Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 67: Perkara Sakti Lagi


__ADS_3

Angkasa terbangun. Dia nyaris kaget saat melihat Myria masih bermain ponsel. Pemuda itu mengusap wajahnya perlahan hingga menarik perhatian sang istri.


“Kasa.”


“Kenapa kamu nggak tidur?”


“Belum ngantuk.” Myria menjawab santai. Dia berdiri dan membantu Angkasa duduk. “Mau minum?”


Anggukan kepala menjadi jawaban. Myria lekas mengambil botol minum yang ada di meja lalu memberikannya pada Angkasa.


“Kamu kepikiran soal tadi sore, My?” Selesai minum, Angkasa bertanya. Pemuda itu menduga bahwa Myria masih memikirkan kedatangan dua orang tua Erika sore tadi. Apalagi, ucapan ibu dan ayah Erika memang tidak sepantasnya didengar Myria sebagai istri.


“Aku kasihan lihat ibunya Erika sampai nangis-nangis gitu. Pasti sedih banget soalnya Erika sekarang masih ditahan.”


“Biarin. Itu juga salah dia. Ngapain harus segitunya? Padahal kita nggak ngusik Erika sama sekali.”


“Dia gitu karena terobsesi kamu, Ka.”


Perkataan Myria memusnahkan ketenangan di wajah Angkasa. Ekspresi pemuda itu berubah tak acuh. Dia mengalihkan pandangan lurus ke depan. “Kamu juga mau bilang kalau gara-gara cinta, Erika rela jadi cewek gila gini? Asal kamu tahu, My, dari dulu sebelum aku ngajak kamu nikah, aku udah nggak mau kenal dia.” Angkasa menengok ke samping untuk melihat tanggapan sang istri. Dia terdiam beberapa detik, lalu mengambil keputusan lain. “Udahlah, jangan bikin kita berantem gara-gara dia. Jalur hukum emang paling setimpal, nggak usah pikirin omongan nyokap sama bokapnya.”


Suasana hati Angkasa memburuk. Myria tak mungkin meneruskan obrolan atau makin semrawut. Suaminya memang tidak mudah diajak bicara jika sudah memiliki pemikiran sendiri.


Myria beringsut mundur dan mengembalikan botol ke meja. Dia tak lagi banyak bicara.


“Naik di sini dan tidur!” kata Angkasa sembari menggeser tubuh. Jam di layar ponsel menunjuk angka 00.00, tetapi Myria masih terjaga. Sebagai suami, Angkasa tidak suka melihat istrinya begadang lantaran memikirkan suatu hal.


“Myria,” kata pemuda itu penuh penegasan. Sorot matanya menajam dengan wajah serius.

__ADS_1


“Aku bisa tidur di ranjang sebelah. Tidur sama kamu nanti tanganmu kesenggol bisa sakit.” Myria menjawab tak kalah serius. Dia memutari tempat tidur pasien dan menuju tempat tidur lain yang disediakan untuk si penunggu.


Kemarin malam, tempat tidur itu dipakai Nyonya Nasita. Namun, sekarang ibu mertuanya itu pulang karena dipaksa Angkasa sejak sore. Sekarang, tinggal dua remaja di satu ruangan tersebut.


Angkasa membuang napas setelah melihat Myria merebahkan badan. Dia ingin memeluk istrinya, tetapi malas mengutarakan. Perkataannya tadi pasti sedikit mengganggu di hati sang istri, dia mulai menyadari itu.


“Astaghfirullah ….” Angkasa mendesah berat. Tatapan matanya mengarah ke langit-langit ruangan dengan pikiran terbang ke awang-awang.


Menikah memang tidak semudah membeli sesuatu. Andai elemen-elemen rumah tangga ada yang menjual, Angkasa mungkin akan membelinya. Entah itu stok sabar, kedewasaan, cara memahami atau apa pun itu agar bisa sejalan dan tidak melukai pasangan. Namun, sekali lagi, pernikahan adalah proses belajar yang sangat panjang melebihi masa belajar akademiknya.


Hari terus berlanjut sesuai jalannya. Siang dan malam berganti terus menerus hingga mengantarkan pekan pertama libur semester Myria telah usai. Angkasa telah pulang dan menjalani hari di rumah. Pemuda itu sehat. Bisa ke mana pun yang dimau dengan catatan ada yang menemani atau mengantar karena belum bisa naik motor.


Malam hari selepas magrib, Myria dapat telepon dari Friska. Sahabatnya itu bilang ingin menjenguk Angkasa bersama teman-teman lain. Myria bingung menjawab dan akhirnya ditanyakan pada ibu mertua.


Nyonya Nasita tentu saja menyambut dengan sukacita, sementara Angkasa hanya diam tak mempermasalahkan.


“Hai.” Friska datang bersama empat pemuda satu geng Angkasa yang kemarin ada di rumah sakit. Para pemuda itu melambaikan tangan dan melempar senyum pada Myria.


Satu pekan lamanya tidak bertemu, membuat Friska dan Myria sama-sama rindu. Terbiasa ke mana pun berdua, kini terasa aneh dan sepi saat di rumah sendiri-sendiri.


“Ayo, masuk semua.” Dibukakannya pintu lebih lebar, agar teman-temannya masuk dan bisa duduk. Myria bergegas pamit ke belakang untuk mengambil minum.


Saat semua orang baru duduk, Angkasa muncul. Pemuda itu datang dan melakukan tos pada teman-teman satu per satu kecuali Friska. “Sakti mana?”


Tidak ada yang menjawab. Semua orang saling pandang dan melempar wewenang untuk menjawab. Bahkan, Friska yang melihat merasa bingung.


“Dia masih marah sama gue?” Angkasa bertanya sembari mundur untuk duduk di sofa yang masih kosong.

__ADS_1


“Eee ….” Satu pemuda berkaus hitam menggaruk kepala. Dia ragu ingin menjelaskan. Namun, karena dipandangi Angkasa terus menerus, akhirnya mengaku. “Sebenarnya kita nggak kasih kabar kalau mau ke sini, Ka.”


Melihat tatapan Angkasa yang mulai berubah, pemuda itu buru-buru menjelaskan lagi. “Kita-kita khawatir, takutnya elo sama Sakti ntar berantem. Jadi, kita diem-diem aja. Nggak kasih info di GC.”


Angkasa berdecak. Kemudian, hendak bicara tetapi Myria datang. Istrinya membawa banyak camilan di satu nampan, sementara dua asisten rumah tangga membuntuti di belakang membawa minum.


“Gue aja yang telepon dia.”


Keputusan Angkasa membuat teman satu geng tersenyum kecut. Mereka saling pandang lagi, lalu sama-sama mengangkat tangan pertanda menyerah. Tidak ada yang akan menghalangi Angkasa menghubungi Sakti. Perkara para sahabatnya itu akan bertengkar atau tidak, urusan nanti.


Baru datang, Myria dibuat bingung. Dia melirik semua orang dan makin bingung melihat ekspresi teman-temannya. “Kalian kenapa?” tanyanya karena tak betah.


“Nggak kenapa-kenapa, My.” Salah satu menjawab sambil menyengir lebar.


“Nggak mungkin.” Kelewat kepo membuat Myria meninggikan suara. Alhasil, Angkasa yang ada di samping, yang sedang berusaha menelepon Sakti, langsung menarik dan memelototi.


Sadar tingkahnya keliru dan mengundang ketidaksukaan Angkasa, Myria menutup mulut. Bibirnya otomatis saling merapat dan dilihat para cowok-cowok yang ada di sana. Para pemuda itu menahan tawa melihat tindakan Angkasa memperlakukan Myria.


“Nurut banget Myria sama Kasa.” Salah satu berbisik dan ditanggapi teman di sebelahnya.


“Beruntunglah, Bro, kalau Kasa dapat istri penurut. Daripada cewek modelan kayak Erika dulu. Ampun dah gue lihatnya aja mual.” Lain lagi tanggapan terlontar. Empat cowok itu justru sibuk membicarakan sahabatnya.


Friska yang mendengar sampai geleng-geleng.


“Nggak diangkat ni anak.” Berkali-kali panggilan tersambung, tetapi tidak pula ada jawaban dari Sakti. Angkasa sampai sebal menghadapinya. Mungkinkah sahabatnya itu benar-benar marah dan akan memutus pertemanan perkara berebut Myria?


“Coba nomor gue, Ka.” Cowok berbaju hitam tadi mengeluarkan ponsel. Dia hendak mencoba menghubungi Sakti pula.

__ADS_1


“Nggak usah nelepon. Gue udah di sini.” Belum sempat panggilan tersambung, orang yang dibicarakan sudah berada di ambang pintu dengan menenteng helm. Wajahnya datar tanpa ekspresi konyol seperti biasa, tetapi lebih ke arah serius layaknya pria dewasa. Apalagi, tatapan Sakti saat mengarah pada Myria yang duduk di samping Angkasa.


__ADS_2