
“Myria udah makan belum, Bi?”
Suara Angkasa mengagetkan asisten rumah tangga yang ada di dapur. Dua wanita paruh baya itu sedang membersihkan sayuran untuk persiapan makan malam, sementara satu pekerja lagi sedang sibuk mencuci piring dan mengelap perabot masak.
“Belum, Tuan Muda. Makanan masih utuh ini. Apa mau makan sekarang? Bibi hangatkan masakannya.”
“Mama pulang nggak, Bi?” Bukan menjawab pertanyaan sang bibi, Angkasa bertanya hal lain. Dia merasa akhir-akhir ini jarang bertemu ibunya lantaran sejak kemarin sibuk belajar untuk ujian semester dan baru saat class meeting sedikit longgar. Akan tetapi, ganti Nyonya Nasita yang sering tidak di rumah karena ikut keluar malam bersama Tuan Aji.
Bibi menggeleng. “Tidak, Tuan Muda. Pagi tadi Nyonya berpesan masak sedikit untuk makan siang Tuan Muda dan Non Myria. Lalu masak lagi sore nanti untuk makan malam.”
Angkasa mendesah pelan. Ibunya benar-benar sibuk dan jarang sekali siang hari di rumah. Sejak dahulu, dia merasa sendiri hingga Sakti dan teman-teman satu geng yang menjadi tempat melebur sepi.
Tak minat lagi membahas Nyonya Nasita karena makin membuat gundah, Angkasa berujar lain, “Aku tunggu makananya, Bi. Siapkan dua porsi, nanti aku sendiri yang bawa ke kamar.”
Sang bibi tertegun. “Biar Bibi antar saja, Tuan. Tuan Muda bisa ke kamar dan istirahat sekarang.”
Angkasa menggeleng. Dia lepas jaket dan menaruh ke sandaran kursi makan, lalu kakinya melangkah ke kulkas mencari es krim. “Taruh aja di meja, Bi, kalau udah selesai.”
Perintah Angkasa dituruti. Dua pekerja bertindak langsung menyiapkan makan dan minum, mengiriskan beberapa macam buah, lalu menata semua itu di atas nampan.
“Tuan Muda yakin membawa ini sendirian?”
__ADS_1
Angkasa mengangguk dan meminta nampan dari tangan asisten rumah tangganya. “Itu tolong jaketku dicuci aja, Bi.”
“Baik, Tuan Muda.”
Pergi membawa satu nampan yang telah terisi dua porsi makan siang, dua gelas minum dan sepiring buah, Angkasa berjalan pelan-pelan menuju kamar. Ternyata, sampai depan pintu dia sedikit kesusahan. Pemuda itu ingin mengetuk, tetapi takut mengganggu. Akhirnya, dia berusaha sebisa mungkin.
Kaki menekuk ke atas salah satu. Angkasa menaruh nampan di atas paha, sementara tangannya segera memutar knop agar pintu terbuka. Meski sedikit berisiko karena makanan bisa saja tumpah saat badan tidak seimbang, tetapi pemuda itu selesai juga dengan idenya.
Saat pintu ruangan terbuka sepenuhnya, dua mata Angkasa tidak menangkap keberadaan Myria di ranjang. Dia mengedarkan pandangan ke arah lain, lalu mendapati istrinya duduk di meja belajar menghadap laptop.
Angkasa bernapas lega. Dia sudah waswas andai Myria kabur. “Makan, My,” kata pemuda itu sembari melangkahkan kaki menuju sofa lantas menaruh makanan ke meja.
Angkasa mendekat. Dia berdiri di belakang kursi belajar istrinya sembari menumpu sandaran dengan dua tangan. Cowok itu merendahkan badan sedikit untuk mengintip apa yang ditulis. Namun, seperti beberapa waktu lalu, Myria selalu menutup file kala tulisannya hendak dibaca.
“Udah? Ayo, makan,” kata Angkasa setelah tahu istrinya mematikan laptop. Dia tak protes seperti dahulu karena tidak diizinkan tahu apa yang ditulis.
Myria menggeleng dan ganti menaruh kepala ke meja. Dia kembali memejam tanpa menghiraukan suaminya.
Tangan Angkasa mengulur pelan untuk menyingkap rambut Myria yang mengenai pipi. Kemudian, dia menyelipkan untaian rambut itu ke belakang telinga. Senyum tersulam di bibir Angkasa saat merasakan halus dan lembutnya kulit wajah sang istri.
“My, lo marah sama gue?”
__ADS_1
Myria bergeming. Dua mata indahnya tetap memejam meski tidak tidur.
Angkasa menarik napas pelan lalu membuangnya lewat bibir. Pemuda itu mendekat dan bersimpuh di hadapan Myria. “Gue minta maaf sama lo karena belum bisa nepatin kata-kata gue di awal kita nikah. Waktu itu gue janji, gue mau lindungin lo, tapi malah kayak gini. Maafin gue, My.”
Mulut Angkasa berhenti bicara sebentar. Dia menunggu tanggapan Myria. Namun, karena tak lekas direspons, dia melanjutkan omongan. “Gue udah tahu apa yang terjadi sama lo, Friska yang cerita semua. Di sini gue ngaku salah karena ngerasa selama ini lo baik-baik aja. Lo juga nggak cerita, gue nggak tahu, My. Tapi lo nggak perlu khawatir lagi sekarang karena Erika udah gue kasih peringatan.”
Myria langsung terperanjat. Dia bangun dan duduk tegak dengan mata terbuka lebar. “Ka, apa maksudmu?”
Berjam-jam membisu, akhirnya Angkasa bisa mendengar suara Myria lagi. Cowok itu meraih jari-jari kecil tangan istrinya dan menjawab, “Gue keluar, ke tempat Friska tadi. Terus ke rumah Erika habis denger kalau gara-gara dia, lo kayak gini.”
Myria mendelik. Dia menarik tangan dari genggaman Angkasa. “Ka, kamu gegabah!”
Tanggapan Myria membuat Angkasa terperanjat.
“Gimana kalau Erika bakal lebih jahat lagi sama aku, Ka?” Myria melanjutkan perkataan. “Gimana kalau dia makin ganggu aku? Kamu nggak mikir sampai itu? Kamu—”
Angkasa langsung bangkit dan mendekap. Dia benamkan kepala Myria ke perut. Saat itu juga, tangis istrinya pecah, Angkasa sadar bahwa Myria tertekan keadaan.
“My, ada gue di sini. Gue bakal awasin lo terus sampai kita lulus dan nggak ketemu lagi sama Erika.”
“Nggak, Ka. Kamu nggak bisa. Erika punya banyak cara dan aku ataupun kamu nggak tahu. Aku mau pindah sekolah atau home schooling aja. Tolong sampaikan permintaanku sama Bunda.”
__ADS_1