
“Kamu yakin ikut tanding basket?” Myria bertanya sembari menyerahkan kaus olahraga. Angkasa meminta tolong padanya tadi untuk diambilkan karena besok pemuda itu ingin ikut meramaikan salah satu kegiatan class meeting.
Ujian semester selama sepuluh hari telah terselesaikan dengan baik. Meski sempat perang dingin selama ujian itu berlangsung, kini Myria dan Angkasa telah akur kembali. Sejak hari di mana gadis itu ingin berangkat bersama, Angkasa tak lagi bersikap dingin. Pemuda itu kembali banyak bicara saat di rumah.
“Iya. Lo keberatan?” Tangan sibuk memasukkan kaus ke tas, tetapi mata dan tatapan Angkasa tertuju pada Myria. Dia duduk di kursi belajar, sementara istrinya masih berdiri di hadapan.
Myria menggeleng. Dia mundur dan menarik kursi belajarnya untuk duduk. “Enggak, buat apa aku keberatan? Itu hak kamu sepenuhnya. Kita udah sepakat nggak bakal membatasi satu sama lain, kan?”
Tangan Angkasa berhenti menarik ritsleting ransel. “Tapi gue bisa terima kalau lo nggak suka gue ngelakuin suatu hal. Sebagai suami, gue selalu berusaha buat ngasih lo kenyamanan, My. Itu bagian dari nafkah batin yang emang berhak lo terima.”
Tak lekas menjawab, Myria terdiam sesaat sambil membalas tatapan Angkasa. Gadis itu akhirnya menyulam senyum setelah beberapa detik membiarkan keheningan menyelip di antara obrolan malam ini.
__ADS_1
“Aku udah nyaman, kok, kayak gini. Bisa hidup dan diterima di keluargamu, itu udah buat nyaman banget, Ka. Aku nggak pengin nuntut kamu harus bersikap gimana-gimana. Aku terima semua baik buruknya kamu.”
Angkasa memicing setelah mendengar jawaban Myria. Otak pemuda itu merespons dengan cepat dan siap memberi tanggapan lain. Bibir yang awalnya terkatup itu mulai terbuka. “Lo serius, My?”
“Um.” Myria menjawab cepat tanpa berpikir. Beberapa bulan bersama, memang tidak ada hal besar yang membuatnya tertekan. Hanya sikap Angkasa yang suka memaksa atau tentang mudah marahnya pemuda itu kala ada suatu hal tidak mengenakkan hati. Namun, itu semua tidak mengganggu sedikit pun bagi Myria.
Berbeda dari Myria yang bersikap tenang dan yakin, Angkasa justru membuang napas berat. Pemuda itu berpegangan di sandaran kursi, lalu mengayunkan kaki hingga roda kursi berputar dan tempat duduk itu bergerak ke arah Myria.
Tepat ketika jarak telah habis hingga lutut saling membentur, Angkasa menahan diri agar kursinya tidak menabrak dan mencipta rasa sakit. Dia pandangi Myria yang masih terdiam dan hanya melihat tingkahnya sejak tadi.
“Ya, Kasa.” Myria menjawab pelan dan lembut. Dua mata bulatnya memandang teduh bergantian antara paras Angkasa dan telapak tangan yang digenggam.
__ADS_1
“Jujur sama gue, lo bahagia nggak nikah sama gue?”
Pertanyaan yang tidak pernah Myria pikirkan terlontar begitu saja dari Angkasa malam ini. Namun, alih-alih bingung atau ragu untuk menjawab, Myria justru menarik garis bibirnya makin lebar. Dengan senyum mengembang, dia mengangguk. “Insyaallah, iya.”
Bongkahan batu besar yang mengimpit dada Angkasa serasa pecah menjadi kepingan hingga menghadirkan rasa lega. Pemuda itu menegakkan badan dan nyaris mencium Myria secara refleks saking bungahnya. Rasa khawatir yang mendramatisir hati sejak dapat pertanyaan tadi, kini akhirnya terbantahkan dengan jawaban yang didengar langsung oleh sang istri.
Angkasa turut mengulas senyum dan dapat balasan yang sama makin berbunga hatinya. Dia bergerak maju, lalu menarik kepala Myria ke pelukan. “Gue bersyukur, Alhamdulillah kalau lo bisa bahagia, My. Lo tahu, gue nikahin lo selain karena nggak tega lihat lo sendirian kalang kabut ngejalani hidup, gue juga pengin lihat lo senyum lagi kayak dulu. Gue emang nggak begitu perhatian sama lo dari awal kita sekelas, tapi waktu lo murung itu kelihatan jelas banget. Lo sama Friska biasanya berisik waktu gue tidur, tapi sejak ibu lo pergi, rasanya gue ikut ngerasain sepi gara-gara lo lebih banyak diem.”
Myria terdiam. Semua perkataan Angkasa menyurutkan senyum yang terukir di bibir. Gadis itu menyandarkan kepala di pelukan dengan telinga mendengar setiap detak jantung suaminya berirama. “Kasa, apa kamu percaya kalau semua hal di dunia ini enggak ada yang kebetulan? Kamu percaya kalau semuanya telah diatur Allah?”
Pelukan Angkasa merenggang. Dia rengkuh bahu Myria mundur dan menatap dalam bola mata sekelam langit malam itu penuh penghayatan. “My, lo juga tahu lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan, Allah udah nulis ketentuan semua makhluk. Sekarang lo nanya kayak gitu, mana mungkin gue jawab semua ini kebetulan. Gue ketemu lo sampai bisa berhadapan gini, itu udah tulisan Allah, My. Bahkan kehidupan kita ke depannya, itu udah kuasa Allah.”
__ADS_1
Obrolan malam ini terasa begitu bermakna bagi Myria. Saat tertentu, Angkasa memang terlihat dewasa dari usianya. Cara berpikir sampai cara pemuda itu bersikap mampu menggetarkan hati sedikit demi sedikit.
Allah, gimana kalau aku lama-lama suka sama Kasa?