
Mobil yang dikemudikan Daniel berhenti tepat saat azan isya berkumandang. Pria berdarah campuran itu segera turun dan memutar diri ke belakang untuk membukakan pintu.
Tuan Tirta menurunkan kaki setelah pintu terbuka lebar. Kemudian, beliau berdiri sempurna di samping mobil. Dua matanya menatap sekeliling, di mana deretan pintu kontrakan terpampang jelas di depan mata. Dia menghela napas berat saat melihat wujud tempat tinggal mendiang ibunda Myria.
“Tuan.” Daniel masih keheranan. Sikap Tuan Tirta tampak tidak biasa di matanya. Pria yang biasa tegas dan punya pendirian kuat itu, kini terlihat lemah tak berdaya di mata Daniel. “Apa Anda tidak nyaman di sini?”
“Tidak, Dan.” Bibir terlipat. Tuan Tirta lantas menepuk bahu asistennya. “Ayo, cari yang punya rumah kontrakan ini atau kita tanya dulu pada penghuninya.”
“Baik, Tuan.”
Dua pria itu melangkah menuju pintu kontrakan pertama. Di sana kebetulan ada beberapa orang sedang mengobrol santai sambil menikmati makanan. Ketika Tuan Tirta dan Daniel makin dekat, orang-orang itu menghentikan pembicaraan dan memindah pandangan.
“Selamat malam, Tuan dan Nyonya.” Daniel buka suara. Dia berhenti sekejap saat tatapan orang-orang serempak mengarah padanya.
“Iya, Tuan . Bisa kami bantu.” Satu pria berkaus hijau menyahut. Dia yang paling dekat posisinya dengan Daniel.
“Begini, bos saya sedang mencari seseorang. Namanya Kinara Iswari. Apa ada yang kenal?”
Kondisi mendadak sepi beberapa saat. Bukannya menjawab, orang-orang di depan Daniel justru saling melempar pandang dan mengamati Daniel beserta Tuan Tirta bergantian. Dua pria yang diamati itu sampai risih.
__ADS_1
“Tuan, Nyonya, apa ada yang tahu?” kata Daniel penuh ketegasan. Dia bertanya apa, tetapi tanggapan orang-orang apa. Hal itu membuat kesabarannya sedikit terusik.
“Oh, sebentar.” Tak habis akal, Daniel ganti merogoh saku dan mengeluarkan dompet. Lembaran uang terpampang nyata di depan mata dan disodorkan pada orang-orang tadi. Tuan Tirta yang ada di belakang tersenyum sinis. Dia benci melihat hal semacam itu.
“Heh, semua orang memang tidak tahu diri. Gila uang semua.” Pria itu membatin. Bagi Tuan Tirta, di dunia ini manusia sibuk mendewakan uang. Tidak ada yang namanya ketulusan.
“Silakan ambil uang ini bagi Anda yang memberi tahu tentang keberadaan wanita bernama Kinara Iswari tadi.”
Tak ada satu pun yang mengambil uang dari tangan Daniel. Orang-orang hanya terdiam hingga salah satu dari mereka akhirnya berdehem. Pria yang tadi menyapa, kini memosisikan diri lebih tenang.
“Tuan, Ibu Kinara memang dulu tinggal di sini. Tapi ….” Pria penghuni kontrakan itu sedikit ragu menyampaikan. Beliau memandangi tetangga lainnya lagi.
“Tapi orang yang Anda tanyakan sudah meninggal beberapa bulan lalu,” kata pria penghuni kontrakan tadi.
Gradasi wajah Daniel berubah. Dia agak kaget, tetapi ingat bosnya dan menengok ke belakang untuk dapat keputusan. Belum sempat bicara, Daniel justru dikagetkan dengan kondisi Tuan Tirta yang memegang kepala dan meraba-raba mobil untuk tetap berdiri.
“Tuan!” Segera Daniel memapah bosnya. Dibantu penghuni kontrakan membuka pintu mobil, pria itu mendudukkan Tuan Tirta di bangku belakang. Dia segera ke depan untuk mengambilkan obat.
“Pelan-pelan, Tuan,” kata Daniel sembari membukakan segel botol air mineral. Dia setia menunggu agar bosnya tenang dan berkurang rasa sakitnya.
__ADS_1
“Apa perlu kita ke dokter, Tuan?” Khawatir terjadi apa-apa pada Tuan Tirta, Daniel memberi saran. Urusan perkara mencari wanita bernama Kinara, bisa dilanjutkan besok.
“Tidak, Dan. Aku tidak apa-apa. Tanyakan pada orang-orang tadi. Di mana makam Kinara, lalu bagaimana nasib putrinya.”
“Baik.” Kepala Daniel keluar dari mobil. Tubuhnya tegak kembali lalu mendekati orang-orang yang masih siaga di sekitar.
Sesuai permintaan Tuan Tirta, Daniel menggali informasi yang ada. Sekitar 20 menit lamanya pria itu mengobrol, dia baru kembali ke mobil.
“Bagaimana?” Tuan Tirta bertanya dari belakang. Kondisinya telah membaik dari sebelumnya.
“Putrinya yang tadi bernama Myria ternyata diusir dari pemilik kontrakan ini karena tidak mampu membayar, Tuan. Dan setelah itu, tidak ada yang tahu di mana gadis itu tinggal.”
Tuan Tirta menghela napas panjang. Dia harus bersabar dan menunggu keajaiban agar bisa bertemu Myria lagi.
“Dapat alamat pemakaman Kinara?”
“Dimakamkan di makam Islam dekat sini, Tuan. Apa Anda ingin ke sana?”
Dari pantulan spion atas kemudi, Daniel melihat Tuan Tirta menggeleng. Bosnya itu menatap jendela luar dengan tubuh bersandar.
__ADS_1
“Kita pulang, Dan. Aku akan datang ke sekolah gadis itu saat libur semester sudah selesai.”