
Undangan pengambilan raport telah di tangan. Nyonya Nasita membaca tempat dan jam yang telah ditetapkan. Wanita bergamis cokelat itu tersenyum simpul, lalu menatap Myria dan Angkasa bergantian.
“Mama akan datang besok. Kalian tidak perlu khawatir.” Keputusan diambil Nyonya Nasita. Beliau menarik cangkir teh di atas meja lalu menyesap isinya dengan gaya elegan nan cantik. Bibir lembap wanita itu kembali mengucap kata, “Myria, raport-mu juga Mama yang ambil. Kamu tidak perlu khawatir, Sayang.”
Entah ekspresi apa yang harus ditunjukkan Myria. Sedih atau senangkah? Pasalnya, ini baru pertama kali dia melewati semester dan pengambilan raport tanpa ada sosok ibu kandung yang biasa menjadi wali. Gadis itu mengangguk. Sebisa mungkin Myria menyimpulkan senyum meski bibir terasa sulit ditarik. “Makasih, Bun.”
Paham gelagat Myria yang tidak mengenakkan, Angkasa mendekat dan merangkul bahu. Pemuda itu tidak memedulikan ada sang ibunda di depannya. Usapan lembut diberikan ke lengan sang istri sebagai penghiburan agar Myria paham bahwa masih ada orang lain yang menyayangi.
Gadis 18 tahun itu menoleh pada Angkasa yang tetap menatap Nyonya Nasita. Myria ingin mengucap terima kasih, tetapi tidak jadi. Senyum paksanya perlahan berganti senyuman tulus.
“Ma, apa Mama jadi mengizinkan kami ke Jepang?” Sebelum ibunya pergi, Angkasa menanyakan hal yang pernah diminta. Hari-hari telah terlewat, tentu saja sang ibunda sudah banyak berpikir.
“Kasa.” Myria menoleh lagi, wajahnya menengadah ke arah Angkasa dan bermaksud ingin membujuk. Namun, respons suaminya masih sama seperti tadi. Angkasa tetap melihat ke depan.
Berbeda dari Myria yang berusaha merayu, Nyonya Nasita melanjutkan aktivitas menyeruput tehnya dengan gerakan santai. Wanita itu tidak akan kaget dengan perangai putra keduanya apabila memiliki keinginan dan belum dapat jawaban. Nyonya Nasita hafal bahwa, jangan pernah mengucap janji pada Angkasa jika tidak ingin ditagih terus menerus.
“Kamu ingin sekali ke sana, Kasa?”
Angkasa mengangguk yakin. Meski sebenarnya Myria tidak terlalu peduli dengan liburan ke Jepang itu, dia tetap ingin memberi yang terbaik. Selain liburan, Angkasa berpikir bisa menambah pengalaman dengan mengenalbudaya orang lain.
“Sekali-kali, Ma. Sejak Kakak pergi dan aku kecelakaan, aku belum pernah ke mana-mana lagi. Kalau kali ini Mama kasih izin, yang seneng bukan cuma aku, tapi menantu Mama juga.”
Lagi-lagi Myria dipakai untuk alasan. Gadis itu sampai mencubit perut Angkasa yang menempel dengan badan. Dia tidak peduli suaminya marah. Maksud Myria, agar Angkasa paham jika istrinya tidak suka dijadikan tameng.
Nyonya Nasita menarik napas panjang. Punggung beliau bersandar di sofa dengan dua tangan terlipat ke perut. Wanita itu memandangi Angkasa lekat-lekat.
Dipandangi seperti itu oleh sang ibunda, Angkasa tidak gentar. Pemuda itu masih terus mengelus pundak Myria dan membalas tatapan. Berbeda sekali dengan istrinya yang sudah berkeringat dingin dan menggigit bibir bawah karena takut.
__ADS_1
“Mama akan lihat hasil kerja kerasmu dulu besok, Kasa. Mama juga akan bicara pada Papa. Kalian masih perlu dalam pengawasan andai bepergian, Mama tidak akan tenang kalau lepas tangan begitu saja.”
Tak lagi mendebat, lebih baik Angkasa diam dan menurut untuk obrolan malam ini. Seegois apa pun dirinya, tetap saja kedamaian hati Nyonya Nasita adalah yang utama.
Angkasa menarik tangan dari bahu Myria, lalu berdiri. Dia mendekat ke arah sang mama dan memeluk serta memberi kecupan di pipi. “Terima kasih, Ma. Aku janji enggak buat Mama khawatir kalau jadi pergi. Selain itu, aku juga yakin kalau hasil ujianku kali ini lebih baik lagi dari ujian tahun-tahun lalu.” Pemuda itu menjawab penuh percaya diri. Angkasa memang belajar lebih giat selama ujian hingga mengabaikan Myria yang kelimpungan sendiri menghadapinya.
Obrolan malam itu selesai begitu saja. Semua orang kembali ke kamar dan bergegas istirahat.
Myria termenung di depan kaca rias usai cuci muka, sementara Angkasa baru keluar dari kamar mandi. Pemuda itu mendekat dengan langkah pelan.
“Kamu baik-baik aja?” Cara bicara Angkasa berubah. Sapaan lo atau gue dihilangkan pelan-pelan selama beberapa hari terakhir karena ditegur terus menerus oleh Nyonya Nasita. Awalnya dia memang kesulitan, tetapi lama-lama terbiasa meski kadang lupa. Bagaimanapun juga, Myria adalah teman kelasnya sebelum jadi istri.
Myria mengangguk. “Aku cuma … kangen Ibu. Biasanya, habis terima raport gini, Ibu selalu masak makanan enak buat ngerayain prestasiku.”
Jawaban Myria mengusik hati. Angkasa berlutut dan menarik tangan yang ada di pangkuan. Dia tatap wajah istrinya dengan ekspresi tenang. “Besok kita ke makam pulang sekolah. Kamu bisa kasih liat hasil belajarmu semester ini.”
***
Mentari terasa hangat saat Nyonya Nasita keluar rumah. Dengan diantar sopir pribadi, beliau berangkat ke sekolah. Wanita itu tak lupa mengabari pada sang suami.
“Asisten Papa udah reservasi restoran belum, Pa?” Melalui sambungan telepon, Nyonya Nasita bertanya. Agenda rutin setiap anaknya selesai ujian adalah makan malam bersama di luar rumah untuk ganti suasana dan berunding tentang masa depan.
“Sudah, Ma. Bilang pada anak-anak supaya siap-siap. Papa usahakan pulang lebih awal hari ini.”
Panggilan terputus setelah dapat kesepakatan. Nyonya Nasita melanjutkan perjalanan dan tiba di sekolah tanpa terjebak macet.
Mobil dan motor wali murid telah berjajar rapi sesuai tempat parkir yang disediakan. Nyonya Nasita turun sembari mengingat ruangan putranya untuk pengambilan raport.
__ADS_1
Beberapa siswa berhamburan ke luar karena ingin pulang setelah orang tua datang. Namun, ada sebagian yang tinggal karena ingin tahu pengumuman peringkat kelas.
“My, pulang aja, yok! Atau ke rumahku. Udah lama kamu nggak maen. Lagian di sini, paling juga kamu yang juara.” Friska memberi usul. Dia sudah mengantar ibunya ke ruang kelas, sekarang tidak ada lagi urusan.
Myria terkekeh. “Aamiin. Doa baik, nggak mau nolak. Ya, udah, ayo! Tapi aku chat Kasa bentar.”
“Iya, deh, aku juga. Biar dia tahu kalau kamu pulang sama aku.”
Dua gadis itu akhirnya mengirim pesan pada satu cowok yang entah sekarang ada di mana. Angkasa sering hilang tanpa pamit dan hanya memberi kabar ketika tiba waktu pulang.
“Udah, ayo!” Myria dan Friska melangkah girang menuju gerbang sekolah. Keduanya berjalan sembari melihat-lihat banyak orang dewasa yang datang. Mulai dari yang naik mobil, motor, diantar sopir, hingga naik taksi pun ada.
“Aku bisa sukses kayak orang-orang itu nggak, ya, My?”
Perhatian Myria teralihkan oleh Friska. Dia tersenyum sebelum menjawab, “Bisalah. Kenapa enggak?”
Helaan napas keluar begitu saja dari mulut Friska. Gadis itu menatap langit yang kebetulan cerah hari ini. “Tapi, kan, kamu tahu kalau aku serba kekurangan, My.”
“Sukses bukan buat orang kaya aja, kali, Fris. Orang biasa-biasa kayak kita juga bisa, kok. Asal pinter cari peluang dan punya tekad kuat. Ya, meski usahanya mungkin beberapa kali lipat harus lebih keras lagi dari mereka yang udah punya dukungan modal dari lahir.”
“Ah, andai kita kaya, ya, My,” kata Friska penuh harap.
“Hush, jangan berandai-andai kayak lagi nyalahin takdir. Semua, tuh, udah ditulis, kan? Lagian, makin banyak yang dititipin Allah buat kita, makin lama juga perhitungannya. Makin banyak juga pertanyaan yang harus dijawab. Nikmati sama syukuri aja semuanya, Fris.”
Pembicaraan yang terus mengalir tidak membuat dua gadis itu sadar bahwa sudah keluar gerbang. Bahkan, saat menuju halte, mereka melangkah seperti digerakkan angin karena telah terbiasa.
Akan tetapi, justru sikap lengah kedua gadis itu membawa petaka. Myria dan Friska tidak sadar sedang diikuti beberapa orang dari belakang hingga beberapa pemuda berjaket hitam itu turun dan membekap mulut dengan kain.
__ADS_1
Myria maupun Friska sempat berteriak meski sulit. Mereka juga memberontak, tetapi tidak berlangsung lama usaha keduanya pupus lantaran apa saja yang dilihat telah berubah gelap.