Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 78: Suatu Fakta


__ADS_3

Dunia terasa runtuh seketika saat telinga mendengar jawaban Tuan Tirta. Kaki Myria lemas tiba-tiba dan nyaris jatuh andai Angkasa tidak menghampiri.


Tuan Tirta segera turun dengan wajah panik, disusul Daniel di belakangnya. Pria itu mendekat. “Kamu baik-baik saja, Nak? Apa kita harus kembali ke rumah sakit?”


Masih di pelukan Angkasa, Myria menggeleng pelan.  Dia tahan sebisa mungkin air mata yang mendesak ingin keluar. “Tidak, Ayah. Aku hanya ….”


“Ayah akan menjelaskan semuanya nanti. Sekarang kamu masuklah sebelum ibadah dimulai.”


Bersama Friska, Myria segera pergi menuju area khusus wanita. Dua gadis itu berjalan beriringan, sementara Angkasa berbelok ke sisi lain untuk mengambil wudu. Salat jamaah segera ditunaikan, tiga anak muda itu beribadah bersama jamaah lain.


Selepas Ba’diyah Magrib, Myria tak segera angkat kaki dari shafnya. Gadis itu merenung dalam doa yang dilangitkan pada Sang Pencipta. Makin banyak pertanyaan timbul mengisi kepala, bagaimana sang ibunda bisa menikah dengan sang ayah yang berbeda agama.


Friska di samping Myria terdiam. Dia menunggu sahabatnya sambil melipat mukena. Gadis itu coba memahami bagaimana kecewanya Myria saat mendengar pernyataan Tuan Tirta beberapa menit lalu.


“Sudah.” Ketika Myria telah mengusap wajah, Friska baru berani bertanya dan pertanyaan itu ditanggapi dengan anggukan.


“Ayo,” kata Myria dengan nada pelan. Tangannya mendekap mukena, lalu mengembalikan alat salat itu ke tempat asal.


Dua gadis seumuran itu keluar bersama. Ternyata di luar, Angkasa telah menanti di undakan tangga. Cowok itu sudah mengenakan sepatu dan terlihat menghubungi seseorang. Angkasa lekas mematikan panggilan saat melihat kemunculan sang istri.

__ADS_1


“Apa mau pulang aja?” Bukan lupa tentang tawaran Tuan Tirta, melainkan Angkasa sengaja mengajak Myria pulang karena khawatir.  “Aku yang ngomong sama Ayah Mertua. Nggak usah dipaksa kalau kamu syok gini.”


Myria menggeleng lemah. Dia memakai sepatunya dan berdiri. “Nggak usah. Nanti sampek rumah malah kepikiran. Kita makan aja, tadi Ayah udah bilang mau cerita, kan?”


Angkasa menurut. Dia percaya pada Myria sepenuhnya. Pemuda itu yakin bahwa sang istri paham kapasitas diri sendiri dalam menghadapi persoalan.


Mobil kembali melaju dan berhenti di sebuah restoran. Sorot lampu ruangan langsung menyambut penglihatan Tuan Tirta dan lainnya begitu masuk. Beliau memilih meja yang berisi banyak kursi agar bisa duduk bersama. Daniel hendak duduk sendiri agar tidak mengganggu, tetapi Myria melarang.


“Makan yang enak untuk kalian. Pasti sebentar lagi ujian, kan?”


Tiga anak muda yang masih berseragam itu mengangguk serempak. Angkasa masih setia duduk di samping Myria, sementara Friska berada di sampingnya lagi. Tuan Tirta memang meminta Myria duduk di sebelahnya dan alhasil gadis itu diapit suami dan sang ayah.


Akan tetapi, selezat apa pun santapan malam ini, Myria begitu sulit menikmati. Tangannya memang sibuk menyuap sejak tadi, tetapi lidahnya berubah pahit seolah menelan obat.


Semua pergerakan yang dilakukan Myria diawasi Angkasa. Cowok itu ingin menyuapi sang istri andai bisa saking prihatinnya.


Di tengah menikmati makanan, Tuan Tirta berdehem pelan dan berhasil mengundang perhatian semua orang. Pria berjas biru tua itu menaruh garpu sebentar, lalu mengusap kepala Myria.


“Kamu tidak berselera dengan makanan ini, Nak? Apa mau pesan yang lain?”

__ADS_1


Myria menggeleng cepat. Dia menelan makanan susah payah. “Bukan, Ayah. Ini enak, kok. Tidak perlu beli yang lain.”


Lagi-lagi Tuan Tirta tersenyum. Dia menarik napas sebentar. “Ayah akan katakan alasan kenapa Ayah tidak beriman sepertimu.”


Bibir Myria mengatup. Akhirnya yang sejak tadi ditunggu dan mengganggu batin akan terjawab sebentar lagi. Dia memandang Tuan Tirta lekat-lekat, bahkan Angkasa dan Friska turut menyimak. Tangan masing-masing anak muda itu begitu kompak terhenti.


“Selama ini Ayah tidak tinggal di sini. Setelah kecelakaan parah, seseorang menolong Ayah dan membantu sampai sembuh. Ayah tinggal dengan beliau di Singapura karena perusahaannya di sana. Dan selama amnesia itu, Ayah hidup sesuai cara mereka, termasuk dalam hal agama.”


Sendok Myria tertaruh rapi di piring. Selera makannya mendadak menguap ke udara. “Lalu, Ayah?”


“Banyak hal terjadi selama Ayah membangun ingatan kembali. Bahkan orang yang menolong Ayah, menjodohkan Ayah dengan putrinya. Namanya, Caroline, istri Ayah sampai sekarang.”


Dada Myria sesak mendengar apa yang diutarakan Tuan Tirta. Dia membekap mulut dengan dua tangan sekaligus. “A–Ayah ….” Luruh juga air mata yang ditahan. Kali ini, Myria tak bisa menyembunyikan kesedihan.


Angkasa sigap merangkul dan mengusap lengan Myria dari samping. Cowok itu berusaha memberi ketenangan meski dirinya sama-sama kaget.


“Maafkan, Ayah. Ayah tahu pasti kamu kecewa karena kita beda keyakinan dan Ayah menikah lagi. Tapi memang setelah ingatan kembali, Ayah tidak mungkin menceraikannya begitu saja. Ayah sangat berharap kamu mengerti.”


-

__ADS_1


......................


__ADS_2