Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 65: Obrolan Santai


__ADS_3

Hari kedua di rumah sakit, Angkasa mulai tidak betah. Dia merengek minta pulang, tetapi sayangnya keputusan itu harus menunggu dokter.


“Dokter kebetulan cuti hari ini, Kasa. Tunggu 24 jam lagi, pasti kamu diizinkan pulang.” Nyonya Nasita sampai berbusa menasihati Angkasa. Benar-benar, anak bungsunya itu sekali meminta sesuatu akan terus ditagih.


“Ma ….” Angkasa menyugar rambut ke belakang. Dia tidak bisa diam, padahal lengannya sakit setiap bergerak. Bahkan, lebih parah lagi karena banyak tingkah, infus di tangan kanan pagi tadi terlepas.


Myria hanya diam dan menyaksikan sang suami manja pada ibu mertua. Mau merayu seperti apa pun, pemuda itu sulit dikendalikan. Sampai detik ini, Myria tak tahu banyak soal sifat Angkasa.


“Jalan-jalan di taman sana kalau bosan. Ayo, turun dari tempat tidur, Mama temani kamu.”


“Bunda, biar Kasa pergi sama Myria. Bunda istirahat aja di sini.” Myria menengahi pembicaraan. Dia mendekati suaminya. “Ayo, ke taman.”


Angkasa menurut. Dia turun perlahan dibantu Myria. Kemudian, berjalan pelan menuju pintu.


“Mama kalau mau pulang, pulang aja, Ma. Papa kasihan kalau harus nginep di sini terus pagi-pagi ke kantor,” kata Angkasa yang nyaris sampai pintu.


Keluar dari kamar, Angkasa harus turun terlebih dahulu memakai lift karena ruang VIP berada di lantai tiga, sementara taman ada di dekat ruang poliklinik.


“Kamu nggak capek, My, ngurusin aku? Pulang, gih! Dari kemarin aku udah nyuruh kamu.”


Myria yang tengah menuntun tiang infus itu menoleh ke arah Angkasa. Kemudian, dia menggeleng. “Nggak pa-pa capek kalau imbalannya pahala. Lagian di rumah mau ngapain kalau semua orang di sini?”


Apa yang dikatakan Myria benar adanya. Di kediaman Sastra tidak ada siapa-siapa kecuali para pekerja. Nyonya Nasita dan Tuan Aji ikut menginap sejak kemarin malam. Alhasil, satu orang yang sakit, tetapi ditunggu bertiga.

__ADS_1


Lift berdenting. Tumbuhan hijau menyapa pandangan kala pintu sepenuhnya terbuka. Dua remaja itu keluar beriringan, lalu menuju salah satu bangku kosong yang ada. Ternyata, taman tidak sepi. Ada beberapa anak kecil di sana, bahkan ibu hamil terlihat satu atau dua orang sedang jalan-jalan.


“Kenapa ada wanita hamil di sini?” Angkasa bergumam heran. Dia pandangi para wanita berperut buncit itu dari kejauhan.


Telunjuk Myria menusuk pipi Angkasa, lalu mendorong wajah sang suami ke arah kanan. “Kamu nggak lihat itu ada poli anak sama poli kandungan juga? Ibu-ibu bosen nunggu gilirannya konsul kali. Jadi ke sini, kayak kamu yang bosen di kamar.”


Angkasa ganti terkekeh begitu melihat banyaknya pasien hamil sedang duduk-duduk di kursi tunggu. Dia lantas mengembalikan tatapan ke depan. Semilir angin membuat beberapa daun bergoyang, ada kolam ikan di tengah tengah dan menjadi bahan tontonan anak kecil.


“Kamu pengin punya anak dari aku nggak, My?” Tanpa menengok apalagi menghadap istrinya, Angkasa bertanya. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut saat melihat betapa lucunya anak kecil di depan. Tubuh, tangan, dan kaki yang mungil terlihat menggemaskan bagi Angkasa.


Bibir Myria mengatup. Dia ikut mengarahkan pandangan ke satu arah. Tidak pernah terlintas di pikiran mengenai anak untuk saat ini karena memang cita-cita Myria belum tercapai. Usia yang masih begitu muda, membuatnya ingin menikmati masa-masa belajar dan meraih prestasi.


“Kasa.” Suara Myria mengalun lembut dan menyusup ke telinga. Angkasa menoleh pada gadis itu dengan ekspresi tenang. “Punya anak adalah tanggung jawab besar. Baik ibu ataupun ayah, masing-masing memiliki peranan penting. Aku nggak pengin punya anak terburu-buru apalagi usia kita masih begitu muda.”


“Aku nggak bilang harus sekarang punya anak, Myria ….” Angkasa menghela napas setelah berkata. Pemuda itu ingin mencubit gemas pipi sang istri, tetapi kesulitan. “Sekarang kita belum pantes, ilmu belum punya. Gimana mau ngasuh anak? Aku juga tahu kalau punya anak nggak cuma sebatas ngasih makan atau nuruti semua kemauan mereka, tapi hal terpenting adalah pengenalan akidah seseorang. Kebayang nggak kalau punya anak, tapi cuma ngasih tahu kewajiban salat, puasa dan rukun Islam yang lain tanpa tahu makna dari semua ibadah yang dijalani?”


Telapak tangan yang mulus terasa begitu halus di permukaan kulit Angkasa. Pemuda itu ikut mengukir senyum saat mendengar pendapat Myria. Dia mengangguk dan menarik kepala sang istri agar bersandar di bahu. “Allah tahu yang terbaik kapan mau ngasih titipan.”


“Um.”


Keduanya termenung dan kembali menikmati suasana taman. Sesekali angin bertiup dan memberi hawa sejuk. Setelah beberapa menit lamanya di sana, Angkasa mengeluhkan haus.


“Jangan ke mana-mana, aku cuma beli minum di depan.” Belum berangkat, Myria sudah mengancam. Awalnya, gadis itu mengajak Angkasa kembali ke kamar karena tidak membawa minum. Namun, suaminya yang rewel itu menolak karena masih betah duduk di taman.

__ADS_1


“Iya. Cerewet,” kata Angkasa tak acuh.


Kaki melangkah menyusuri lorong rumah sakit untuk mencapai kantin. Myria berjalan tergesa agar segera sampai dan segera kembali pula. Meski Angkasa sudah besar dan bisa diajak bicara, dia tetap khawatir.


Dua botol air mineral dan dua bungkus makanan ringan telah didapat. Myria bergegas kembali untuk menemani suaminya. Namun, lantaran kurang hati-hati, dia menabrak seseorang.


“Ah, maaf, Tuan.” Myria membungkukkan diri setengah badan, lalu buru-buru memungut air dan jajan yang jatuh ke lantai.


Pria yang ada di hadapan ikut membantu dan menyerahkan botol air. “Tidak masalah, Nak. Lain kali hati-hati.”


Tangan Myria mengulur untuk mengambil minumnya. Dia mendongak dan kembali berkata, “Baik, Tuan. Terima kasih banyak, saya sedang buru-buru. Sekali lagi saya minta maaf.” Usai dengan hal itu, Myria segera memutar badan dan berjalan lagi tanpa menunggu jawaban.


Sang pria yang ditinggalkan justru memandangi kepergian Myria secara terus menerus.


“Tuan.”


“Tuan.”


“Tuan Tirta.” Sang asisten yang ada di samping pria itu sampai mengulang panggilan tiga kali karena bosnya tak kunjung menanggapi. Pria dengan jas blazer hitam itu bahkan memberanikan diri menepuk bahu perlahan. “Tuan.”


“Oh, ya, Dan.”


Daniel, sang asisten mengerutkan dahi melihat bosnya kaget. “Anda kenal gadis itu? Apa ada masalah?”

__ADS_1


Pria yang dipanggil dengan sebutan ‘Tuan Tirta’ itu menggeleng. “Tidak. Aku baru ini melihatnya.” Tubuh Tuan Tirta berputar 180 derajat. Beliau lantas melanjutkan langkah. “Tapi, Dan. Aku minta kamu cari tahu soal gadis itu tadi.”


Perintah adalah perintah. Meski penasaran dengan permintaan sang bos, Daniel tetap menyetujui. “Baik. Sesuai kemauan Anda, Tuan.”


__ADS_2