
Semua orang masih terpaku atas kedatangan Sakti, sementara pemuda itu sudah masuk dan melangkah menghampiri sofa. Angkasa yang dihampiri pertama kali.
“Sehat lo?” kata Sakti sambil memeluk sahabatnya. Pemuda itu ternyata bersikap biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.
Meski sempat dibuat bingung karena sikap sahabatnya, Angkasa tetap berdiri dan membalas peluk. Dia masih setengah sadar karena tidak menyangka Sakti bersikap baik. Padahal, bukan hanya Angkasa, teman-teman lain juga mengira Sakti akan marah.
Melihat kenyataan berbeda dari dugaan, para cowok itu bersyukur dan bisa bernapas lega sekarang karena dua sahabat mereka akur kembali.
“Alhamdulillah. Mendingan.” Jawaban keluar dari mulut Angkasa. Dia lantas mempersilakan Sakti duduk.
Hampir saja Sakti memundurkan badan dan mendaratkan diri di sofa yang sama dengan Friska karena hanya bagian itu yang masih tersisa. Namun, Myria menyela, “Aku aja yang duduk situ. Kamu duduk sama Kasa sini.”
Semua cowok langsung menujukan pandangan pada Myria, termasuk Angkasa. Pemuda itu paham kemauan sang istri, lalu mengangguk.
Terjadi kecanggungan lagi saat Sakti duduk di samping Angkasa. Semua temannya bahkan tahan napas dan menelan makanan pelan-pelan agar tidak mengeluarkan suara. Sungguh! Kondisi terlihat aneh karena biasanya mereka sangat berisik saat berkumpul.
__ADS_1
Angkasa berdehem demi mengurai sepi. Dia tidak bisa berlama-lama membiarkan situasi seperti itu. “Berhubung kalian di sini, gue mau jelasin. Pasti pada heran kenapa gue nikah sama Myria.”
Friska yang baru akan membuka tutup cup es krim berhenti. Gadis itu menggilir pandangan pada temannya satu per satu. Terasa begitu lucu saat mendapati para cowok yang biasa tidak bisa diam dan berisik di kelas, sekarang saling membisu.
“Nggak usah dijelasin. Buat apaan? Semua udah kejadian.” Sakti menimpali. Tubuhnya mengarah ke depan, lalu menarik sebotol air mineral. Berkendara di jalanan saat matahari mulai naik membuatnya kehausan. Dia meneguk air bening itu tanpa sungkan.
“Biar lo nggak salah paham lagi.”
Sembari minum, Sakti melirik ke samping. Setelah itu, dia memiringkan badan sedikit untuk menghadap Angkasa. “Gue udah nggak masalah. Kemarin agak kesel ma elo. Bisa-bisanya lo biarin gue kayak orang bego dan nggak laku gitu gara-gara ngerebutin satu cewek. Dari awal kalau lo bilang Myria istri lo, gue nggak bakal naksir dia, Ka. Apa nggak sialan punya temen modelan kayak lo gini?” Tendangan kecil diarahkan Sakti ke lutut Angkasa, tetapi sahabatnya tidak marah. Angkasa justru menyengir dan disambut gelak tawa yang lain.
“Nggak ada yang rese pala lo!” Sakti ganti melempar kulit jeruk yang baru dikupas. Dia mengisi mulutnya dengan buah berwarna oren tersebut. “Lo pikir cewek-cewek di sekolah pada gila itu menggilai siapa kalau bukan lo? Semua juga tahu kalau mereka lihat lo kayak lihat artis. Lo nggak mikir kalau hubungan lo ke-ekspos, apa tanggapan mereka?”
“Tau dah si Kasa. Gue juga sempet kesel ama lo. Cewek gue sekali doang diajak ke area track motor, pulangnya nanyain lo mulu.”
Tawa renyah semua orang kembali mengudara. Bahkan, saking ramainya asisten rumah tangga yang ada di belakang ikut mendengar. Myria dan Friska yang hanya jadi penyimak sejak tadi ikut tersenyum simpul karena jarang sekali bergabung dengan obrolan para lelaki.
__ADS_1
Angkasa berdecak lirih. Dia maju dan mengarahkan badan ke meja untuk mengambil es krim karena ingin makan seperti yang lain.
Akan tetapi, belum sempat es krim terjangkau, Myria tanggap lebih dahulu. Gadis itu mengambil satu cup es krim cokelat lalu menyerahkan pada Angkasa. “Bisa sendiri?” tanyanya hati-hati. Kebiasaan melayani sang suami hingga terbawa sampai sekarang.
“Bisa. Kamu mau suapin aku?” Angkasa justru menggoda meski berada di tengah-tengah sahabatnya.
“Ciee ….” Semua kompak meledek. Bahkan lebih konyol lagi ada yang bersiul di dalam rumah. “Pulang aja kita daripada jadi nyamuk.”
Myria baru sadar dan buru-buru memindahkan es krim ke tangan Angkasa, sementara suaminya justru ikut tertawa seperti yang lain.
.
.
***
__ADS_1