
“Erika!” Suara Risti menggema ke seluruh penjuru kelas. Gadis berambut lurus dengan gelombang bagian bawah itu datang tergopoh-gopoh seperti diburu sesuatu.
Erika yang sedang sibuk dandan sampai berhenti dan menoleh. Dia mendesis sebal. “Apaan, sih, Ris? Ngagetin gue aja. Nggak lihat lo kalau gue lagi pegang jepitan bulu mata?”
Omelan Erika diabaikan, Risti memegang dada dengan badan setengah membungkuk. Napasnya turut tersengal karena ulah sendiri. “Kabar buruk, Rik. Lo harus denger.”
Kembali Erika berdecak. Dia melengos tak acuh dan sibuk menghadap kaca kecil di genggaman. Bulu matanya lebih penting daripada Risti yang bicara tidak jelas sejak tadi. Tidak ada angin, hujan, atau badai, sahabatnya itu nyelonong masuk kelas dengan kehebohan sendiri. Erika kesal melihatnya.
“Gue tadi lihat,” kata Risti sambil mengatur napas. “Gue lihat Kasa semobil sama Myria, Rik. Lo harus tahu ini.”
Sontak, dua mata Erika terbuka lebar. Dia memekik lantaran kelopaknya ikut terjepit saat mendengar omongan Risti berikutnya. Gadis itu menaruh semua barang yang ada di tangan ke meja, lalu menghadap Risti sepenuhnya. “Lo ngomong apa barusan?”
“Gue lihat Kasa sama Myria turun dari mobil yang sama.”
“Serius lo?”
Risti mengangguk cepat. Dia yakin atas apa yang dilihat tadi di depan gerbang. Secara kebetulan, mobil yang mengantarnya berada di mobil yang ditumpangi Angkasa. Risti memang baru kali ini melihat Angkasa diantar dengan kendaraan roda empat, tetapi dia yakin karena hafal perawakan mantan kekasih sahabatnya itu.
“Seriuslah. Gue juga nggak nyangka Kasa dianter, tapi beneran itu tadi Kasa. Rambut, tinggi badannya, semua mirip. Ya, meski dia nggak noleh ke belakang, tapi gue yakin itu dia.”
“Terus Myria?”
“Myria turun habis Kasa. Ya, emang dia duduk di belakang dan Kasa di depan, tapi salty nggak, sih, lo kalau liat gituan?”
Tak lagi bertanya, tetapi sorot mata Erika menunjukkan kemarahan. Tangan yang ada di atas meja mengepal dan memukul sesekali. “Gue nggak mau tinggal diem. Itu cewek berani banget.”
“Ancaman lo kurang nampol, Rik!” Bak bensin yang sengaja disiramkan ke percikan api, begitulah Risti mengompori sahabatnya hingga menimbulkan kobaran amarah makin menggelegak. Dia tersenyum sinis, lalu mulai memikirkan cara untuk memberi pelajaran pada Myria agar jera dan tidak meremehkan.
***
“My, kamu masih punya utang penjelasan sama aku.”
Bisikan Friska menyita perhatian Myria. Pagi tadi, Myria kira bisa bebas karena sahabatnya tidak bertanya apa pun ketika sampai, tetapi nyatanya kini saat pelajaran, Friska menagih.
Myria melirik sebentar, lalu kembali menggores tinta ke buku karena tidak ingin bicara apa pun dulu.
“My, kamu denger aku, kan?” Friska mengulangi perbuatannya. Jelas-jelas tubuh Myria menempel dengannya, mana mungkin tidak dengar.
“Hm.” Gumaman pelan dan anggukan kepala diberikan Myria. Dia masih berusaha menyusun kalimat penjelasan di hati agar nanti tersampaikan dengan kesan natural. Gadis yang sudah jadi sahabat sejak kelas satu SMA itu adakalanya begitu kritis dan sulit dimanipulasi hingga membuat Myria kuwalahan.
“Apa yang pengin kamu tanyain?” Ketika pergantian jam pelajaran, ada jeda sedikit sebelum guru selanjutnya datang. Myria lebih dahulu menanyakan kemauan Friska daripada nanti-nanti dan mengganggu konsentrasi belajar.
Friska berdehem, pura-pura mengatur suara. Dia mendekat lebih rapat lagi. “Kamu beneran tinggal di rumah Kasa?” Sengaja berbisik sangat pelan agar pemuda di belakang tidak mendengar. Padahal, sikapnya yang seperti itu justru mengundang kecurigaan.
__ADS_1
Myria tidak kaget. Dia sudah menduga jika pertanyaan yang diajukan Friska tidak akan jauh dari kejadian kemarin. Namun, Myria tak langsung menjawab, dia berusaha menetralkan detak jantung agar tetap tenang. “Kalau iya, gimana?”
Friska menjauhkan diri. “Jadi bener kamu di sana? Kamu kerja di rumah Kasa?”
Myria mengangguk. Dia menanggapi dengan ekspresi biasa saja atas dugaan Friska karena Angkasa sudah bercerita perkara itu kemarin malam sebelum tidur. Alhasil, Myria cukup mengiyakan saja saat menjawab.
“Gimana ceritanya kamu kerja di sana?”
“Eum, soal itu … agak panjang. Pulang sekolah aja ceritanya.”
“Iiih, nggak seru.” Friska memajukan bibir. Dia tidak terima atas jawaban seperti itu, tetapi apa boleh buat, guru pelajaran lain telah tiba.
“Kita mulai pelajaran sekarang,” kata Guru Bahasa Indonesia yang baru masuk. Beliau membuka buku yang tadi sempat dibawakan ketua kelas, lalu memulai materi.
“Pekan lalu terakhir pertemuan kita di bab “Menikmati Cerita Sejarah” pekan ini kita akan mulai belajar bab ….” Sang guru berhenti bicara sebentar untuk membuka halaman yang dicari, beliau baru melanjutkan, “Bab baru dengan judul pembahasan “Memahami isu teknis lewat editorial. Kita akan belajar ini sampai ulangan semester tiba, andai belum sampai ujian tetapi materi telah selesai, kita akan latihan soal-soal untuk mendalami apa yang telah dipelajari dari awal.”
Semua serius. Tidak ada yang cengengesan atau hal lain, bahkan Angkasa yang suka tidur di kelas saat jam kosong itu, selalu memperhatikan setiap pelajaran. Beruntungnya, pemuda itu tahu tempat dan waktu kapan harus serius dan bermalas-malasan.
“Kamu pulang bareng Kasa?” Lagi, Friska tak henti-hentinya mengulik informasi. Keingintahuan cewek itu sudah di level tertinggi. Dia menulis, tetapi sekejap-sekejap berhenti hanya untuk mengganggu Myria. Sahabatnya sampai berulang kali mengembuskan napas lelah.
“Enggak. Pulang sama kamulah. Kayak biasanya.”
“Oh, iya, ya. Kasa, kan, bosmu juga kalau dipikir-pikir, ngapain juga bareng dia.” Friska manggut-manggut, membenarkan sendiri asumsi yang dia ciptakan. Lagi pula, Angkasa tidak terlalu peduli pada orang, mana mungkin mengurusi apalagi memberi tumpangan.
Bel berbunyi mengagetkan Friska yang sejak tadi sibuk dengan pikiran sendiri. Gadis itu kebingungan menyalin materi akibat ulahnya selama pelajaran.
“Kok, belum selesai?” Myria kaget. Sahabatnya sejak tadi diam, dia kira Friska tengah serius belajar. Nyatanya, entah apa yang dilakukan.
“Iya, ini pulpen aku macet mulu dari tadi.” Pandai sekali Friska berkilah. Dia tidak ragu untuk memberi alasan sekadarnya. Gadis itu lanjut menulis agar segera pulang seperti yang lain.
Myria mengembuskan napas. Dia memasukkan semua buku ke tas, lalu bersandar di bangku sembari menunggu. Sementara itu, Angkasa di belakang telah siap meninggalkan kelas, tetapi tidak bicara apa pun kala melihat Myria belum juga bergegas.
“Bro!” Sakti datang dari belakang merangkul bahu Angkasa. Cowok itu mendekat pada Myria saat gadis itu refleks menoleh. “Lo nggak pulang, My?”
“Pulang. Bentar lagi nunggu Friska ini.”
Kepala Sakti melongok sedikit. Dia menyugar rambut ke belakang dan menegakkan punggung. “Gue anter mau nggak, My?”
“Hah?” Friska berteriak secara spontan. Dia tinggalkan buku dan pulpen lalu mendongak pada teman kelas lelakinya itu. “Ketempelan jin dari mana lo nawarin sahabat gue tiba-tiba?”
“Parah lo, Fris. Ada orang niat baik juga, dibilang gitu.”
“Lo nggak habis kebentur, kan, Sakti? Sehat lo? Nggak-nggak, Myria tetep pulang sama gue.” Tangan Myria ditahan Friska, padahal sahabatnya tidak ke mana pun. Friska memang bukan sekadar teman yang selalu ada, tetapi kedekatannya dengan Myria sudah seperti tulang dan kulit yang menyatu.
__ADS_1
“Pelit lo, Fris. Lagian kalau Myria mau, gue juga bakal anterin lo. Biar anak-anak bawa lo.”
“Makin ngadi-ngadi, nggaklah. Pulang sana!”
Perdebatan dua siswa itu masih terus berlanjut. Sekalipun kelas telah sepi, tidak mengurungkan Friska untuk mempertahankan pendapat. Dia tidak akan mudah membiarkan Myria didekati cowok mana pun, Friska selalu jadi tameng paling depan.
“Hei, udah, dong.” Myria gemas mendengar dua orang di kanan dan kirinya terus berargumen dan pembahasan menjalar ke mana-mana. “Sakti, pulang aja. Makasih buat tawarannya, tapi aku lebih suka naik angkutan sama Friska,” tolaknya halus dengan mata melirik pada Angkasa. Meski suaminya tidak pernah bilang cinta, Myria ingin memastikan Angkasa tidak marah apalagi salah paham.
Sakti diam, begitu pula Friska. Jeda beberapa detik, cowok itu masih berusaha, “Serius, My? Beberapa tahun kita sekelas, tapi belum pernah barengan. Kali ini gue pengin aja gitu.”
Tanpa ikut bicara, Angkasa justru bertindak. Pemuda itu merangkul bahu Sakti dan menyeretnya keluar.
“Eh, Bro, tunggu dulu.”
Protesan Sakti tidak ditanggapi. Makin berontak, Angkasa makin kuat menekan leher. Bisa-bisa Sakti sesak napas karena tercekik andai masih ngeyel.
“Ka, lepasin gue. Mau bunuh gue lo?”
Sampai koridor kelas lain, Angkasa menurunkan lengan. Dia berjalan tanpa menoleh. “Ngapain lo tiba-tiba mau bareng itu cewek?”
“Myria maksud lo?”
Angkasa diam lagi.
Sakti lanjut bicara, “Gue kagum sama dia, Ka.”
Langkah Angkasa terhenti. Dia menatap sahabatnya yang ada di sebelah kanan. “Ulangi lagi.”
“Kenapa?” Sakti bingung, tiba-tiba tatapan Angkasa berubah serius. Namun, tetap saja obrolan dilanjutkan. “Kagum sama Myria. Dia gigih banget jadi cewek. Hidup sendiri, tapi masih bisa senyum semanis itu. Nggak menye-menye kayak cewek-cewek lain, lah, pokoknya. Idaman banget, kan?”
Perkatan Sakti bukannya membuat Angkasa bangga, tetapi justru menimbulkan hawa panas di dada. Tangan yang tersembunyi di saku meremas celana tanpa sadar.
Daripada kebablasan menghajar sahabat sendiri, Angkasa memilih melenggang pergi dan tidak bertanya apa pun. Makin ditanggapi, dia yakin makin terbakar jiwanya mendengar pujian sakti untuk sang istri.
“Woi, Ka! Gue belum kelar ngomong!” Kaki segera melangkah. Sakti mengejar Angkasa yang sudah jauh dari pandangan.
Kepergian Sakti dan Angkasa ternyata telah ditunggu oleh dua siswi dari kelas lain. Erika dan Risti bersembunyi di pintu kelas sebelah.
“Aman, Rik. Tinggal mereka berdua.”
Sudut bibir Erika terangkat satu sisi. Dia mendecih. “Ayo!”
.
__ADS_1