Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 35: Rencana Kuliah


__ADS_3

Kebisuan sepanjang jalan tetap awet sampai rumah. Myria menebak jika Angkasa benar-benar marah padanya. Sang suami mendiamkan dan urung mengatakan keperluan yang tadi sempat dijadikan alasan untuk merayu Friska.


“Kasa.”


Cowok yang baru keluar dari kamar mandi itu menoleh. Angkasa bergeming, tetapi sorot matanya seolah mewakili pertanyaan ‘apa’ dari bibir.


Myria yang melihat respons seperti itu hanya bisa menghela napas. Dia tahu dirinya keterlaluan karena ngeyel dan membiarkan Angkasa menunggu di parkiran seperti orang kurang kerjaan. “Kamu marah? Aku minta maaf,” kata Myria dengan nada pelan penuh penyesalan.


Angkasa masih mengatupkan bibir. Ekpresinya memang biasa saja dan tidak tegang, tetapi tetap saja membuat Myria kurang nyaman. Tanpa memberi penjelasan, cowok itu melangkah menuju lemari pakaian. Azan magrib telah berkumandang, Angkasa pikir tidak ada waktu mengobrol saat ini.


Myria mendekati Angkasa. Bukannya segera mandi, gadis itu masih berusaha meminta maaf.


“Lo nggak denger azan?” Sembari menarik pakaian, mulut Angkasa mengeluarkan kata-kata pada akhirnya. Dia segera memakai kemeja koko lengan pendek ke badan yang telah terlapisi kaus ketat sebelumnya. “Buruan mandi, gue mau ke masjid.”


Bertolak belakang dengan sikapnya yang cuek, Angkasa memang memiliki kebiasaan ke masjid saat di rumah. Awalnya Myria kaget melihat itu, tetapi lama-lama terbiasa dan kagum. Bukankah di awal-awal Angkasa mendekati Myria menyebut dirinya sendiri berandalan? Namun, sikap berandalan yang dimaksud itu tak pernah sekalipun istrinya lihat.


Ditinggalkannya lemari pakaian, Angkasa pindah ke kaca rias dan memakai  wewangian. Satu momen yang selalu Myria sukai kala indra penciuamannya mengidu aroma parfum pemuda itu.


“Gue nyuruh elo mandi, Myria!” Dari cermin depan wajah, Angkasa masih melihat istrinya mematung di belakang.  Tentu saja pemuda itu tidak tanggung-tanggung dalam memerintah.


Myria kelabakan. Dia segera mundur dan bergegas ke kamar mandi. Setelah tuntas dengan urusan membersihkan diri, Myria keluar dan tidak melihat keberadaan suaminya lagi.


Makan malam bersama keluarga terasa begitu sepi. Nyonya Nasita sampai heran melihat wajah putranya. Beliau sengaja berdiri, lalu mengambilkan lauk dan menambahkan ke piring Myria. “Tambah lagi ikannya, Sayang.”


Diliriknya kembali sang putra, Nyonya Nasita makin heran. Hari-hari biasa, ketika beliau memanjakan Myria, Angkasa akan ikut-ikutan. Namun, mengapa saat ini tidak demikian? Wanita bergaun bunga-bunga warna maroon itu tentu saja curiga.


Ada yang tidak beres dengan anak-anak ini.


“Kasa, kamu mau nambah?”


Angkasa mendongak. Sejak tadi dia mengunyah makanan, tetapi sorot matanya kosong seperti melamun. Pemuda itu menggeleng setelah sadar.

__ADS_1


“Tumben sekali kamu lemes begitu? Apa ada masalah?”


Kembali Angkasa memberi jawaban hanya dengan menggeleng. Dia lanjut makan, tanpa ingin menjelaskan apa pun.


Myria di samping Angkasa menelan makanan susah payah. Semua sikap yang ditunjukkan sang suami gara-gara dirinya. Entah dengan cara apa kali ini gadis itu harus membujuk.


“Apa ada masalah lain di sekolah?” Nyonya Nasita tidak puas dengan jawaban Angkasa. Beliau ingin memastikan semua kegiatan anak maupun menantunya baik-baik saja. Sebagai ibu, memang Nyonya Nasita tidak banyak waktu membersamai Angkasa maupun Myria. Beliau masih aktif bekerja di butik sendiri.


“Nggak ada, Ma. Kita baik-baik aja. Nggak perlu bingung gitu. Semua lancar, pelajaran juga nggak ada masalah.” Paham sikap ibunya yang selalu khawatir berlebih, Angkasa buka mulut. Dia tidak ingin sang mama memberi perintah aneh-aneh lainnya, selain menyita motor.


Meja makan ditinggalkan semua orang. Angkasa dan Tuan Aji beranjak lebih dahulu dan meninggalkan istri-istri mereka. Kedua laki-laki itu melewati ruang tengah, lalu salah satunya memanggil.


“Kasa, duduk sebentar. Temani Papa nonton tivi.”


Perintah sang ayah mutlak baginya, Angkasa menurut dan mengarahkan tubuh ke sofa. Pemuda itu sengaja duduk di tempat berbeda dari Tuan Aji agar mudah memperhatikan.


Televisi menyala, Tuan Aji menaruh remot di meja kecil depan sofa. Pemimpin keluarga itu mulai berkata, “Sebentar lagi kamu dan Myria lulus. Apa ada salah satu dari kalian ingin  ke luar negeri?”


Angkasa membalas tatapan sang ayah. Bahunya terangkat sedikit. “Aku belum bicara ini sama Myria.”


“Kalau aku bisa memilih, aku ingin ke Inggris. Tapi aku enggak yakin Mama akan setuju.”


Tuan Aji mengusap dagu sambil mengangguk-angguk. Dia hampir lupa jika istrinya memiliki trauma perkara penerbangan. Apa mungkin ada kesempatan membiarkan Angkasa sekolah ke luar negeri seperti  mendiang putra pertamanya.


Helaan napas keluar dari bibir Tuan Aji. Pria itu memberi keputusan sementara. “Papa akan coba diskusikan ini. Bagaimanapun juga, Papa ingin kamu jadi lelaki yang banyak ilmu dan bisa meneruskan perusahaan. Yah, meski Kalastra Group bukan milik Papa, tapi kita harus merawatnya. Suatu saat kalau pamanmu kembali dan mengambil alih semua itu, beliau bisa senang karena perusahaan yang ditinggalkan mendiang kakekmu masih utuh.”


Angkasa mengangguk paham. “Apa kira-kira Paman Mandala akan kembali ke keluarga ini, Pa?”


“Papa tidak tahu. Hanya berjaga-jaga saja. Sudahlah, jangan pikirkan urusan orang tua. Tugasmu hanya belajar sekarang, entah belajar akademik atau belajar jadi suami yang baik. Kelak kalau kamu ke Inggris, itu artinya pilihan Myria hanya dua. Ikut denganmu satu tempat atau tinggal di sini bersama keluarga.”


“Aku akan bicara ini padanya, Pa. Kami memang enggak banyak ngobrol masalah seperti ini. Mungkin Myria belum memutuskan juga karena selama ini kehidupannya begitu.”

__ADS_1


Paham maksud putranya, Tuan Aji membenarkan. Beliau tak lagi menahan Angkasa untuk tetap menemani. “Kamu bisa ke kamar kalau belum belajar.”


PR Matematika masih belum terjamah, Angkasa berdiri dan pamit. Dia tinggalkan ruang tengah dan segera ke kamar.


Belum ada sepuluh menit mengerjakan tugas, derit pintu mengalihkan perhatian Angkasa. Wajahnya tetap menghadap buku, tetapi mata melirik ke samping.


“Kasa.” Satu gelas air putih ditaruh Myria di depan Angkasa, sementara satu lagi dibawa ke meja belajarnya sendiri. Dia tak lantas duduk, tetapi menarik kursi dan kembali pada sang suami.


“Kamu masih marah? Aku minta maaf,” kata Myria dengan tangan menumpu sisi meja. “Kasa,” panggilnya lagi dengan suara lirih dan wajah murung.


Angkasa menoleh. Melihat mata Myria yang sendu bak dipenuhi awan kelabu, dia menghela napas. Saat seperti inilah yang menjadi kelemahan pemuda itu. “Gue nggak marah.” Hanya itu yang terucap, lalu Angkasa kembali menekuri semua tugas.


Tiga kata yang jadi jawaban suaminya tak membuat Myria lega. Dia mengeser kursi lebih dekat lagi. “Aku minta maaf. Aku janji nggak bakal gini lagi. Kamu juga harusnya tahu kalau aku takut kelihatan anak-anak, jadi sengaja pulang bareng Friska.”


Angkasa bergeming. Kosakata dari mulutnya seolah sangat mahal.


Akan tetapi, Myria tidak menyerah. Mana mungkin dia tidur dengan perasaan bersalah dan takut dosa.


Gadis berjilbab instan merah muda itu mendaratkan kepala di bahu sang suami untuk pertama kali, jemarinya merayap turun dan menggenggam tangan Angkasa yang ada di atas meja. Alat tulis tentu saja terlepas begitu saja.


“Suamiku, Narendra Angkasa Sastra, ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.”


Angkasa termenung setelah mendengar ucapan Myria. Beberapa detik dirinya dan sang istri saling diam. Kebisuan itu tidak bertahan lama karena detik berikutnya, tangan yang digenggam itu tertarik dan bergerak menuju bahu Myria untuk merangkul.


Dengan gerakan lembut dan pelan, Angkasa mendaratkan kepala sang istri ke bahunya untuk bersandar. Dia menoleh sedikit, lalu memberi kecupan begitu dalam di ubun-ubun dan sukses membuat mata Myria terbuka lebar.


“Gue nggak marah. Jangan minta maaf terus menerus. Sekarang lo bisa tenang?”


Myria menunduk. Jantungnya berdebar mahadahsyat. Ada gelombang kehangatan merayap ke seluruh permukaan kulitnya yang mulus.


Beginikah rasanya pelukan hangat dari seorang lelaki?

__ADS_1


 .


.


__ADS_2