
Turun dari taksi dengan perasaan tak keruan, Myria nyaris putar balik lantaran enggan menemui Tuan Tirta yang sudah menunggu di dalam rumah sakit. Selama perjalanan tadi, gadis itu berubah pikiran sehingga mengajak Angkasa kembali.
Akan tetapi, respons Angkasa justru berbeda. Pemuda itu berusaha memberi penjelasan yang bisa dipahami. Bukan tanpa alasan Angkasa membujuk Myria, dia ingin sang istri dapat jawaban pasti dan seolah tidak hutang janji. Meski sebenarnya, Tuan Tirta tidak memaksa untuk disetujui perkara tes DNA, tetapi pagi tadi Myria sudah bilang ‘iya’.
“Mau nelepon orangnya dulu nggak?” Angkasa bertanya pelan. Satu tangannya masih terus menggenggam tangan Myria. Dua remaja itu mulai memasuki pintu utama rumah sakit dan disambut loket pendaftaran.
“Orangnya nunggu di dalam katanya. Tapi nggak tahu di mana.”
“Telepon, gih!”
Ragu-ragu Myria menarik ponsel dari saku. Beberapa kali dia meremas tangan Angkasa saking gugupnya.
“Tenang aja, ada aku,” kata Angkasa berusaha menenangkan lagi.
Belum sempat nomor Tuan Tirta ditekan, Daniel lebih dahulu datang dan menghampiri. Pria 30 tahun itu mengernyit melihat Angkasa bersama Myria. Apalagi dalam posisi bergandengan tangan.
“Nona, mari.” Meski rasa penasaran telah memuncak hingga ubun-ubun, Daniel bersikap professional menjalankan tugas. Dia seolah tidak melihat apa pun perkara Myria dan Angkasa.
“Oh, iya, Tuan.”
Senyum Daniel terlukis manis di wajahnya yang tampan. Pria itu mengibas jas blazernya lalu memberi arahan Myria berjalan ke arah di mana Tuan Tirta berada.
Sampai di depan salah satu ruangan, Myria ternyata sudah ditunggu Tuan Tirta beserta tenaga medis yang akan menangani. Dia segera memberi salam, lalu ikut masuk ke ruang periksa di mana akan dilakukan pengambilan sampel.
Tidak butuh waktu lama untuk pengambilan sampel. Dua orang itu masuk bergantian, lalu keluar. Pihak rumah sakit menjelaskan akan memberi kabar dua pekan lagi setelah pengecekan selesai.
“Baik, terima kasih. Kami permisi.”
Semua orang beranjak dan segera pergi. Myria tak banyak bicara saat bertemu Tuan Tirta. Bahkan, Angkasa pun, tidak terlalu ikut campur.
“Apa kalian mau ikut aku dan Daniel makan malam?” Keluar dari pintu utama rumah sakit, Tuan Tirta menawarkan kegiatan lain. Rasanya masih kurang bertemu Myria hanya sesingkat itu.
Angkasa dan Myria berhenti lalu melihat Tuan Tirta secara bersama-sama. “Tidak perlu, Tuan. Terima kasih. Sebentar lagi magrib, kami harus segera kembali.” Tanpa bertanya pada Angkasa, Myria mengambil keputusan sendiri.
“Nona—” Daniel hendak membujuk, tetapi tangan Tuan Tirta sudah memintanya berhenti.
__ADS_1
“Baiklah, aku tidak akan memaksa. Kita bertemu dua pekan lagi.”
Myria mengangguk. Dia menangkup tangan ke dada lalu berpamitan bersama Angkasa. Ternyata, dirinya memang tidak mudah akrab pada orang baru setelah kepergian sang ibunda. Kematian Nyonya Kinara mengubah total kehidupan dan sikap Myria, bahkan untuk tertawa puas seperti dahulu, Myria telah lupa caranya.
“Udah lega?”
Myria menoleh pada orang di samping. Dia menarik tangan Angkasa agar pemuda itu duduk lebih dekat. “Makin deg-degan nunggu dua minggu lagi.”
Tawa pelan mengudara dari mulut Angkasa. Satu tangannya mengusap kepala sang istri dengan penuh perhatian. “Berdoa yang terbaik. Salatnya dikencengin, serahin semua sama Allah.”
Waktu berjalan terasa begitu cepat. Tidak ada yang terjadi selama dua pekan setelah pengujian DNA di rumah sakit. Tuan Tirta beberapa kali mengajak Myria makan bersama, tetapi selalu ditolak. Angkasa sebenarnya tidak melarang asal pergi dengannya, tetapi Myria tetap menjaga batasan.
“Jadi hari ini?” tanya Angkasa sembari merapikan buku setelah pelajaran terakhir selesai. Myria di depannya mengangguk sambil menarik jilbab.
Friska di depan Myria hanya menunggu dua temannya itu. Dia tahu jika sahabatnya telah menerima tawaran Tuan Tirta. “My, aku ikut boleh?”
Perhatian Myria yang ada pada ponsel pindah pada Friska. Dia ganti menoleh ke samping di mana Angkasa juga menatapnya.
“Kepo amat lo.” Baru saja Myria hendak membuka mulut, tetapi pertanyaan Friska lebih dahulu dijawab Angkasa. Pemuda itu tersenyum miring setelah menjawab.
“Jelaslah. Lo bukan siapa-siapanya Myria.”
“Enak aja lo bilang gitu, Ka. Justru elo tuh orang ketiga di antara persahabatan gue sama Myria.”
“Tapi akhirnya Myria bakal lebih lama sama gue, bukan lo. Apalagi kalau lo dah nikah, nggak yakin masih bisa seintens sekarang.”
“Yakin, lah! Kenapa nggak!” Friska masih terus menanggapi omongan Angkasa. Padahal, suami sahabatnya itu jelas-jelas sengaja memancing perkara.
“Udah. Apa, sih, kalian ini.” Myria ikut jengah melihat Friska dan Angkasa debat. Tiada hari dilewati tanpa perseteruan meski awalnya urusan sepele.
“Suami kamu, ni, My. Ngeselin banget.” Friska mengadu. Wajahnya cemberut dan melirik sinis pada pemuda yang masih duduk di bangku belakang.
“Elo aja yang baperan.” Bukannya diam, Angkasa masih terus menimpali. Ternyata, tak hanya Friska yang kukuh ingin menang, tetapi cowok itu pula.
“### Ya, Allah. Udah!” Myria terpaksa melerai dengan sisa kesabaran. “Ayo, berangkat. Kalau kalian masih debat mulu. Aku berangkat sendiri.”
__ADS_1
-
***
Rumah sakit kembali didatangi Myria. Kali ini dia tak hanya bersama sang suami, tetapi ada pula sahabatnya. Friska akhirnya ikut meski selama di taksi adu mulut dengan Angkasa beberapa kali.
Sama seperti dua pekan lalu, kedatangan Myria telah ditunggu Daniel di lobi. Pria itu segera membawa Myria beserta teman-temannya masuk.
Di ruang tunggu, Tuan Tirta sudah duduk tenang. Wajah pria itu tersenyum ramah saat melihat kedatangan Myria. Beliau berdiri dan menghampiri.
Friska yang ikut sempat melongo melihat wajah Tuan Tirta untuk pertama kali. Beberapa kali dia mengucek mata.
Ya, Allah, kalau bener orang ini ayah sahabatku, berarti Myria tajir bener.
“Kalian sehat?” Sebelum membicarakan hal serius, Tuan Tirta mengajak Myria dan Angkasa mengobrol. Sudah kedua kali bertemu Angkasa, Tuan Tirta mulai akrab meski tidak terlalu banyak tanya siapa sebenarnya pemuda yang selalu ada bersama Myria itu.
“Alhamdulillah, sehat, Tuan.”
Tuan Tirta mengangguk sekali sambil tersenyum. Dua matanya pindah melihat Friska yang sejak tadi diam.
Seolah paham maksud Tuan Tirta, Myria lebih dahulu memperkenalkan. “Gadis ini sahabat saya, Tuan. Namanya Friska. Teman sebangku juga.”
“Oh, ya.” Tak seperti kemarin bertemu Myria ingin bersalaman, Tuan Tirta lebih memahami cara berinteraksi para gadis itu sekarang. Beliau hanya melempar senyum dan dibalas hal yang sama oleh Friska.
Obrolan orang-orang itu terhenti saat asisten dokter memanggil. Tuan Tirta dan Myria segera masuk. Angkasa turut ikut, sementara Friska ingin tinggal tetapi diajak pula.
Dokter menyambut dengan obrolan ringan sebentar pada Tuan Tirta. Kemudian, beliau memberikan hasil laboratorium atas sampel DNA yang kemarin diambil.
Tuan Tirta membuka amplop putih berkop surat nama rumah sakit, lalu membaca tulisan di selembar kertas yang ada di dalam.
Tabel-tabel berisi istilah medis tak terlalu dipahami oleh Tuan Tirta, beliau langsung memusatkan pandangan menuju akhir halaman berisi kesimpulan.
Dan hasilnya ternyata ….
-
__ADS_1
-