
“Gue menang.”
Pemuda itu melirik tajam, tetapi tidak bisa menyanggah karena semua orang telah menjadi saksi kekalahannya. Dia mundur menuju tas, lalu merogoh isinya dan mengambil ponsel. “Berapa nomor rekening lo? Gue transfer sekarang.”
Kondisi yang awalnya riuh, langsung senyap. Sebagian tim Galang menyayangkan apa yang telah terjadi. Uang 15 juta bukan nominal kecil, tetapi terbuang begitu saja dengan mudahnya karena emosi sesaat.
Seringai di bibir Angkasa makin jelas. Pemuda itu berkata, “Gue nggak butuh duit lo. Yang gue minta cuma lo bersikap gentle jadi cowok. Minta maaf sama mereka.” Telunjuk Angkasa mengarah pada Myria dan Friska yang tidak bergabung ke tengah lapangan. Sontak, semua siswa menoleh bersama.
“Eh, ada apa ini?” Friska gelagapan. Dia menarik mundur Myria selangkah demi selangkah, lalu berteriak, “Kasa, tas lo gue taruh sini!” Dibuangnya tas dari tangannya begitu saja tanpa persetujuan.
Dua gadis itu harus segera pergi daripada jadi pusat perhatian. Myria ikut saja kala sahabatnya terus menarik keluar lapangan. Belum sampai kaki menjangkau pintu, salah satu orang meneriaki.
Myria berhenti, begitu pula Friska. Keduanya memutar badan, lalu melihat pemuda SMA 2 menghampiri dengan berlari. Di belakang pemuda itu, tersusul semua siswa yang mengelilingi tadi.
“Buat kalian berdua, gue minta maaf karena hampir aja bikin kalian celaka. Sorry banget kalau tadi gue nggak tahu diri dan enggak minta maaf langsung,” kata pemuda itu dengan wajah memelas. Napasnya masih tersengal karena belum istirahat sama sekali usai bertanding.
“Ah, nggak perlu gini.” Myria tidak enak sendiri melihat pemuda itu, belum lagi siswa sekitar yang mengelilingi turut menaruh perhatian penuh. “Kita nggak pa-pa, kok.”
Friska mengangguk membenarkan. Pegangan tangannya pada Myria tidak dilepas sama sekali.
“Serius?”
Dua gadis di depan pemuda itu mengangguk bersama.
“Thanks, ya.” Tangan pemuda itu mengulur ke depan untuk bersalaman, Friska hendak menyambutnya dengan senang hati.
Akan tetapi, belum sampai bersentuhan, Angkasa menepis tangan pemuda tadi. “Nggak perlu pakek pegang pegang. Mereka udah maafin lo.”
Friska hendak menyela, tetapi Myria menahan dan memberi gelengan. Myria rasa tidak ada yang salah dari sikap Angkasa meski sebenarnya terlalu kasar.
Galang maju daripada kondisi memanas kembali. Meski dia tidak terlalu suka pada Angkasa, tetapi cowok itu tak ingin memperpanjang urusan. Hari telah sore, tenaga juga telah habis, itu berarti sudah waktunya pulang.
“Oke kalau gitu. Semua udah kelar. Gue perwakilan dari SMA 2 ngucapin banyak makasih buat sore ini. Kalau masih ada waktu, kapan-kapan ganti kalian yang ke SMA 2.”
__ADS_1
Sakti maju paling dahulu, lalu melakukan salam dan peluk perpisahan layaknya lelaki pada Galang beserta tim. Kemudian, anggota lain ikut melakukan hal yang sama.
Sorak sorai menghiasi senja sore itu, semua bertepuk tangan bahagia bisa melihat pertandingan yang seru. Angkasa yang jarang tersenyum, tanpa sadar melakukan sikap langkanya itu.
“Oke, Guys.” Sakti bicara sembari menepuk tangan sekali, kehebohan berhenti seketika. “Karena tim kita menang dan gue lagi seneng sore ini lihat sahabat gue main, gue traktir semua makan bakso besok di kantin jam istirahat.”
Pengumuman dari Sakti makin membuat pecah keadaan. Semua berteriak girang. Mulai dari adik kelas hingga Risti sekalipun. Cewek itu tentu saja makin mengagumi Sakti.
Berbeda dari Risti yang heboh, perhatian Erika terpusat pada Myria. Tatapan gadis itu tidak ingin pindah lantaran Angkasa ada di samping Myria. Bahkan, cowok yang jadi tujuannya pindah sekolah itu berdiri terlalu menempel hingga membuat hati Erika panas.
Kegiatan ditutup ucapan terima kasih banyak oleh Sakti. Pemuda itu memberi aba-aba untuk bubar dan segera pulang. Namun, nyatanya yang terjadi tidak sesuai arahan, yang ada para adik kelas sibuk mengerubungi Angkasa minta berfoto.
Friska menghela napas melihat kebucinan para siswi lain. Dia lantas menggamit tangan Myria dan diajak pulang. “Pulang ajalah daripada lihat Kasa tebar pesona.”
Myria tidak keberatan. Dia mengangguk dan memutar badan. Lagi pula, dia tidak mungkin mengusir siswi-siswi di dekat Angkasa atau tindakannya itu akan jadi boomerang bagi diri sendiri.
Baru 90 derajat tubuh Myria bergeser, satu tangannya terasa ditahan seseorang. Myria menoleh ke belakang.
“My, gue anter pulang.” Senyum tersungging di bibir Sakti. Selain sedang dalam suasana hati yang bahagia karena kemenangan, dia juga senang karena Myria hadir selama pertandingan.
“Lo bisa bareng anak-anak geng gue, Fris.”
“Ogah!” Gadis berjilbab segiempat itu menjawab tak acuh, lalu kembali bergegas membawa sahabatnya pergi.
Sekeras apa pun Sakti berusaha, akan selalu terhalang oleh Friska. Myria yang memang tidak secerewet sahabatnya lebih banyak diam dan membiarkan Friska menjadi pelindung.
“Susah bener kalau ada penjaganya gitu.” Badan yang semula kuat dan penuh tenaga, sekarang lemas. Pundak Sakti seperti digelayuti monyet hingga membuat bahunya merosot. Dia berjalan gontai mengambil tas, lalu pergi dari lapangan tanpa peduli Angkasa yang masih sibuk dengan penggemar.
Matahari tenggelam sempurna kala Myria tiba di rumah. Nyonya Nasita turun dari arah tangga langsung tersenyum menyambut. Myria memberi penjelasan alasan keterlambatannya pulang, wanita bergaun cokelat itu memaklumi.
“Kasa juga pulang telat?”
Myria mengangguk. Dia jadi tahu kalau suaminya belum pulang. “Mungkin kena macet, Bun.”
__ADS_1
“Ya, tidak apa-apa. Kamu bisa bersihkan dirimu, sebentar lagi magrib.”
Tidak lagi ada percakapan, Myria melenggang ke kamar. Dia harus segera mandi karena badan seharian terasa begitu kotor.
Keluar dari kamar mandi, gadis itu dikagetkan kemunculan Angkasa. Pintu kamar mandi baru saja terbuka, sekantung kresek sudah menggantung di depan wajah.
“Kasa.” Myria mundur sembari mengeratkan handuk yang ada di genggaman, sementara suaminya justru terkekeh.
“Kaget lo?”
“Apa pertanyaanmu penting?” Ditinggalkannya Angkasa begitu saja, Myria menuju meja rias untuk mengurusi rambut dan wajah.
Pemuda dengan seragam SMA itu membuntuti. “Ambil ini sebelum mencair.”
Dari pembicaraan, Myria sudah bisa menebak jika isi kantung kresek itu adalah es krim. Lantaran suaminya suka mengonsumsi itu, tanpa sadar dirinya turut sering makan es krim pula.
Tangan terulur ke depan. Myria menerima pemberian Angkasa tanpa bertanya apa pun. Namun, suaminya yang bertanya, “Sakti ngapain nyamperin lo?”
“Nggak ada. Nawarin tumpangan pulang tadi.”
“Lo balik sama dia?”
Sembari makan, Myria menggeleng. “Pulang sama Friska. Mana mungkin sama Sakti.”
“Gue nggak ridha lo deket cowok lain,” kata Angkasa secara tho the point.
Bola mata Myria bergerak ke atas memandangi Angkasa. Gadis itu lantas mengangguk dan meneruskan makan. “Aku tahu kewajiban aku, kok. Gimana denganmu?”
Gerakan Angkasa terhenti. Dia tatap istrinya dalam-dalam. Pikiran cowok itu berputar, mengapa Myria mendadak seperti ini. “Gue ada salah, My?”
Setengah cone es krim habis dilahap Myria. Gadis itu melipat bibir lantaran ragu ingin bicara. Haruskah dia mengatakan tentang perundungan yang dialami kemarin? Haruskah mengaku pula jika dirinya kurang nyaman saat Angkasa dikelilingi siswi-siswi lain?
Ya Allah, apa aku pantas cemburu?
__ADS_1
.
.