
Angkasa tiba di rumah lebih cepat dari Myria meski istrinya tadi naik taksi lebih dahulu.
Ya, Myria meninggalkan Angkasa yang masih berdebat. Gadis itu tidak bisa melerai adu argumen antara Sakti dan sang suami. Daripada pening dan kondisi makin kacau karena dirinya, Myria memilih menyingkir.
Pintu kamar terbuka. Langkah Myria terhenti saat melihat suaminya sudah di kamar. Dia menaruh tas ke kursi belajar dahulu, baru menghampiri Angkasa yang ada di ranjang. Tidak seperti biasa yang sampai rumah langsung mandi, Angkasa kini justru tengkurap sembari mendekap bantal.
“Kasa.” Tidak ada sahutan, Myria mengulangi, “Ka ….”
Akan tetapi, sepertinya percuma menunggu karena masih belum ditanggapi. Myria memangkas jarak lebih dekat lagi, lalu menyibak rambut Angkasa yang menutupi kening. Dia duduk perlahan. “Kamu tidur? Ini sudah sore. Kenapa kamu tidur?”
“Kasa ….” Sampai berulang-ulang Myria memanggil suaminya. Namun, Angkasa sepertinya memang enggan bicara. Mustahil cowok itu tidak mendengar atau merasakan sentuhan tangan Myria.
“Aku mau mandi dulu kalau gitu.” Myria beranjak. Dia tinggalkan Angkasa dan segera membersihkan diri daripada menunggu tanpa kepastian. Badannya sudah tidak nyaman lantaran hampir sembilan jam memakai pakaian yang sama tanpa berganti.
Selesai dari urusan membersihkan badan, Myria keluar kamar mandi dan masih melihat Angkasa di posisi yang sama. Gadis itu mendekat lagi dan naik ke atas ranjang. “Ka.” Mulut memanggil, sementara tangan menggoyang tubuh Angkasa di bagian punggung. “Kasa.”
“Tinggalin gue sendiri, Myria.”
Aura kamar mendadak berubah dingin sedingin ucapan Angkasa yang baru saja terdengar. Myria menarik tangannya lalu beringsut mundur secara perlahan. Tidak perlu bertanya lagi, dia tahu suaminya sedang tidak enak hati. Entah apa yang terjadi antara Angkasa dan Sakti selepas ditinggalkan.
“Aku turun, mau bantu Bibi masak makanan buat malam ini.”
Tak ada jawaban. Myria menunduk sedih, lalu menuju meja rias untuk merapikan diri. Dia tinggalkan kamar dengan setengah hati meski sebenarnya ingin menemani Angkasa. Namun, apa boleh buat, sang suami sudah bilang tidak, Myria tak ingin membantah dan memperkeruh suasana.
Sepeninggalnya Myria, Angkasa baru turun dari ranjang. Dia memilih berendam sebentar agar badannya lebih rileks. Pertengkaran dengan Sakti sore ini adalah yang terparah selama mereka bersahabat. Dari dahulu, tidak sekalipun keduanya serius berebut akan suatu hal.
__ADS_1
Ingatan Angkasa memutar ke satu jam lalu. Di mana dia hampir saja adu pukul dengan Sakti andai tidak ada orang lewat yang melerai. Mungkin, tidak hanya persahabatan mereka yang hancur, bisa saja nama sekolah ikut terancam buruk. Angkasa mendesah berat ingat itu, tetapi kenyataan tidak memungkinkan dirinya untuk mengalah.
“Ini bukan perkara siapa yang naksir duluan atau siapa yang lebih bisa memberi cinta yang banyak, tapi gue udah mengambil perjanjian agung antara manusia dan Allah. Gue nggak bisa ngalah demi persahabatan.”
***
Malam hari ketika makan bersama telah usai beberapa jam lalu, belajar dan mengerjakan tugas juga terselesaikan dengan sempurna, Angkasa berdiri dari kursi. Dia menarik ponselnya yang ada di depan mata, lalu hendak meninggalkan kamar. Pemuda itu tidak banyak bicara sejak sore, hanya menjawab sekadarnya saat Nyonya Nasita dan Tuan Aji bertanya.
Melihat kepergian suaminya, Myria memutar kursi dan ikut berdri. “Kasa, apa kamu tidur di kamar sebelah?”
Angkasa memutar badan, lalu menggangguk.
“Kamu marah sama aku?” Pertanyaan seperti itu entah berapa kali terucap dari bibir Myria. Dia tidak berhenti bertanya selama ada kesempatan. Namun, tanggapan dari Angkasa belum didapat sama sekali.
Kaki melangkah beberapa kali. Myria menghampiri Angkasa yang masih terdiam. Setibanya di hadapan sang suami, dia mendongak. Perbedaan 15 sentimeter tinggi badan yang dimiliki dengan Angkasa selalu membuatnya harus demikian.
Ucapan Myria terpotong saat telunjuk Angkasa menekan bibirnya. Pemuda itu berkata, “Gue nggak marah. Jangan minta maaf. Gue cuma butuh waktu sendiri. Buruan tidur kalau belajar lo kelar.”
Mata Myria mengerjap lamban. Dia pandangi wajah Angkasa yang menyirat ketenganan. Setelah sadar, dia mengangguk. “Iya,” kata Myria sebagai jawaban atas perintah sang suami.
Usapan lembut di kepala menjadi penutup obrolan malam itu. Angkasa meninggalkan kamar dan ingin segera beristirahat di kamar mendiang kakaknya. Ponsel diletakkan di meja kecil dekat ranjang, tetapi baru saja mendarat, benda tipis itu berdenting.
“Kasa, apa boleh aku besok ke rumah Friska? Aku sama dia mau ngerjain tugas Bahasa Indo.”
Pesan singkat dari Myria terbaca. Angkasa berpikir sebentar, lalu baru membalasnya. “Ajak saja Friska ke sini. Bilang sama Mama juga biar disiapin jajan.”
__ADS_1
“Eh?” Myria terenyak mendapat balasan demikian. Dia tidak menyangka jika Angkasa akan meminta Friska saja yang datang ke rumah. Myria ingat, ibu mertua bilang tidak pernah ada satu teman pun yang datang ke kediaman Sastra selama ini. “Ini beneran? Aku bicara langsung aja buat mastiin.”
Langkah bertolak ke kamar sebelah, Myria mengetuk beberapa kali dan baru terbuka. Angkasa menyambutnya dengan wajah heran.
“Kenapa?”
“Eum, itu, beneran Friska diajak ke sini? Kata Bunda, temen-temen belum ada yang tahu rumah kamu, kan?”
“Sakti tahu rumah ini.” Angkasa menukas. “Tapi emang belum pernah mampir. Bawa aja Friska kemari, Mama palingan juga seneng.”
Senyum perlahan terbit di bibir Myria. Gadis itu mengangguk antusias. “Iya, besok pagi-pagi aku bilang sama Bunda.”
“Tidur, gih!” Kepala Angkasa mengedik ke sebelah, di mana kamar pribadinya berada. “Tapi jangan kunci pintu, siapa tahu gue butuh sesuatu. Jadi nggak ganggu tidur lo.”
Myria menurut tanpa curiga. Selepas mengucap terima kasih, dia kembali ke kamar dan membereskan buku-buku yang tadi dipakai belajar. Pilihannya sekarang ingin tidur cepat sesuai perintah sang suami.
Jam di ponsel menunjuk angka 12. Angkasa terduduk di atas ranjang dengan wajah malas. Sejak tadi dia tidak tidur dan hanya menonton video balapan dari ponsel.
Merasa sudah waktunya tidur, Angkasa bergegas turun. Satu tangan menyibak selimut, lalu perlahan-lahan telapak kakinya memijak lantai.
Tanpa memakai alas kaki, Angkasa pindah ke kamar sebelah. Benar saja sesuai harapannya, pintu tidak terkunci hingga memudahkannya masuk. Pemuda itu tersenyum saat melihat Myria sudah terlelap.
Dengan hati-hati dan berusaha tidak mencipta gelombang saat naik ke kasur, Angkasa mulai merebahkan badan di belakang Myria. Satu guling yang biasa jadi pembatas, sekarang tidak ada karena dipeluk sang istri.
Angkasa tersenyum tipis, lalu merapatkan badan dan melingkarkan lengan ke perut Myria. Dia begitu beruntung karena istrinya tidak terganggu. Namun, rasanya tidak puas hanya sampai di situ. Ada ide aneh lain yang melintas di pikiran.
__ADS_1
“Dia kerasa nggak, ya, kalau lehernya gue kasih tanda?”
.