Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 79: Tawa Bersama


__ADS_3

“Apa Anda tidak ingin menemui Nona di sekolahnya saja, Tuan? Sudah hampir dua pekan sejak saat itu Nona belum bertemu Anda lagi.” Sembari menyerahkan laporan keuangan, Daniel memberi saran. Asisten Tuan Tirta itu tidak tega melihat bosnya banyak melamun sejak kepergian Myria dari restoran.


Sepuluh hari lalu, setelah mendengar pengakuan Tuan Tirta tentang kehidupan baru, Myria langsung pamit. Gadis itu tidak bicara apa pun lagi dan hanya memberi peluk serta cium tangan berpamitan. Diantar pun, Myria tidak mau karena memilih dijemput sopir keluarga Angkasa.


Daniel yang melihat perubahan Myria sempat ingin menahan, tetapi lagi-lagi Tuan Tirta tidak memberi izin.


“Tidak, Dan. Aku tidak ingin memaksanya. Aku khawatir dia akan makin jauh nanti kalau terus menerus dikejar. Biarkan saja. Lagi pula, setiap hari dia masih mengirim pesan padaku untuk jaga kesehatan dan makan tepat waktu. Myria hanya ingin sendiri sementara ini, nanti juga kemari kalau sudah merasa tenang.”


Daniel tak lagi bisa menyanggah keputusan sang bos. Pria muda itu mundur dan kembali ke ruangannya.


Di sisi lain, Myria masih berkutat penuh dengan pelajaran. Hari banyak berlalu, dirinya dan yang lain makin dekat dengan uji coba ujian kelulusan. Tak ingin dapat nilai buruk, sebagai siswa yang selalu dapat jatah beasiswa, Myria berusaha bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan.


Meski sebenarnya Myria bisa saja mengajukan pengembalian beasiswa sejak semester lalu karena Nyonya Nasita siap menanggung sepenuhnya biaya dua siswa sekaligus, Myria tidak melakukan itu. Dia tak ingin bergantung pada ibu mertua.


“My, lihat, deh, ini. Di bab ini ada tugas bikin novel, nih, pasti. Kira-kira berapa lama guru ntar ngasih waktu?”


“Bikin novel sebulan paling kelar, Fris. Tapi kalau itu niat dan ide udah matang.” Myria menyengir setelah menjawab. Dia tidak sepenuhnya yakin dengan jawaban yang terlontar. Pasalnya, novel online sendiri yang ditulis dari beberapa bulan lalu tak kunjung selesai karena kadang tak cukup membagi waktu antara tugas sekolah, belajar, dan menemani Angkasa.


“Enak bener kamu ngomong gitu. Kamu enak karena udah kebiasaan ngarang. Kalau aku yang bikin, mungkin harus semedi dulu buat nyari ide. Belum belajar tanda baca.” Belum kebagian tugas, Friska sudah lemas sendiri membayangkan. Padahal, sang guru baru akan membahas unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam karya fiksi berupa novel.


Tindakan Friska selalu ada yang membuat Myria terkikik. Dua gadis itu selalu memiliki pembahasan aneh bin nyleneh hingga mengundang tawa. Angkasa yang kebagian di belakang hanya jadi pendengar sesekali.


Pembelajaran terus berjalan. Saat ini, masalah di sekolah bagi Myria telah selesai. Tak ada lagi manusia semacam Erika, tetapi pengagum Angkasa memang tetap ada. Selama pernikahannya aman dari mulut-mulut teledor yang sengaja membocorkan, Myria rasa tak akan ada lagi teror mengganggu.


Satu geng teman-teman Angkasa begitu memahami. Para pemuda itu tidak pernah membahas ataupun menggoda saat di sekolah. Hanya sesekali menggoda saat di kantin, tetapi tidak terlalu ditanggapi oleh Myria maupun Angkasa.


Risti yang tahu Erika telah dikeluarkan dari sekolah ketakutan. Dia meminta maaf pada Myria dan Friska, lalu mengajukan diri pindah sekolah lagi meski mendekati ujian.


“Ayo, ikut.” Lengan Myria yang baru saja menyampirkan tali ransel ke bahu, ditarik Angkasa. Gadis itu gelagapan.

__ADS_1


“Ke mana?”


“Ntar juga tahu.”


Dua alis Myria terangkat bersama. Dia memandang sekeliling dan mendapatkan kondisi kelas yang telah hening. Pantas saja Angkasa berani pegang-pegang tanpa izin.


“Iya, tapi ke mana?”


“Bawel mulu, aku tarik!” Tidak banyak berubah, Angkasa memang masih sering memaksa istrinya. Myria yang paham itu mau tak mau harus mengalah.


Friska yang masih duduk berdecak. Ketika sudah menyangkut urusan rumah tangga sahabatnya, gadis itu tak banyak ikut campur. “Gue pulang duluan, nih?” tanyanya dan berhasil mengalihkan perhatian.


“Eh, nggak usah. Aku tunggu Kasa di halte aja sama kamu, Fris.”


Friska mengembalikan tatapan pada Angkasa. Dia mengangkat dagu. “Gimana, Ka?”


“Serah lo. Tapi jangan naik angkutan dulu sebelum gue dateng.”


Pertanyaan Myria akhirnya terjawab saat Angkasa menghentikan motor di sebuah bengkel. Cowok itu langsung turun dan melepas helm, sementara Myria terlihat kebingungan di belakang.


“Malah bengong,” kata Angkasa. Dia mendekat dan melepas helm sang istri. “Lepas helmmu. Mau dibawa masuk?”


“Ih, aku bisa sendiri. Malu dilihatin orang.” Hendak mengelak, tetapi Myria terlambat. Helm sudah terangkat dari kepala dan orang-orang yang ada di bengkel sudah memperhatikan pula.


“Udah telanjur. Ayo, ikut.”


“Ke mana lagi?”


“Tunggu di dalem. Mau nunggu panas-panasan di sini?” Angkasa melenggang pergi. Mau tak mau Myria mengikuti. Cowok itu berteriak pada satu pegawai yang ada di sana. “Bang, tolong gantiin oli motor gue.”

__ADS_1


Satu pekerja yang masih belepotan oli menyahut. Pria itu memperhatikan Myria sampai gadis itu hilang di sebuah ruang.


Bingung karena Angkasa bebas memasuki ruang di dalam bengkel dan tidak menunggu seperti pelanggan lain, Myria akhirnya bertanya, “Kok, kamu masuk sini?”


“Udah dibilang daripada nunggu di luar panas nggak ada AC.”


“Iya, tapi ini kayak bukan ruang tunggu, deh, Ka.”


Angkasa membuka kulkas yang berisi beberapa kaleng minum. Dia mengambil dua lalu menyerahkan satu pada Myria. “Bukannya Mama udah sering bilang kalau aku ada bengkel?”


“Hah? Maksudmu?”


“Ya, ini bengkel yang sering aku datengin, sekaligus sumber uang jajan kamu.”


Nyaris saja minuman menyembur dari mulut Myria mendengar pengakuan Angkasa. “Maksudnya gimana, sih? Selama ini Bunda yang kasih uang saku aku.”


Angkasa mengulum senyum tipis. Dia merebahkan badan dan menaruh kepala di pangkuan Myria. “Uang itu dari aku, My. Usaha bengkel ini atas namaku, semua ini hadiah dari Papa waktu kelulusan SMP. Dulu berupa uang tabungan ngasihnya, tapi karena sayang cuma didiemin di rekening, aku kembangin buat modal. Sengaja buka bengkel ini karena hobiku balapan.”


Mulut Myria terbuka sebesar bola bekel beberapa detik. Selama ini, dia kira Angkasa ke bengkel tempat orang lain, tetapi nyatanya milik sendiri. Tidak mengira pula Angkasa begitu pandai memutar uang.


“Kamu nggak nyangka, ya?” Angkasa terkekeh melihat ekspresi Myria. Dia ganti miring ke samping dan menelusupkan tangan ke pinggang sang istri. “Jangan dipikir, doain aja makin berkembang biar bisa buka cabang. Suatu saat aku mau bangun perusahaan manufaktur buat produksi onderdil motor.”


Myria menahan tawa saat mendengar Angkasa. Bukan karena impian suaminya itu, melainkan karena merasa geli saat wajah Angkasa sengaja menempel di perut. “Kasa, ih! Geli tahu! Tapi by the way, jiwa bisnismu keren ternyata.”


“Kalau mindset-ku nggak berkembang, bisa dicoret dari KK aku sama Papa-Mama.”


Tawa tak bisa lagi ditahan, Myria akhirnya melepasnya begitu saja bersama Angkasa. Suami mudanya itu justru makin usil dengan menggelitik perut.


“Kasa, udah!” Pipi dan perut terasa kaku, Myria sampai menepuk lengan sang suami.

__ADS_1


Angkasa bangun dan duduk. Dia menarik Myria ke pelukan. “My, aku seneng kalau lihat kamu ketawa gini.”


__ADS_2