
“Kasa, ikut Papa ke ruang kerja sebentar.”
Angkasa menoleh. Dia urung kembali ke kamar setelah makan malam. Sang ayah yang sudah melangkah lebih dahulu harus segera disusul. Namun, sebelum itu, dia bertanya pada sang mama. “Ma, ada apa?”
Nyonya Nasita mengedikkan bahu. Beliau lanjut membereskan piring-piring dibantu Myria.
Meski bingung, Angkasa tetap pergi. Tubuhnya segera bangkit dan kaki melangkah ke ruang kerja sang ayah.
Saat pintu ruangan terdorong, Angkasa melihat ayahnya sudah duduk di kursi sedang menunggu. Dia masuk dan mendekat ke meja kerja. “Kenapa Papa memintaku kemari?”
Tuan Aji mengamati putranya dari tempat duduk. Dua tangan beliau saling menaut dengan siku menumpu meja. Pria itu mengembuskan napas, lalu berdiri.
Laci yang ada di meja kerja tertarik, lantas sebuah kunci dikeluarkan oleh Tuan Aji. “Tukar motormu dengan motor matic ini. Mulai sekarang.”
Angkasa mengerutkan kening. Bibirnya merapat dengan pandangan mengarah ke meja di mana kunci tergeletak. Dia menghadap ayahnya kembali. “Maksud, Papa?”
“Mama ingin mengganti motormu. Jadi, sore tadi Papa meminta asisten papa membelikannya. Barang sudah ada di garasi, soal surat-surat akan terlengkapi minggu depan.”
Kebingungan Angkasa makin menjadi. Tanpa pemberitahuan apa pun, mendadak sang mama melakukan hal sepihak. Seperti tahun lalu, di mana dirinya harus terbelenggu dengan aturan rumah.
“Tapi, Pa, kenapa tiba-tiba gini? Aku enggak melakukan kesalahan?”
“Ini bukan soal kamu salah atau benar, ikuti saja keinginan mamamu.”
“Mana bisa aku terima gitu aja tanpa penjelasan.”
Putranya terus berargumen, Tuan Aji menjeda pembicaraan dan melangkah maju. Suara langkah kakinya menggema satu ruangan saking heningnya. Ketika sudah dalam situasi demikian, Angkasa mengira akan dapat hal kurang menyenangkan dari beliau.
“Kamu melawan perintah, Kasa?”
Suara penekanan dari sang ayah tidak pernah main-main. Tanpa perlu gertakan lebih lanjut, Angkasa memahami kebiasaan Tuan Aji ketika marah. Dengan hati begitu kesal, mau tidak mau dia menarik kunci motor dari atas meja. “Aku akan tanyakan alasan ini pada Mama,” kata Angkasa lalu mundur meninggalkan ruangan.
Setibanya di dapur, Angkasa langsung bertanya, “Kenapa Mama mau mengambil motorku?”
__ADS_1
“Astagfirullah, Kasa. Kamu buat Mama kaget saja.”
Angkasa menyender ke tembok. Dia tatap ibunya tanpa minta maaf. “Papa mau mengganti motorku, Ma. Ini kemauan Mama, kan? Kenapa? Aku enggak lakuin kesalahan.”
Cucian piring ditinggalkan, Nyonya Nasita mendekati putranya. Senyum manis terlukis di bibir wanita itu. “Tidak ada alasan apa pun, Mama hanya ingin lihat kamu pakai motor ini.”
“Ma, tapi ….”
“Mama tidak mau dengar apa pun.” Tidak perlu berada di tempat lama-lama atau hati akan luluh, Nyonya Nasita meninggalkan Angkasa dan menuju kamar di lantai atas.
Akan tetapi, meski telah pergi, Angkasa tetap tidak menyerah. Tentu saja dia mengejar ibunya dan merengek minta penjelasan selama menaiki tangga.
“Kasa, apa susahnya mengabulkan keinginan Mama, Nak? Lagi pula sudah disediakan juga motor yang lain.” Tangan Nyonya Nasita mendarat di kepala Angkasa. Beliau mengacak rambut putranya sebelum menutup pintu.
Angkasa yang ada di depan pintu hampir protes lagi, tetapi kalah cepat dan hanya bisa mematung. “Ma, tapi aku mau pakai motorku yang biasanya!”
Hening. Meski berteriak, tetap saja pintu tidak akan terbuka. Suka atau tidak, tetap saja Angkasa harus terima. Pemuda itu bertolak ke kamarnya sendiri dengan langkah gontai. Dia membanting pintu tanpa ingat ada penghuni lain selain dirinya.
Myria yang sedang sibuk belajar langsung berjingkat. “Kasa, kamu!”
“Kasa.” Panggilan diulang lagi oleh Myria. Gadis itu tentu bingung mendapati suaminya datang dengan wajah tertekuk.
“Ambilin gue es krim, My.”
Meski pertanyaan belum terjawab, Myria segera turun dan mengambilkan es krim sesuai permintaan sang suami. Gadis itu mengambil dua cup dari kulkas, lalu segera kembali.
Sampai di kamar, Myria masih melihat Angkasa di posisi yang sama. Hanya saja televisi telah menyala. Suaminya duduk malas di sofa dengan tubuh merosot dan kaki naik ke meja.
“Ini.”
Punggung menegak. Angkasa menerima pemberian istrinya, lalu kembali fokus memperhatikan televisi sekalipun acara tidak ada yang menarik. Mulut pemuda itu masih begitu enggan untuk bercerita. Suasana hati Angkasa langsung buruk, auranya pun turut suram.
Myria mendudukkan diri di samping. Dia letakkan cup es krim lain ke meja bersama kue-kue tadi sore yang belum habis. Bibir ingin kembali bertanya, tetapi dia sedikit takut.
__ADS_1
“Bete banget gue sama Mama. Motor mau diambil tanpa alasan.”
Mendadak Angkasa bercerita dengan sendirinya. Dia mengomel dan masih terus menyuap es krim ke mulut. Dua mata memang menghadap layar televisi, tetapi maksud pembicaraan pemuda itu mengarah pada Myria.
Myria termenung beberapa detik. Kemudian, dia menoleh dan memperhatikan wajah Angkasa dari dekat. “Terus kamu sekolahnya gimana?”
“Tuh, disuruh pakai motor matic.” Dagu Angkasa menunjuk kunci motor di dekat piring kue. Dia mendengkus tidak terima.
Satu tangan Myria mengambil kunci dari tempatnya, lalu bertanya, “Kenapa diganti?”
“Mana gue tahu, Myria. Mama susah banget dirayu. Nggak ngomong apa-apa, tau-tau suruh ganti.”
Melihat kekesalan Angkasa memuncak, Myria hanya bisa menggaruk kepala. Dia tidak terlalu paham bagaimana menenangkan hati seorang cowok. Namun, gadis itu tetap berusaha menghibur dan menanggapi, “Apa gara-gara aku nanya ke Bunda soal kamu balapan lagi, ya?”
Suapan Angkasa berhenti. Pemuda itu langsung menengok ke samping. “Maksud lo?”
Myria meringis sebelum menjawab. “Eee … tadi sore aku ngobrol sama Bunda. Nanya pendapat kalau kamu balapan lagi apa dapat izin. Gitu.”
Mata Angkasa membeliak. Dia taruh cup es krim ke meja dengan tekanan cukup kuat. “Lo ngomong gue mau balapan?”
Tubuh Myria mundur secara refleks karena Angkasa terlihat menyeramkan. Dia takut andai suaminya tiba-tiba menerkam tanpa pertanda. Tangannya bahkan terangkat sebatas dada dan bergerak kanan kiri. “Eng–enggak, kok, Kasa. Aku cuma nanya aja, terus Bunda nggak jawab apa-apa, tuh.”
Tidak puas akan jawaban Myria yang terkesan ragu saat menyampaikan, Angkasa maju dan memenjara tubuh sang istri dengan dua tangannya. Cowok itu tidak peduli meski Myria sampai telentang di sofa dengan posisi setengah duduk. “Kok, bisa lo nanya gitu?”
“Ee, itu, aku ….”
“Aku apa?” Suara Angkasa meninggi, Myria sampai memejam ketakutan saat mendengarnya. “Gue mau lo jawab jujur, Myria.”
“Aku … aku cuma kepikiran omongan Sakti di kantin yang bilang kalau kamu kembali ke geng. Jadi, aku ngira apa kamu akan balapan lagi.”
Tatapan Angkasa makin menusuk. Lesung pipi yang biasa terlihat kala tersenyum itu terganti dengan tulang yang menonjol tegas karena rahangnya mengetat. Entah apa yang akan didapat, Myria takut membuka mata dan hanya berani mengintip.
“Satu hal yang perlu lo tahu, Myria. Jangan asal bicara di depan ortu gue. Lo bilang gitu tanpa bukti, tapi efeknya nyata buat gue. Kalau lo nggak kenal gue sepenuhnya, jaga ucapan lo!”
__ADS_1
Angkasa menendang meja, lalu berdiri dan meninggalkan kamar. Myria sampai menjerit melihat suaminya pergi dengan kemarahan yang tidak pernah dilihat sebelumnya.
“Kasa….”