Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 24: Sorry


__ADS_3

Friska buru-buru turun. Dia mendatangi sahabatnya yang ada di pelukan Angkasa. Gadis itu segera memisah. “Kasa! Apaan, sih, lo main peluk-peluk?” Mata beriris hitam milik Friska melotot, sementara tangannya sudah mencengkeram lengan Myria.


Angkasa nyaris menyerang balik, tetapi Myria yang ada di belakang Friska menggeleng. Pemuda itu hanya bisa membuang napas saat mendapat kode larangan seperti itu. “Iya, sorry. Gue khilaf.” Akhirnya hanya jawaban demikian yang keluar meski hati sedikit dongkol.


“Dosa tahu nggak?” Friska masih emosi. Dia bergegas membawa Myria pergi dengan berjalan kaki, melewati Angkasa begitu saja.


Akan tetapi, tentu saja Angkasa tidak diam. Dia berlari kecil dan menghalangi langkah Friska. “Mau bawa dia ke mana?”


“Baliklah!” Friska menjawab ketus. Wajahnya masih tegang dan menyiratkan ketidaksukaan pada Angkasa.


“Dia balik sama gue.”


Friska terdiam. Dia baru ingat jika Angkasa membawanya memang untuk mencari Myria. Gara-gara adegan pelukan tadi, gadis itu lupa dan gelap mata. “Nggak boleh! Bahaya kalau Myria balik sama lo. Yang ada justru makin aneh-aneh. Gue sebagai sahabatnya nggak terima!”


Angkasa meraup wajah. Dia ingin berteriak karena kesabarannya mulai habis. Badan lelah, perut belum terisi, gerimis tak kunjung reda benar-benar menguji iman dan menjadi faktor dirinya ingin uring-uringan.


“Friska, please percaya sama gue. Sahabat lo pasti aman dan damai balik sama gue. Kalau lo ragu, lo bisa video call sepanjang jalan biar tahu kalau dia utuh sampai rumah.” Gigi-gigi Angkasa sampai mengerat lantaran menahan geram. Dia ingin masalah segera berakhir, tetapi rintangan satu itu tak kunjung terselesaikan. Sebenarnya, Angkasa paham maksud Friska, tetapi waktunya kurang tepat.


Penglihatan Angkasa mengarah pada Myria. Dia berusaha memberi kode agar istrinya itu bertindak dan menghentikan tingkah Friska. Andai Myria mengizinkan, Angkasa pasti sudah bilang soal status tersembunyi yang dijalani.


“Fris, aku nggak pa-pa, kok.” Myria mengambil alih pembicaraan. Dia menatap Friska dan berkata lagi, “Percaya aja, Kasa pasti tahu batasan. Nanti aku hubungi kamu kalau sampai rumah.”


“Nggak pa-pa gimana? Lihat wajah kamu, My? Mata sembab gini, kamu kira aku buta?”


“Ini ….” Myria melipat bibir sambil meraba kelopak mata. Semua orang juga tahu perbedaan wajah seseorang usai menangis. “Ya, ini karena aku kangen Ibu. Tapi habis dari makam udah lega. Jadi nggak perlu khawatirin aku.” Senyum terlukis di bibir Myria dengan susah payah agar sahabatnya luluh. Tidak memungkiri, kesedihan mendalam bukan hanya berasal dari kerinduan saja, tetapi dari arah lain turut menyumbang.


Friska menghela napas. “Udah, pulang sama aku aja. Aku anterin kamu.”

__ADS_1


Mendengar ucapan Friska, sepasang pengantin muda itu langsung menoleh bersamaan. Angkasa yang maju lebih dahulu. “Ngapain dianter? Gue kesini sengaja jemput dia. Lo lupa?” Ucapan Angkasa mulai tidak ramah. Tatapan pemuda itu meruncing dan mengintimidasi.


Bibir Friska mulai bergerak dan hendak membalas, tetapi tesergah lagi oleh Angkasa. “Dia tinggal sama gue. Kami searah. Kalau lo maksa buat nganter dia, yang ada justru bolak balik bikin capek. Udahlah, Friska, gue nggak bakal ngapa-ngapain. Lo juga perlu lihat baju dia udah basah kayak gitu. Nggak kasihan lo?”


Mata Myria membulat mendengar pengakuan Angkasa mengenai tempat tinggalnya. Gadis itu menggeleng beberapa kali agar sang suami meralat ucapan, tetapi tidak digubris. Dia tidak tahu saja bahwa suaminya sudah mengatakan itu sebelum sampai.


Friska terdiam. Dia menoleh pada Myria, lalu ditanggapi dengan senyum kikuk. Hati sahabatnya tengah waswas jika ditanya macam-macam. “Kamu mau pulang sama dia, My?”


Pertanyaan Friska membuat Myria gelagapan. Gadis berseragam SMA itu mengira jika sahabatnya akan syok mendengar dirinya tinggal bersama Angkasa. Namun, ternyata, tanggapan Friska di luar dugaan.


Keheranan menyelinap di hati. Myria ingin tahu mengapa Friska bisa begitu tenang. Akan tetapi, jika mengingat Angkasa yang mulai marah-marah, Myria lebih baik menelan rasa herannya itu. Dia mengangguk pelan. “Yah, aku nggak pa-pa pulang sama Kasa. Nanti aku pasti kabari.”


Perdebatan dicukupkan. Friska mengangguk dan mengulas senyum.


“Bawa aja motor gue, Fris.” Kunci diserahkan Angkasa. “Nggak usah protes biar cepet kelar. Lo bisa balikin besok aja atau kapan terserah. Tapi kalau khawatir, bawa aja besok ke sekolah. Gue bisa naik taksi sama Myria sekarang.”


Daripada ribut lagi, Friska menurut. “Tapi kalian perlu ke pinggir jalan raya buat dapat taksi. Ayo bonceng tiga dulu, sampai sana nanti aku bawa motornya.”


Paham perkataan teman kelasnya, Friska setuju dan pamit pada Myria. Awalnya, dia hendak menunggu, tetapi telepon dari sang ibu membuatnya harus segera pulang.


Kebisuan melanda dua remaja yang kini berteduh di ruko kosong pinggir jalan tersebut. Myria menjaga jarak dari suaminya karena menganggap Angkasa masih marah. Dia tidak berani bicara dan membiarkan cowok itu sibuk dengan ponsel.


Tiupan angin menghentikan gerakan jemari Angkasa menggulir layar. Dia menoleh pada Myria dan baru sadar jika berada jauh dari sang istri. Ponsel masuk saku jaket yang dipakai, Angkasa mendekat. “Lo kedinginan?”


Myria menoleh, lalu menunduk sambil menggeleng. Meski jilbab dan seragam bagian atasnya basah, dia enggan mengaku.


Napas berat keluar dari bibir Angkasa. Cowok itu menarik tangan hingga Myria berputar menghadap padanya. Ditariknya satu tangan yang lain, lalu dipertemukan ke dalam satu genggaman. Angkasa mulai menggosor telapak tangan Myria dengan telapak tangannya. “Bibir lo udah pucet dari tadi, masih aja nggak mau ngaku. Nunggu taksi lama, gue minta sopir Mama jemput kemari. Sabar, ya.”

__ADS_1


Myria mengangguk dalam diam. Ada rasa hangat menjalar dari telapak tangan hingga ke dada. Dia sedikit lega karena Angkasa sudah mau bicara. “Kasa,” panggilnya sembari mengangkat wajah dan menyatukan pandangan.


“Hm?” Angkasa membalas tatapan tak kalah lembut. Dia yang kemarin terlihat menyeramkan saat mengamuk, kini terlihat lebih tenang di mata Myria.


“Aku … minta maaf.”


“Kenapa minta maaf? Justru gue yang harusnya bilang gitu.” Angkasa menjawab dengan tangan masih terus menggosok pelan. “Sorry kalau gue nyakitin lo kemarin, sorry juga kalau udah bikin lo nangis kayak gini. Gue bener-bener di luar kendali, My. Keseringan mendem perasaan nggak nyaman sama aturan nyokap, adakalanya gue nggak kekontrol. Sorry banget kalau lo sakit hati.”


Mata Myria mengerjap lamban saat berusaha memahami pembicaraan. Jika dinalar dengan pikiran jernih, apa yang dilakukan Angkasa adalah sikap wajar dari seorang manusia apalagi remaja di masa-masa SMA. Anak muda tergolong suka kebebasan dan sedikit aturan sebelum menemukan jati diri yang sesungguhnya, termasuk dirinya dan Angkasa. Hanya saja, kebebasan itu tidak didapat karena suatu alasan hingga menimbulkan pemberontakan.


“Aku nanti ngomong sama Bunda biar motormu kembali.”


Alis Angkasa naik satu sisi. Dua tangannya pindah ke atas kepala dan menarik jilbab Myria yang berantakan. Dia tersenyum. “Nggak usah. Gue bisa ngurus ini sendiri. Lagian pakek motor yang ada juga nggak masalah, cuma butuh penyesuaian dikit karena nggak setinggi motor biasanya.”


Senyum Myria ikut mengembang. Dia mengangguk dan terima keputusan suaminya. “Kamu belum boncengin aku pakek motor baru,” kata gadis itu untuk mencairkan suasana yang tadi serius.


“Tumben lo bilang gitu? Biasanya dipaksa dulu baru mau. Udah nggak takut lagi sama gue?”


“Aku nggak pernah takut sama kamu kalau di luaran gini.”


“Maksud lo? Lo cuma takut kalau kita di kamar berdua gitu?”


Myria manggut-manggut membenarkan.


Angkasa tergelak. Ide mendadak muncul di kepala. Dia rendahkan badan dan berbisik tepat di samping telinga Myria. “Suatu saat kalau ketakutan lo udah ilang, bilang sama gue.”


Myria melotot. Dia lantas mendorong Angkasa dan menjauh. Pagar kewaspadaan segera dibangun agar selamat.

__ADS_1


Kondisi hujan, malam mulai sepi dan berada di ruko kosong, siapa yang tahu jika ada setan berbisik untuk melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. “Kasa, istighfar.”


“Kenapa? Gue normal kali, My. Mana ada cowok bisa diem aja kalau ada cewek tidur di sampingnya tiap hari? Kalaupun ada, suatu saat pasti goyah juga. Termasuk gue.”


__ADS_2