Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 22: Perang Dingin


__ADS_3

“My, ikut aku, yuk, pulang sekolah.” Ajakan Friska tidak dijawab. Gadis itu menyenggol lengan sahabatnya. “Myria.”


“Oh, iya, apa?”


Friska mendengkus dan memutar bola mata. Sejak pagi Myria sulit sekali diajak mengobrol. Beberapa kali dirinya harus menyenggol agar ditanggapi.


Seperti saat ini, dua gadis itu telah di kantin beberapa menit lalu. Namun, hanya Friska sendiri yang sibuk bicara dan makan jajan.


“Ada yang kamu pikirin, ya, My?” tanya Friska lebih lanjut. Tidak lupa, dia tengok makanan Myria yang masih utuh dan hanya diaduk. “Nggak makan juga dari tadi?”


Myria menoleh ke piring sendiri. Dia memang tidak berselera makan apa pun lantaran perang dingin dengan Angkasa belum usai. Kemarin malam, suaminya tidak tidur di kamar bersama, mungkin di kamar lain. Pagi harinya pun, Angkasa melewatkan sarapan dan pamit berangkat lebih awal. Myria bingung untuk meminta maaf.


“Buat kamu aja, nih.” Sepiring batagor yang telah dipesan, akhirnya disodorkan Myria ke arah Friska daripada mubazir dan buang-buang uang.


“Lah, kenapa? Enggak cocok? Mau ganti menu?”


Myria menggeleng lemah. “Perut aku enggak enak. Buat kamu aja.”


“Kamu sakit?” Friska langsung menggeser kursi dan mengamati Myria dari dekat. Sebagai sahabat, apa saja yang dialami Myria, dia selalu khawatir.


“Eh, enggak. Nggak tahu, mau mens kali. Udah, makan aja.”


Bahu Friska terdorong; Myria yang melakukan agar sahabatnya itu berhenti bertanya. Terlalu banyak bicara, bisa saja menimbulkan kecurigaan.


Memang benar, menyembunyikan sesuatu membuat diri tidak tenang. Namun, Myria tidak mungkin pula mengatakan hubungannya dengan Angkasa pada Friska.


“Kamu ngomong apa tadi, Fris?” Dirasa cukup tenang, Myria mengalihkan obrolan. Dia berusaha lupa sejenak untuk perkara Angkasa dan fokus pada sahabatnya.


“Mau ngajak kamu ke toko buku yang ada di deket pasar pulang sekolah nanti. Tapi kalau kamu sakit, ya, nggak usah.”


“Ayo, aku temani. Nanti sekalian aku mau beli bunga buat ke makam Ibu.”


Garpu di tangan berhenti menusuk. Friska mengangkat kepala dan menoleh pada Myria. “Kamu ke makam pulang sekolah?”


“Um.” Myria bergumam sembari menyedot es jeruk. “Kangen aja sama Ibu.”


“My ….” Pelukan diberikan Friska. Dia usap lembut punggung sahabatnya untuk memberi kenyamanan.


Myria mengulas senyum dan membalas pelukan tak kalah hangat. Dia berkata, “Aku nggak pa-pa, Fris. Luka kehilangan orang tua emang enggak bakal sembuh, tapi aku tetep harus melanjutkan hidup.”


Ada genangan air di pelupuk mata Friska dan Myria. Dua gadis itu seolah lupa tengah di mana dan justru sibuk dengan dunia sendiri. Beberapa siswa yang melewati terheran, tetapi sebagian menganggap hal biasa karena memang tidak ada urusan.

__ADS_1


“Udah, ah. Dilihatin adik kelas.” Myria mengurai peluk. Jemari putih nan lentiknya menyeka sudut mata sembari menyulam senyum. Dia harus terlihat baik-baik saja meski sebenarnya ingin menangis lantaran kepala penuh akan beban pikiran menyangkut rumah tangga barunya.


Tidak berselang lama bel berbunyi, dua gadis yang sejak tadi di kantin itu segera kembali ke kelas. Namun, langkah Myria terhenti di ambang pintu kala melihat Erika berada di bangku miliknya tengah bicara pada Angkasa.


“Apa mereka baikan?” Hati Myria bergumam. Tidak biasanya melihat Angkasa mau menanggapi kehadiran Erika. Akan tetapi, kenapa sekarang seperti ini?


Berbeda dari Myria yang hanya mematung, Friska lebih dahulu maju dan mengusir. “Lo nggak denger bel? Masih aja betah di sini.”


Erika menoleh, pun Angkasa yang duduk tenang di bangku sendiri. Cowok itu sibuk makan es krim seolah tiada bosan.


“Biasa aja kali,” kata Erika sambil berdiri. Dia menatap sinis pada Friska, lalu berwajah manis pada Angkasa. “Ka, gue balik dulu, ya.”


Kemarin-kemarin Angkasa bersikap bodo amat pada Erika, tetapi lagi-lagi untuk saat ini ditanggapi meski hanya sekali anggukan. Perlakuan itu membuat hati Myria sedikit miris dan iri. Dia yang menjadi istri pemuda itu, tetapi dirinya juga yang terabaikan.


Pelajaran berlangsung tanpa gangguan. Guru Fisika menjelaskan dan siswa memperhatikan secara penuh. Ajang tanya jawab sesekali terjadi agar kelas tidak seperti berjalan hanya satu arah, tetapi ada interaksi siswa dan guru.


“Bu, apa sifat kemagnetan suatu benda bisa hilang?” Salah satu siswa mengangkat tangan dan bertanya setelah dipersilakan. Hal itu makin menambah keseriusan yang lain untuk belajar.


Guru wanita itu tersenyum menanggapi. “Ya, bisa hilang kalau ….” Spidol mengarah ke papan, Ibu Guru menulis sembari menjelaskan, “Sifat magnet bisa hilang saat yang pertama: dipukul; kedua: dipanaskan, dan ketiga: dialiri arus listrik bolak balik.”


“Kalau waktunya cukup, kita akan bahas ini satu per satu.” Penjelasan terus berlanjut. Semua serius dan sibuk mencatat. Termasuk Myria, dia harus lupakan sejenak kecamuk rasa di dada dan prasangka dari pikiran agar tetap bisa menangkap pelajaran.


Ketika jam pulang tiba, semua siswa bergegas tanpa menunggu perintah. Angkasa yang biasa santai seperti istrinya, kini lebih dahulu pergi tanpa menyapa atau apa pun. Kedongkolan di hati belum hilang, pemuda itu enggan berinteraksi dengan Myria.


Udara sore menerpa wajah dan menerbangkan jilbab yang dipakai. Myria dan Friska sepakat menuju toko buku langganan dengan angkutan seperti biasa. Dua gadis itu segera mencari apa yang diperlu, tetapi sesekali diselingi dengan membaca sampel buku yang telah dibuka.


“My, bagus ini novel.”


Myria mendekat. Dia membalik buku di tangan Friska guna membaca judul. “Kamu suka?”


“Entah, cuma baca dua halaman, doang. Baca blurb di belakang ini keren, sih, kayaknya.”


“Ya, udah beli aja.”


Friska berdecak. Dia taruh kembali novel bertema anak sekolahan itu ke rak buku. “Nggak, ah. Tabunganku belum cukup. Lagian, masih bisa baca novel online, kok.”


“Ya, bedalah, Fris. Novel cetak gini udah lewat kurasi editor secara berlapis. Beda sama yang di aplikasi. Isinya juga jadi pertimbangan, nggak cuma asal tulis.”


“Gitu, ya?”


“Hu’um.”

__ADS_1


“Padahal kamu nulis di aplikasi juga. Kenapa enggak ngebela tulisanmu sendiri, sih? Aneh!” Friska geleng-geleng. Kadang, dia bingung dengan cara berpikir sahabatnya.


“Bukan nggak ngebela. Aku, tuh, sadar diri kalau tulisanku masih banyak kurangnya. Masih perlu banyak belajar.”


“Udah, ah. Ayo, pulang aja, ntar kamu kemaleman.”


Obrolan harus disudahi karena waktu terus berputar. Selesai membeli buku dan mencari bunga, dua gadis itu naik angkutan bersama. Di tengah jalan, Myria turun lebih dahulu karena mendiang ibunya dimakamkan di pemakaman dekat kontrakan.


Kondisi makam sunyi. Dedaunan kering berjatuhan dan belum disapu. Langit sore tertutup awan kelabu siap menurunkan hujan.


Satu pusara yang masih tergolong baru menjadi tujuan Myria. Gadis itu berdoa sebentar, lalu membersihkan makam ibunya dari rumput-rumput kecil yang mulai tumbuh.


“Ibu, aku datang.” Nada bicara Myria mulai bergetar. Tangannya mengepal ringan untuk menguatkan diri.


Akan tetapi, sekuat apa pun ditahan, kesedihan dari hati melesak keluar berupa air mata. “Aku sehat, kok, Bu. Semoga Ibu dilapangkan kuburnya. Rasanya kangen banget pengin cerita banyak hal. Pengin cerita juga kalau aku udah nikah.”


Myria terus bergumam pelan seperti mengobrol bersama orang lain. Dia bicara lirih sembari mencabut rumput.


Sementara itu, Angkasa belum juga pulang. Pemuda itu ikut Sakti ke rumah. Bengkel dan rumah sahabatnya memang jadi tempat trongkongan sehari-hari.


“Ya, beli lagi pakai duit lo sendiri aja, napa, Ka? Penghasilan lo dari bengkel nggak kurang kali kalau cuma beli motor satu.” Sakti menyodorkan sekaleng soda. Dia memberi ide meski tidak diminta.


Angkasa melirik sahabatnya. Dia abaikan itu dan meneguk soda beberapa kali. “Kira-kira lo kalau ngomong. Kalau gue lakuin itu, yang ada malah disita semua fasilitas gue.”


Sakti terkekeh. Benar juga yang dikatakan sahabatnya. Permasalahan bukan perkara uang, tetapi lebih pada aturan orang tua. “Ya udah kalau gitu, terima nasib aja dah. Lo tetep cakep meski pakek motor gitu. Paling berkurang berapa persen doang.”


Angkasa menulikan pendengaran. Dia habiskan minum lalu beranjak.


“Mau ke mana lo?”


“Pulang lah, lo kira gue kayak dulu bisa pulang seenaknya.”


Sakti tergelak mendengar ucapan Angkasa. Dia tambah meledek, “Lupa gue kalau lo sekarang jadi anak mama.”


Angkasa menatap tajam, lalu menendang lutut Sakti dan menyahut helm. “Rese lo.”


Tawa Sakti makin pecah. Tidak pernah menyangka jika sahabat yang dahulu sering menang balapan, tawuran dijabani, sekarang harus terkurung dalam istana keluarga.


“Baek-baek lo dijalan!” teriak Sakti kala motor Angkasa melaju dan meninggalkan rumah.


Jalanan macet. Ternyata Angkasa keluar dari komplek perumahan Sakti bersamaan jam pulang orang kantor. Ditambah lagi gerimis mulai turun, beberapa pengendara motor harus berhenti dan menepi untuk mengenakan jas hujan.

__ADS_1


Angkasa menerobos jalanan karena tidak membawa jas hujan. Dia harus segera tiba di rumah sebelum basah kuyup layaknya kerupuk terendam air.


Azan magrib berkumandang tepat ketika kaki menapaki ruang tamu. Angkasa buru-buru ke kamar untuk membersihkan diri. Pintu masih tertutup rapat dan kondisi ruangan gelap, pemuda itu mengernyit. “Ke mana Myria?”


__ADS_2