dari wajah selama beberapa bulan akhirnya terbit lagi.

__ADS_1


Angkasa ikut bahagia melihat istrinya seantusias itu.


Emang bener, ini cewek selalu bikin gue nggak bisa marah.


__ADS_2