
“Oh, sh i-t t!” Batin Sakti mengumpat seiring botol air minum yang ada di tangan terbanting. Pemandangan di depan matanya sungguh membakar jiwa. Hati serta kepala Sakti tentu panas dan mengebul. Dia ingin menyeret Angkasa agar jauh dari Myria.
Ketua tim basket itu berteriak, “Ka! Main lagi nggak lo!”
Semua orang tersadar, termasuk Myria. Gadis itu langsung mundur dan memberi jarak antara dirinya dan Angkasa. Hal seperti tadi seharusnya tidak terjadi, tetapi dia kehilangan akal dalam sesaat hingga tak mampu menolak.
Angkasa memutar kepala dan bahu mengarah pada timnya. Dia balas berteriak, “Iya! Sewot amat lo!” Pemuda itu menghadap lagi pada istrinya, lalu berkata lirih, “Lo harus di sini buat dukung gue biar menang.”
“Pasti, Ka!” Friska yang sejak tadi sembunyi di balik badan Myria, langsung muncul dan mengacungkan dua jempol. Kepala gadis itu menyembul di atas bahu sahabatnya sambil menyengir. Bisa-bisanya gadis itu begitu enteng menyetujui tanpa minta pendapat, padahal Myria ingin sekali menjawab tidak untuk permintaan Angkasa barusan.
“Oke, gue balik main kalau gitu.” Angkasa tersenyum manis. Lesung pipinya sampai terlihat dan membuat siswi di sekitar Myria heboh. Bahkan, saking hebohnya, beberapa adik kelas berteriak histeris dan memegangi dada masing-masing karena tidak kuat.
Selepas kepergian Angkasa, nasib Myria sepertinya kurang baik. Beberapa adik kelas langsung mendekat dan menyerbu dengan pertanyaan.
“Kakak, ada hubungan apa sama Kak Kasa?” Satu pertanyaan muncul dari gadis berambut hitam kecokelatan yang tergerai indah. Polesan mekapnya terlihat jelas saat mendekat.
Belum tuntas satu, yang lain ikut menyela, “Bagi ilmunya, dong, Kak, biar bisa dapet perhatian dari Kak Kasa.”
“Iya, Kak. Atau kalau nggak, mintain nomor hapenya Kak Kasa, dong, Kak.”
__ADS_1
“Bener, Kak. Jadi ….”
“Diaam!” Friska langsung mendorong adik-adik kelasnya. Dia habis kesabaran melihat Myria terdesak ke sana kemari.
Sambil berkacak pinggang dan pasang wajah kesal, Friska memberi ultimatum. “Minggir nggak? Kalau nggak, gue laporin kalian semua ke BK karena udah bikin orang nggak nyaman!”
Abaikan pertandingan yang tengah berlangsung, fokus Myria dan Friska ada pada adik kelas yang sedang mengerubungi dan meminta hal konyol perkara Angkasa. Friska rasa harus segera membereskan para penggemar suami sahabatnya itu agar bisa menikmati permainan teman-teman kelasnya dengan damai dan aman.
“Ih, Kak, kok, gitu?” Satu siswi tidak terima. Dia masih berusaha negosiasi. “Kita cuma mau belajar biar bisa ngegaet idola kita.”
“Iya, bener, Kak. Jangan pelit-pelit. Kita juga pengin kenal deket sama Kak Kasa.”
“Kalian pengin tahu kenapa Kasa bisa datengin sahabat gue?” tanya Friska dengan suara bernada lebih rendah.
Adik-adik kelas di depan itu mengangguk antusias. Dua mata mereka masing-masing memancarkan sinar harap untuk sebuah jawaban yang mungkin saja bisa segera ditiru dan dipraktikkan. Tidak masalah tidak menjadi kekasih Angkasa, sudah dapat senyum atau sapaan dari pemuda itu saja, mereka sudah merasa bahagia tiada kira.
“Bayar dulu sama gue!” Tangan Friska tersodor dengan posisi telapak tangan menghadap atas. Ternyata, ada lagi tingkah gadis itu.
Myria mendelik. Dia maju dan menepis tangan Friska.
__ADS_1
“Aoh! My ….”
“Apaan, sih, Fris?” Myria menatap tajam. Baru kali ini dia bersikap demikian pada Friska. “Kita pergi aja!” katanya sedikit ketus.
Baru hendak menarik tangan Friska, Myria justru ditahan oleh adik-adik kelas. Siswi-siswi itu tidak lega jika belum dapat jawaban.
“Kak, jangan cuekin kami, dong.”
“Iya, Kak. Please, bagi tips biar bisa dapat perhatian dari Kak Kasa.”
Sadar tidak bisa kabur sekarang, Myria hanya bisa menghela napas panjang. Hatinya ingin memarahi Angkasa. Gara-gara suaminya itu, dia diserbu seperti barang promoan.
Myria berdehem sebentar. “Adik-Adik, aku sama Kasa memang sekelas. Dia duduk di bangku belakangku. Soal tadi, itu cuma kebetulan aja. Jadi nggak ada tips apa-apa. Soal nomor Angkasa, itu privasi dia. Aku nggak berani ngasih ke siapa pun. Kalian tanya sendiri, ya.”
Selesai dengan penjabaran singkat itu, Myria bergegas pergi. Dia lupakan Angkasa yang masih bertanding. Tidak ada lagi kenyamanan di lapangan jika semua orang menaruh perhatian. Jadi, untuk apa di sana?
Soal Angkasa marah atau apa pun itu, nanti akan Myria susunkan jawaban yang sekiranya bisa diterima. Hal terpenting saat ini, dia ingin kabur.
Melihat kepergian Myria, Erika yang sejak tadi memperhatikan segera menyenggol Risti. Dia ajak sahabatnya untuk menyusul. “Buruan sebelum dua cewek itu jauh.”
__ADS_1