
Perhatian Angkasa teralihkan atas kedatangan seseorang. Kala menoleh sepenuhnya, dia terheran melihat Myria. “Kenapa ngos-ngosan gitu?” tanya pemuda itu sambil menarik sang istri agar duduk.
Semua bawaan diletakkan Myria ke bangku. Dia menarik sebotol minum lalu mengulir tutupnya untuk dibuka. Selepas itu, baru diberikan pada Angkasa. “Enggak, aku khawatir kamu ilang.”
“Nggak bakalan. Lagian aku bukan bocah. Kalau bilang enggak, ya, enggak. Lain kali nggak perlu gini lagi sampek kehabisan napas gitu. Kayak dauber apa aja kamu.”
“Iya.” Myria menjawab malas. Terkesan mengganggu sekali saat Angkasa rewel seperti itu. “Nih, minum,” lanjutnya sembari menyodorkan air.
Dibantu Myria memegang botol, Angkasa meneguk minum secara hati-hati. Dia kadang sedikit kesulitan saat makan atau minum karena tangan kiri yang terluka tidak bisa terangkat, sementara tangan kanan tertanam selang infus.
“Beli es krim nggak, My?” Pertanyaan lain lagi dari Angkasa. Satu permintaan dituruti, ternyata tak cukup dan justru muncul permintaan selanjutnya.
“Ya enggak. Kamu nggak bilang pengin es krim tadi.”
Bibir Angkasa mengerucut. Dia lantas melengos dan tak lagi menambah bahan pembicaraan.
Myria sampai menganga melihat sikap Angkasa. Baru kali ini gadis itu mendapati sang suami berekspresi demikian. Dia mendekat, lalu mengusap punggung. “Kasa,” panggilnya lirih.
__ADS_1
Akan tetapi, orang yang dipanggil bergeming. Dua telinganya mendadak tuli.
Tidak kunjung dapat respons padahal sudah hampir beberapa menit, Myria berujar lagi. “Kasa, kamu ngambek? Ya, udah, aku beliin dulu. Tunggu di sini.”
Segera Myria beranjak daripada didiamkan Angkasa hingga nanti. Hanya perkara es krim, permintaan itu tidak sulit untuk dikabulkan. Namun, belum sepenuhnya tubuh terangkat, Myria berhenti bergerak.
“Kasa.” Panggilan dari orang lain menyapa pendengaran Myria dan Angkasa secara bersamaan.
Angkasa menoleh ke belakang. Dua matanya terbuka lebar melihat dua orang dewasa datang menghampiri.
“Kenapa Tante kemari?” Suara Angkasa berubah berat. tatapan matanya menajam disertai wajah yang dingin. Dengan berpegangan tiang infus, pemuda itu berdiri.
“Dari mana Tante tahu rumahku?” Aura kebencian makin meninggi. Baru kali ini Angkasa tidak peduli dan berani bersikap kurang sopan pada orang tua. Kesabarannnya telah dilumat habis atas insiden yang mengenai dirinya dan membahayakan Myria kemarin.
“Tante tanya pada wali kelasmu. Dia awalnya menolak, tapi Tante paksa.”
Angkasa menggeram. Satu tangan yang berada di genggaman Myria sampai meremas kuat. “Tante mengganggu privasiku. Aku nggak pengin ketemu siapa pun.”
__ADS_1
Usai mengucap itu, Angkasa hendak pergi. Namun, dia ditahan. “Kasa, Tante mohon maafkan Erika. Bilang pada ibu dan ayahmu untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.”
“Kekeluargaan?” Ingin sekali Angkasa menertawakan ucapan ibunda Erika. Sungguh, apa yang ada di pikiran wanita dewasa itu sebenarnya? Memang benar kasih sayang ibu tiada batas, tetapi ketika anaknya salah, apakah tetap dibiarkan begitu saja? Angkasa tak habis pikir.
“Aku hampir mati di tangan para pria bayaran yang disuruh Erika, Tante. Dan Myria hampir kehilangan kehormatannya. Teman sebangkuku sampai sekarang masih terbaring lemah di tempat tidur, bisa-bisanya Tante bilang memaafkan Erika?” Suara Angkasa mulai meninggi hingga memancing perhatian sekitar. Dadanya naik turun seiring napas yang tersengal. Angkasa muak mendengar perkara Erika. Rasanya dia ingin mantan kekasihnya itu mendekam di penjara dan tidak bertemu lagi sampai kapan pun.
“Kasa, Tante tahu Erika salah. Tapi dia masih kecil. Dia masih harus sekolah seperti kamu. Tante mohon, rayu ibumu agar mau berdamai.” Ibunda Erika masih terus berusaha. Wajahnya memelas dengan ekspresi sedih. Sesekali tangan yang dipenuhi cincin dan gelang emas itu menyeka sudut mata yang basah.
Sikap ibunda Erika terus menjadi perhatian Myria. Gadis itu melipat bibir tanpa ingin bersuara. Sebenarnya, ada sedikit rasa iba di hati setiap melihat seorang ibu menangisi sang anak. Andai dirinya berada di posisi ibunda Erika, mungkin akan merasakan sakit hati yang luar biasa pula.
Akan tetapi, Myria tetap sadar dan memakai pikiran warasnya bahwa semua tindakan Erika merugikan banyak pihak. Dia memaklumi jika Angkasa maupun Nyonya Nasita enggan untuk menyerah atau menarik semua tuntutan.
Angkasa bergeming. Jangankan menjawab, melihat wajah kedua orang tua Erika saja sudah enggan. Pemuda berkemeja biru muda itu bergumam pelan mengajak Myria pergi.
“Kasa, tunggu!” Ayah Erika yang sejak tadi diam, kini ikut menahan. Pria dengan jas hitam itu mengadang jalan. “Kamu dan Erika dulu saling mencintai, kan? Om kira kamu tidak akan setega ini.”
Genggaman tangan Myria mengendur mendengar ungkapan pria di depannya. Ketika membahas masa lalu sang suami, memang ada rasa tidak nyaman di hati.
__ADS_1
Lagi-lagi Angkasa membuang muka. Dia mengembuskan napas cukup kuat. “Maaf, Om. Itu cuma masa lalu. Sekarang aku nggak ada perasaan apa-apa lagi sama Erika. Aku sudah punya masa depanku sendiri bersama Myria. Jadi jangan temui kami lagi. Permisi.”
Ada keterkejutan dan berujung keheranan di pikiran kedua orang tua Erika. Pria dan wanita itu tidak begitu mengerti maksud Angkasa sepenuhnya. Tepat ketika pintu lift terbuka dan hampir menutup, ibunda Erika berteriak, “Kasa, Erika masih menyukaimu. Pikirkan itu lagi!”