Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 61: Tak Kuat Menahan


__ADS_3

Warning!!


Dua bab ini, akan ada adegan dewasa berupa kekerasan. Sila skip untuk umur dibawah 21.


***


Tiga dari enam pria yang menjadi suruhan Erika meninggalkan gudang. Mereka berlari menyusul pemuda berseragam SMA pengintip tadi. Misi belum berjalan, tetapi sudah mulai ada pengganggu. Apa pun gangguan itu, semua harus segera disingkirkan.


Kaki pemuda SMA itu terus melangkah cepat. Napasnya memburu dengan keringat mulai bercucuran di seluruh wajah hingga ke leher. Jantung yang sejak tadi seperti genderang perang ditabuh, kini makin tidak terkontrol. Dia terus berdoa agar tetap diberi kesempatan hidup. Andai harus dihajar para preman tadi, pemuda itu masih berharap akan ada keajaiban berupa pertolongan.


Ponsel masih di saku celana. Satu-satunya barang bukti hanya itu. Beruntungnya, dia tadi sempat mengirim banyak pesan pada Angkasa, sehingga tugasnya kini tinggal mencari cara untuk bertahan sebelum teman sebangkunya itu sampai.


“Berhenti lo, Bocah!” teriak salah satu dari preman yang kini sudah menemukan keberadaan teman sebangku Angkasa itu. Tanpa diduga, pria berwajah sangar dengan banyak anting di telinganya, ternyata membawa celurit tajam di tangan kanan.


Teman Angkasa menelan ludah susah payah. Pemuda itu sampai tersungkur karena panik dan tidak fokus. Dia menggeleng ketakutan. “Ja–jangan bunuh gue, Bang,” ucapnya dengan terbata. Tubuhnya bergetar hebat dengan suara timbul tenggelam. Seluruh tenaga seakan lenyap begitu saja dan tak bisa lagi melarikan diri.

__ADS_1


Tiga preman itu menyeringai keji. Satu di antaranya meludah ke samping. “Bocah ingusan kayak lo, enaknya diapakan? Lo tinggal sebutin cara mati yang enak menurut lo, biar kita nggak repot-repot mikir.”


Teman sebangku Angkasa menggeleng. Dia makin mundur dengan menyeret seluruh tubuhnya yang tak kuat lagi berdiri. Tak terdefenisikan lagi rasa takutnya antara hidup dan mati. “Gu–gue mohon, Bang. Ampuni gue.” Meski keberanian tak lagi penuh, dia berusaha bertahan dengan meminta belas kasih. Pemuda itu berharap dengan cara demikian, dia bisa mengulur waktu untuk menunggu Angkasa. Meski tak tahu Angkasa datang sendiri atau membawa bala bantuan, pemuda itu tetap berharap ada keajaiban.


“Enak bener lo ngomong minta ampun. Lo kira, kita-kita ini bodoh? Sekarang berikan hape lo sama gue.” Satu preman yang ada di tengah menyodorkan telapak tangan tepat di depan wajah. Tatapan bengisnya seolah-olah bisa menguliti manusia tanpa menyentuh sedikit pun.


Akan tetapi, teman sebangku Angkasa itu tetap menggeleng. Dia masih belum ingin menyerah karena satu satunya bukti ada di ponsel. Apabila bukti hilang, bagaimana menjerat dalang dari semua penculikan ini.


“Lo mau ngelawan gue?” Sang preman maju, lalu mencengkeram kerah seragam pemuda tadi. “Punya nyawa berapa lo berani ngelawan gue?”


“A–ampun, Bang. Itu … ha–pe gue ketinggalan di tempat tadi. Jatuh, belum sempet ambil udah gue tinggal lari.”


Preman yang membawa celurit pergi. Dia menyusuri sepanjang jalan yang dilewati sembari mencari ponsel dengan saksama. “Nggak ada, Bray di sini!” teriaknya dari tempat yang berjarak hanya beberapa meter itu.


“Yang bener lo kalau nyari. Pakai mata, bukan pakai mata batin.”

__ADS_1


“Sialan! Lo pikir kita lagi syuting acara pemburu hantu pakek mata batin segala,” gerutunya sebal sembari  membabat beberapa rumput liar dan pohon-pohon kecil yang ada di sekitar.


Tak kunjung ketemu, tiga preman itu terus berteriak dan saling menyalahkan hingga mengundang orang-orang dari gudang keluar. Bahkan, bos mereka yang berambut merah ikut. “Ngapain lo?”


“Nyari hape bocah itu, Bos!”


“Bodoh lo semua! Masalah hape bisa diurus ntar. Yang bener, lo semua harus habisi anak itu dulu biar tutup mulut.”


Mendengar kemarahan bos preman, teman sebangku Angkasa bergidik ngeri. Dia bahkan kencing di celana saking takutnya.


“Bau apaan ini?” Satu preman yang sejak tadi memegangi pemuda SMA itu berceletuk. Dia menunduk dan langsung kaget. “Anjir, lo ngompol!”


Bugh!


Umpatan itu terlontar bersamaan dengan tinju melayang ke wajah. Teman sebangku Angkasa itu terhuyung mundur dan terjerembap ke tanah. Dia sampai meringkuk minta ampun. “Ma–maaf, Bang, gue nggak sengaja.”

__ADS_1


“Nggak sengaja mata lo!” Pukulan kembali melayang. Tidak cukup satu orang, ternyata semua preman maju dan melakukan pengeroyokan kecuali bos mereka yang hanya berkacak pinggang.


Erangan kesakitan tak lagi terbendung. Teman Angkasa itu meringkuk seperti bayi. Dua tangannya berusaha menutup wajah dan telinga agar tidak terkena hantaman. Namun, tubuhnya memang tak bisa lagi menahan sakit, dia hilang kesadaran.


__ADS_2