Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 58: Candaan Dua Sahabat


__ADS_3

Gara-gara Angkasa, Myria kesulitan tidur. Dia berulang kali mengubah posisi kanan dan kiri bergantian. Saat memiringkan badan menghadap sang suami, pipi Myria kembali panas. Bibirnya pun ingin melengkung terus menerus tanpa alasan.


Masih teringat jelas di mana sentuhan Angkasa membuat Myria gelagapan. Setelah menjauhkan bibir dan mencipta jarak beberapa inci, pemuda itu ganti mengecup kening begitu lama dan baru membawa Myria ke pelukan. Debar jantung terdengar di telinga kala kepala menempel di dada. Myria pun ikut merasakan hal yang sama.


Pertanyaan atau pernyataan cinta, nyatanya tidak dibahas lagi sampai kedua insan itu menuju tempat tidur. Angkasa terdiam dan terus memeluk, sementara Myria terlalu malu untuk memulai percakapan lagi. Maka dari itu, semua aktivitas yang terjadi hanya berakhir dengan kebisuan.


Jam dinding di kamar Angkasa menunjuk angka 12. Tengah malam sebentar lagi terlewat, tetapi Myria masih terjaga sejak tadi. Dia sampai bingung harus melakukan apa lagi selain membaca. Setengah buku hampir saja diselesaikan, gadis itu rasa sudah saatnya tidur. Mata memang lelah dan sepatutnya terpejam, tetapi entah mengapa begitu sulit.


Angkasa bergerak pelan hingga membuat Myria mundur. Pemuda itu membuka mata dan kaget melihat istrinya tak kunjung terlelap. “My, lo nggak tidur?” tanyanya dengan suara serak.


“Ti–tidur, kok.” Jawaban Myria diikuti kepala bergerak tak tentu arah. Dia sengaja menghindar dan tidak berani menyatukan pandangan. Menatap Angkasa, sama saja membuat masalah untuk kesehatan jantung. Myria masih ingin hidup.


Angkasa mengerjap cepat. Dia berusaha meraih kesadarannya yang sempat hilang. Kemudian, mata hitamnya terbuka sempurna untuk melihat Myria. “Lo nggak nyaman gue tidur di sini?”


Pertanyaan Angkasa seperti kuis yang sulit dijawab, Myria sampai menggigit bibir bawahnya sendiri. Dia tidak tahu mengapa sulit memejam, padahal hari biasa, tengah malam seperti ini sudah lelap ke alam mimpi.


Tak ada tanggapan sama sekali, membuat Angkasa segera bangun. Dia duduk dan menyingkap selimut perlahan lalu hendak menurunkan kaki.


“Kasa, mau ke mana?”


“Tidur di kamar sebelah, gue nggak mau lo begadang gara-gara gue.”


Satu tangan menekan tempat tidur, Myria ikut bangun dan duduk. Dia menggeleng pelan hingga rambut panjangnya ikut bergoyang. “Aku nggak pa-pa. Di sini aja, Ka.”

__ADS_1


“Lo yakin?”


“Um.” Tadi menggeleng, sekarang Myria mengangguk serius. Membiarkan Angkasa pergi tengah malam dari kamar, rasanya seperti mengusir halus. Myria enggan melakukan itu.


“Ya, udah tidur. Gue mau ke toilet bentar. Pas gue balik, lo harus udah tidur, kalau nggak ….”


“Apa?”


“Gue mau reka ulang adegan tiga jam lalu.”


Dalam remang cahaya lampu tidur, senyum dan tatapan jail Angkasa kembali muncul. Myria menyahut bantal dan memukulkannya pada pemuda itu. “Jangan usil, deh, Ka. Udah malem.”


Angkasa tertawa pelan. Dia benar-benar bangkit lalu melangkah menuju kamar mandi yang ada di sudut ruang. Namun, sesekali dia berbalik ke belakang dan mengedip genit pada istrinya.


...***...


“My, Kasa ngajakin kamu liburan ke mana?”


Sedotan yang ada di bibir terlepas, Myria menoleh pada Friska yang tengah asyik makan kebab. Gadis itu menelan minumnya sebentar. “Kok, kamu tiba-tiba nanya gitu?”


“Iya, lah. Tahun ini pasti liburanmu beda dari tahun-tahun sebelumnya. Sekarang, kan, udah ada Kasa.”


Dapat perkataan demikian, bukannya bersorak senang atau bangga, Myria justru menghela napas berat. Dia kembali meraih sedotan, tetapi bukan untuk minum, melainkan dipakai untuk bermain dengan gerakan memutar sepanjang tepian gelas. “Nggak tahu. Kasa bilang pengin ke Jepang.”

__ADS_1


Kebab yang memang memiliki tekstur tidak selembut kue, langsung tersendat di tenggorokan Friska. Gadis itu tentu saja langsung gelagapan mencari air. Tangannya meraih-raih gelas di samping, lalu buru-buru dibantu Myria.


“Pelan kenapa, sih, Fris?” Myria mengomel pelan. Salah satu sikap Friska yang membuat jengkel adalah kecerobohan gadis itu. Namun, Myria tetap sayang tanpa mempermasalahkan kekurangan.


“Iya, iya.” Susah payah Friska menelan semua yang ada di mulut. Gadis itu mengambil tisu, lalu mengelap mulut dan menatap penuh sahabatnya.


Bola mata sekelam langit malam itu menyipit diikuti kerutan di area dahi. Myria menukas, “Kenapa lagi?”


“Gila suami kamu, My. Seriusan mau ngajak ke luar negeri?”


Ternyata, hanya ungkapan seperti itu yang disampaikan Friska. Myria memutar bola matanya karena menganggap sahabatnya selalu heboh. “Iya, gitu. Tapi aku nggak terlalu ngarep. Lagian Bunda nggak ngasih izin kayaknya.” Bahu Myria mengedik. Dia menjeda percakapan dengan minum lagi beberapa teguk. “Kasa itu punya kakak tahu, Fris. Nah, almarhum ipar aku ini ternyata kecelakaan pesawat. Jadi, Bunda protektif banget sama Kasa sekarang,” sambungnya lagi.


Mata Friska mengerjap-ngerjap. Dia tidak menyangka banyak hal rahasia dari Angkasa. Atau mungkin, memang dirinya yang kurang update selama ini?


“Aku baru denger ini kalau Kasa bukan anak tunggal.”


“Aku juga. Kita emang jarang tahu soal teman-teman di kelas, kan?”


Dua gadis yang ada di kantin itu tertawa bersama. Mereka merasa lucu atas kepribadian yang dimiliki. Di kelas, sebagian siswa selalu ramai dan membahas hal ini itu, bahkan ada yang seperti google karena serba tahu. Akan tetapi, tidak untuk Friska dan Myria. Keduanya memang berisik, tetapi tidak terlalu membahas kehidupan pribadi.


“Ya, udahlah, My. Kali aja beneran keturutan ke Jepang, iyain aja. Lumayan, kan, jalan-jalan biar nggak penat. Terus, jangan lupa bikinin aku ponakan.”


Tawa Myria lenyap seketika. Dia mengambil sendok, lalu memukul lengan Friska tanpa ampun. Sahabatnya itu tertawa dan berlari, Friska harus menyelamatkan diri.

__ADS_1


__ADS_2