Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 7: Kenapa Harus Myria?


__ADS_3

Myria tertegun atas omongan Angkasa. Dia sampai tak bisa menanggapi secara spontan layaknya tadi. Dua matanya hanya mengerjap-ngerjap seolah menyadarkan diri bahwa tidak sedang bermimpi.


“Napa lo malah bengong? Tenang aja, gue cukup tau diri, kok, kalau gue yang brandalan gini nggak pantes buat lo.”


“Apa maksudmu, Kasa?”


“Masa lo nggak ngerti, My?”


Myria menggeleng. Perkataan Angkasa bagaikan teka-teki baginya. Dia yang jarang memperhatikan tingkah teman teman cowok di kelas, diminta berpikir? Myria tidak mau.


“Udahlah kalau emang gak ngerti. Buruan balik, keburu hujan.”


Dipaksa terus menerus, Myria tidak tahan. Dia akhirnya naik motor secara perlahan dengan berpegangan hodie yang melekat di badan Angkasa.


“Kenapa, sih, cowok-cowok suka naik motor begini? Pakai ada gengnya juga. Kan, ribet.” Baru saja bokong mendarat di boncengan, Myria sudah protes. Angkasa yang hendak menyalakan mesin, rela menunda agar bisa mendengar.


“Ribet buat lo. Buat gue dan yang lain enggak.”


Dapat jawaban tidak bersahabat seperti itu, membuat Myria memutar bola mata. Dia tidak lagi bicara dan meminta Angkasa untuk bergegas melajukan kendaraan.


“Dari mana lo jam segini baru balik?” Di tengah perjalanan, Angkasa membuka helm sambil bicara. Sesekali dia melirik Myria dari spion sebelah kiri.


“Nyari kerja.” Myria di belakang menjawab santai tanpa rasa malu. Tidak ada gengsi di hidupnya asal masih di jalan yang benar dan tidak melanggar aturan agama. Gadis 18 tahun itu telah lama dipaksa keadaan untuk hidup apa adanya tanpa merasa terbebani.


Angkasa terdiam beberapa detik selepas mendengar jawaban. Dia memikir ulang apa yang baru saja dikatakan. Apakah salah pertanyaan tadi? Dia khawatir Myria tersinggung. Namun, cowok satu itu ingat jika teman sekelasnya itu sosok ceria yang terkesan sangat baik hati di kelas.


“Dapet nggak?” Angkasa lanjut bertanya. Satu tangannya mengendur untuk menurunkan laju kendaraan dan kembali memandang Myria dari spion.


Myria menggeleng meski Angkasa tidak sedang menghadapnya. Dia melipat bibir sebentar dan baru menjawab, “Belum. Susah cari kerja.”


Jawaban Myria dapat anggukan dari Angkasa. Cowok itu kembali fokus pada jalanan yang tampak lebih gelap lantaran mendung menutup matahari. Hari masih sore, tetapi cuaca seperti menjelang petang. Lagi pula, dia tidak ingin bertanya lebih jauh dan mengganggu privasi Myria.

__ADS_1


“Myria!” Tepat ketika sudah sampai kos dan Myria hendak membuka pagar, Angkasa menyeru dan melepas helm. Dia berkata lagi setelah mendapati Myria berbalik, “ Lo mau kerja di kantor bokap gue? Tapi, gue harus bicara dulu pada beliau. Sebenarnya ….”


“Enggak perlu, Kasa.” Myria menjawab langsung.  “Kita masih sekolah, apa yang bisa dilakukan anak sekolahan kalau di perusahaan seperti itu? Aku cari sekitar sini dulu, mungkin ada. Makasih, ya, sudah ngasih tumpangan.”


Dapat penolakan, Angkasa tidak mungkin memaksa. Dia terdiam di depan bangunan kost sembari memandangi kamar Myria yang baru saja tertutup. Wajah muram gadis itu membuat Angkasa makin ingin mendekati agar bisa mengembalikan senyum Myria seperti dahulu.


 “Dari sekian banyak cewek yang sering mengagumi gue, kenapa harus elo, My? Kenapa gue yang urakan ini harus menyukai gadis kayak lo. Kenapa?”


Tersekat jarak. Layaknya hitam dan putih, mungkin itu perumpamaan yang ada di kepala Angkasa. Myria gadis yang tidak pernah aneh-aneh, sementara dirinya tukang keluyuran dan jauh dari kata taat. Jangankan level taat, dia paham agama tetapi tidak mampu menekuni sama sekali.


Langit gelap berubah biru, menit hingga jam terus berganti. Beberapa hari Myria ditemani Friska mencari pekerjaan, tetapi nyatanya memang tidak semudah membeli permen. Persediaan makanan dan uang turut menipis, kepala Myria makin pening memikirkan solusi.


Di tengah kebingungan, Myria dikagetkan oleh kedatangan seseorang. Dia segera menutup buku yang tidak dibaca sama sekali meski sudah berdiam diri di bangku perpustakaan hampir setengah jam lamanya.


“Kamu ….” Ucapan Myria menggantung tak terselesaikan. Dia pandangi wajah gadis di depannya dengan ekspresi sedikit bingung.


“Gue, Erika. Pasti lo tahu, kan? Boleh nggak duduk sini?”


“Lo sendirian?”


Sekali lagi, Myria menoleh. Dia mengangguk dengan senyum tipis tersemat di bibir.


“Gue denger lo lagi cari kerja, ya? Mau kerja di usaha catering nyokap gue nggak?”


Myria tercengang mendengar itu. Di dalam benak, dia bertanya dapat info dari mana Erika bisa tahu apa yang dibutuhkan sekarang. Dia ingat tidak cerita ke siapa pun kecuali Friska dan Angkasa. Lantas, siapa di antara dua orang itu yang koar-koar?


“Kok, kamu tahu? Apa ….” Tak jadi melanjutkan lagi, Myria tidak ingin membawa nama Angkasa di tengah obrolan. Dia belum memastikan itu benar atau hanya dugaan tanpa  dasar.


“Gue tahu, ada temen sekelas lo yang sempet ngobrol sama teman kelas gue. Nah, temen kelas gue ni tadi dapat info dari itu anak, katanya sahabat lo yang ngabarin.” Erika bicara begitu lancar saat memberi gambaran pada Myria. Dia yang selalu tampil cantik itu tidak menghapus senyum cerahnya sedari tadi.


Dapat tawaran bagus, mungkin seharusnya Myria langsung berterima kasih. Namun, entah mengapa, dia justru terdiam seolah keterkejutannya tidak bisa hilang begitu saja meski sudah dapat penjelasan.

__ADS_1


Erika yang ada di tempat masih memandangi wajah Myria. Dia lantas mengeluarkan kertas dan menulis sesuatu. “Nih, nomor gue.” Kertas itu tersodor perlahan ke arah Myria. “Lo bisa kabarin gue kapan aja kalau terima tawaran ini. Gue nggak ada niat apa-apa, cuma serius mau bantu. Sekaligus, buat tambah temen.”


Kertas kecil berisi deretan angka itu dipandangi Myria. Dia masih diam tanpa mengatakan ‘iya’ atau ‘tidak’. Sampai akhirnya, bel masuk kelas berbunyi dan Erika menariknya untuk kembali ke kelas.


Tidak tanggung-tanggung dalam mendekati, Erika menemani Myria sampai ke kelas. Teman-teman yang sudah di dalam langsung menaruh perhatian saat Erika masuk dan mengucap perpisahan pada Myria.


Tepat ketika hampir sampai di ambang pintu, Erika berpapasan dengan Angkasa. Dia menyapa, tetapi sikap mantan kekasihnya itu abai dan langsung lewat seakan tidak melihat apa pun.


Masih dalam suasana aneh dialami Friska dan teman lain, Myria segera ditarik. Friska bersiap mengintrogasi, “Kenapa bisa Erika sama kamu, My?”


“Tadi ketemu di perpus.”


Angkasa duduk tenang di belakang. Dia melirik dua gadis di depannya sambil mencuri dengar apa yang dibicarakan.


“Sejak kapan dia suka ke perpus? Kebetulan banget gitu ketemu kamu? Jaga jarak, My.”


Myria menghela napas. Belum apa-apa, Friska sudah menaruh curiga. “Friska, Erika baik, kok. Dia datang buat nawarin pekerjaan tadi.”


“Hah?” Friska terlonjak hingga bangkunya nyaris bergerak mundur. Teriakannya mengundang perhatian Angkasa yang sejak tadi menguping. Melihat Angkasa  tengah memperhatikan, Friska langsung menghadap pada cowok itu, “Kasa, kenapa mantan lo deketin Myria? Gue nggak mau sahabat gue ini dibawa-bawa ke rumitnya hubungan kalian, ya.”


Angkasa nyaris menjawab. Namun, guru pelajaran sudah tiba lebih dahulu. Maka dari itu, dia diam kembali.


Waktu terus bergulir hingga mengantarkan malam. Baru selesai menulis satu bab tulisannya, Myria terganggu atas ketukan di pintu. Dia segera beranjak dari kasur dan menengok siapa yang datang.


“Kasa!” Dua mata Myria terbuka sempurna. “Ada apa kemari? Bunda yang nyuruh?”


Ya, panggilan Myria pada Nyonya Nasita berubah seperti anak kost lain. Lagi pula, beliau sendiri yang meminta.


“Kasa,” panggil Myria dengan suara pelan. Dia lihat wajah Angkasa yang berekspresi datar tanpa mau menjawab sedikit pun.


“Nikah sama gue biar lo aman, Myria. Biar lo nggak perlu pusing mikir kerja dan bisa fokus sekolah.”

__ADS_1


Sejak tadi Angkasa diam. Namun, sekali bicara dan menjawab, dia sukses membungkam mulut Myria.


__ADS_2