
“Duduk di sini. Gue ambilin lo minum.” Angkasa menggiring istrinya ke sofa. Dia yang berhasil membawa Myria pulang, bisa sedikit bernapas lega sekarang. Cowok itu menaruh tas di sisi lain yang tidak terduduki, lalu keluar kamar menuju dapur untuk mengambil minum.
Sepeninggalnya Angkasa, Myria beranjak. Dia letakkan tas ke kursi belajar lalu berpindah menuju lemari pakaian. Badannya terasa panas serta lengket, gadis itu ingin mandi.
Beberapa lembar pakaian dibawa masuk kamar mandi, Myria mengunci pintu dari dalam. Hanya pintu kamar yang dibiarkan agar Angkasa tidak kesusahan saat datang nanti. Berbeda dari biasanya saat mandi harus mencuri-curi waktu ketika suaminya tidak ada, kali ini Myria tidak lagi peduli itu.
Pikiran yang keruh menghadirkan rasa enggan untuk berurusan bersama Angkasa. Bahkan, sepanjang jalan tadi, Myria membisu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Air dingin menyiram tubuh. Myria mengurai rambut panjangnya. Tindakan Erika yang menjambak rambut tadi kembali terlintas di pikiran membuat mata gadis itu meneteskan buliran bening hingga bercampur dengan titik-titik air dari shower.
Pintu kamar terbuka dari luar. Angkasa masuk membawa dua gelas jus jeruk yang ada beberapa batu es di dalamnya. Pemuda itu celingukan mencari sang istri, tetapi langsung tenang kala melihat pintu kamar mandi tertutup.
Cowok yang masih memakai kaus olahraga itu menunggu Myria dengan sabar. Angkasa duduk tenang sembari memainkan ponsel dan melihat pesan masuk berasal dari teman tim basket. Dia menghela napas usai membaca semua tulisan beserta foto yang tertera.
Suara pintu terbuka membuat Angkasa menoleh. Dia lihat Myria keluar dengan kaus pendek dan rok panjang. Rambut istrinya basah dan tergerai, buru-buru Angkasa berdiri lalu menghampiri.
“Gue bantu keringin.”
Myria menggeleng. Dia melangkah kembali ke sofa sembari menggosok rambut. Sikap abainya ternyata belum selesai meski sudah pulang bersama.
Angkasa membuntuti di belakang. Persis seperti itik mengikuti ibunya. Dia juga duduk setelah Myria duduk.
“Mau minum nggak?”
Lagi-lagi Myria menggeleng dan berhasil membuat Angkasa makin bingung.
“My, bicara sama gue.”
Ada kemajuan sedikit, Myria sudah mau membalas tatapan saat diajak bicara. Namun, hanya sekilas gadis itu memberi balasan, setelahnya kembali diam dan membuang arah pandang.
“Myria.”
__ADS_1
“Aku pengin sendiri.” Akhirnya Myria mau bicara selepas mendengar ketegasan suaminya. Ada waktu di mana gadis itu bebal dan bersikap tak acuh tentang kewajiban yang harus dilakukan sebagai istri. Myria sadar itu dosa, tetapi manusia memang tempat salah dan khilaf.
“Kali ini gue nggak akan nuruti kemauan lo.”
“Kasa.”
“Myria!”
Handuk di tangan terlempar tepat ke wajah Angkasa. Baru ini Myria melakukan tindakan seberani itu. Kesabaran gadis itu habis dilumat kesedihan, tetapi suaminya tak kunjung paham. Alhasil, sikap itu terjadi secara spontan. Naluri Myria meronta ingin meluapkan emosi yang terpendam, tetapi sulit dan tidak ada tempat.
Angkasa terkejut. Matanya sampai membeliak dan nyaris keluar. Pemuda itu hendak meminta penjelasan pada Myria, tetapi istrinya sudah berdiri dan melangkah cepat menuju ranjang.
Myria membanting tubuhnya dengan posisi telungkup. Satu bantal membekap wajah sendiri.
Urung untuk mengamuk, Angkasa mendekat dan ikut naik ke atas ranjang saat melihat bahu Myria bergetar. Dia tahu istrinya sedang menangis.
“My, kenapa?” Suara Angka melirih. Satu tangan menumpu kepala dengan posisi badan miring menghadap Myria, sementara satu tangan lain mengelus rambut panjang di depannya.
“Cerita sama gue, My.” Angkasa berkata lagi meski tidak dijawab sejak tadi. Dia baru paham, saat seperti ini tidak mungkin Myria bicara. Belum ada air mata yang jatuh saja, dirinya sudah diabaikan, apalagi saat sesenggukan seperti itu, jelas saja Myria makin membisu.
Tangis Myria mereda. Dia mulai menuruti perintah Angkasa dan memiringkan badan, memunggungi sang suami. Mata teduh gadis itu berubah sembab disertai hidung memerah karena banyak menangis sejak tadi.
Angkasa membiarkan posisi Myria seperti itu. Kemudian, dia memeluk dari belakang beserta kaki yang ikut menindih. “Gue tahu ini mungkin ngelanggar kesepakatan kita, tapi kalau lihat lo kayak gini, gue nggak bisa diem. Gue nggak bisa kalau nggak kepo apa yang terjadi sama lo.”
Sebanyak apa pun Angkasa bicara, respons Myria tidak berubah. Mulut gadis itu terkunci rapat dan entah kapan itu terbuka.
Helaan napas berat keluar dari bibir. Angkasa kehabisan akal untuk merayu. “Lo bisa tidur kalau gitu. Gue jagain di sini.”
Ucapan itu usai, tak ada lagi kata-kata keluar dari mulut Angkasa. Dia biarkan keheningan membungkus kebersamaannya bersama sang istri. Mungkin, dengan menuruti kemauan Myria diam akan sedikit membantu melegakan kesedihan.
Kepala Angkasa nyaris terantuk dengan istrinya setelah bermenit-menit terdiam. Sebelum itu terjadi, pemuda itu lebih dahulu membuka mata. Menemani Myria, ternyata membuat Angkasa ikut terserang kantuk.
__ADS_1
Pelan-pelan kepala bergerak maju. Angkasa melongok ke arah depan untuk melihat istrinya apakah sudah tidur.
Senyum tipis tersemat di bibir cowok itu saat tahu kelopak mata istrinya sudah menutup. Dia bangkit dari pembaringan, lalu bergegas ke kamar mandi.
Angkasa memiiki ide untuk menanyakan semua hal yang menimpa Myria pada Friska. Maka dari itu, dia segera pergi setelah persiapannya selesai.
Cuaca terik diterabas tanpa peduli, Angkasa tiba di depan rumah Friska dan segera turun. Dia mengetuk pintu perlahan, lalu dibukakan oleh pemiliknya.
“Masuk, Ka.” Friska menyambut ramah. Dia sudah dapat pesan sebelum suami sahabatnya itu tiba.
“Nggak usah, kita ngobrol di teras aja gimana?”
Friska menengok ke samping di mana ada tiga kursi plastik berjajar. “Oke, lo duduk dulu. Gue ambilin minum.”
Angkasa tak menolak. Dia menuju kursi biru tua itu setelah mengangguk dan ditinggal Friska. Tidak berselang lama, teman kelasnya itu telah kembali.
“Gue nggak kaya kayak keluarga lo. Adanya ini, jadi sorry kalau nggak tertarik.” Dua gelas es teh tertata sejajar di nampan plastik yang dibawa. Kemudian, Friska menaruhnya ke satu kursi yang masih kosong.
“Santai aja lagi. Gue bukan cowok manja.”
“Tapi dimanja sama nyokap lo.”
“Itu karena gue hampir mati di tahun lalu.”
Friska tak lagi menanggapi. Dia memilih diam daripada pembicaraan Angkasa makin menyebar. Gadis itu duduk berjarak satu kursi dengan Angkasa, lalu memulai obrolan.
Semua cerita Friska membuat darah Angkasa mendidih. Tatapan santainya ikut berubah dingin dan penuh kebencian. Tangan yang sejak tadi memegang gelas, tiba-tiba mengentakkan alat minum itu ke kursi hingga membuat Friska kaget.
Belum selesai dengan kekagetan, Friska dibuat bingung dengan sikap Angkasa yang langsung berdiri. “Ka! Lo bikin gue jantungan.”
“Gue pamit, Fris. Thanks buat infonya.”
__ADS_1
“Lah, lo mau ke mana?” Friska bergegas bangkit. Dia hampiri Angkasa yang sudah memakai helm.
“Gue mau lakuin sesuatu biar jera orang yang udah nyakitin istri gue.”