Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 29: Pertandingan


__ADS_3

Lapangan basket sudah ramai saat Myria dan Friska tiba. Bangku-bangku telah terisi, bahkan sebagian banyak siswa lain berdiri. Dua gadis itu tidak mengira jika penonton akan lumayan banyak, mengingat hanya pertandingan persahabatan tanpa dukungan pihak sekolah.


“Penuh, Fris.”


“Iya, heboh banget. Aku kira cuma kelas tiga doang yang lihat, adek kelas malah ikutan.”


Deretan bangku yang memang terbatas dan telah penuh, membuat Friska dan Myria berdiri. Niat ingin berada di posisi paling depan, yang ada justru mereka berada di ujung barisan bersama adik-adik kelas. Myria tidak keberatan, tetapi Friska sedikit kurang puas.


“Gimana kalau kita geser ke tengah, My?” Friska bertanya setelah celingukan mencari celah agar dapat tempat yang lebih enak untuk menonton.


“Di mana?”


“Itu, tuh. Barisan tengah pasti ada tempat, kita lihat dari sana aja, deh.” Tangan bergerak lebih cepat dari ucapannya, Friska menarik Myria dan menerobos kumpulan siswa ataupun siswi yang sudah heboh lebih dahulu.


Ditarik demikian, Myria tetap diam. Dia tidak banyak protes dan akhirnya tiba di tengah kerumunan. Sorakan dari arah kiri dan kanan seperti lebah berdengung di telinga. Namun, herannya, Friska tetap menikmati.


“Sakti, ayo!”


Suara dari sebelah kiri terdengar lantang hingga membuat Myria dan Friska menoleh. Ternyata, teriakan itu berasal dari Risti. Dua gadis itu berdiri tidak jauh. Andai salah satu menengok ke arah kanan, Erika atau Risti tahu keberadaan Myria.


Myria meremas lengan Friska tanpa sadar saat melihat keberadaan Risti dan Erika. “Geser aja, yuk, Fris.”


Melihat ketidaknyamanan muncul di mata Myria, Friska mengangguk. Mereka bergeser lagi ke tempat semula dan menonton dari ujung barisan sebelah kanan.


“Mana enak lihat dari sini?”


Myria berjingkat. Dia menoleh dan mendongak. Mata bulatnya terbelalak saat tahu siapa yang baru saja bicara. “Kasa.”


Cowok itu menunduk, lalu tersenyum. Friska yang melihatnya sampai melongo. Di pikiran Friska, sejak kapan Angkasa mau menarik sudut bibirnya selama di sekolah.


Bukan Friska kalau diam saja saat Myria didekati laki-laki. Gadis itu segera menggeser sahabatnya ke kiri, lalu diri sendiri maju dan sengaja memosisikan badan di tengah-tengah sebagai pembatas.

__ADS_1


Angkasa mendelik. Senyumnya lenyap dalam hitungan detik melihat kelakuan Friska. Namun, tidak ada yang bisa Angkasa perbuat untuk mempertahankan Myria di sampingnya.


“Kasa, jangan deketin Myria!” Belum apa-apa, Friska sudah mengancam. “Ada Erika di sana, kalau sampai dia lihat lo di sini, sahabat gue terancam.”


Alis hitam milik Angkasa naik satu sisi. Kepalanya bergerak sedikit untuk melihat ujung barisan yang memanjang. Dia dapati Erika dan Risti ada di tengah, tetapi ekspresi pemuda itu cuek.


“Ngapain ngurusin dia?” Pertanyaan keluar dari mulut Angkasa seiring badan kembali tegak ke posisi semula. Dia melipat tangan ke perut dengan mata sesekali mencuri pandang pada sang istri.


Friska mendesis sebal. Dia pelototi Angkasa tanpa takut. “Lo pinter di kelas, tapi kayaknya bodoh soal kepekaan.”


“Friska!” Mendengar sang suami dapat hinaan dari sahabatnya, Myria angkat suara. Meski dia tahu Friska bersikap demikian untuk membelanya, tetap saja Myria tidak ingin mendengar itu. Dia khawatir setibanya di rumah, Angkasa akan memberi larangan agar tidak berteman lagi dengan Friska karena sakit hati.


Akan tetapi, pikiran Myria ternyata salah. Angkasa tidak pernah ambil pusing atas omongan orang lain. Apalagi di lingkungan sekolah yang notabene isinya anak-anak muda, kata-kata sembarangan bisa keluar kapan pun dari mulut ke mulut.


“Biarin!” Friska ngeyel karena geram. “Dia nggak tahu aja kalau mantan pacarnya itu udah keterlaluan kemarin. Nggak seharusnya kamu dapat perlakuan gitu, My.”


“Friska!” Myria langsung membungkam mulut sahabatnya. Dia awasi Angkasa yang terus memperhatikan.


“Ada apa kemarin?”


Decakan cukup keras keluar dari bibir Angkasa. “Cewek memang aneh.” Dia tidak ingin bertanya lagi karena pasti tidak akan dapat jawaban.


Pertandingan makin seru. Baru babak pertama, sementara waktu masih dipimpin sekolah sendiri. Semua siswa terus bersorak, masing-masing penonton memiliki jagoan yang harus didukung.


Sepuluh menit pertama, peluit berbunyi. Siswa pemain bubar dan istirahat sebentar. Semua berkumpul di satu titik untuk minum dan atur strategi baru.


Angkasa jadi pemerhati dua tim yang ada. Dia terdiam tanpa ingin menghampiri teman-teman yang dahulu menjadi timnya.


“Kasa!” Teriakan Sakti mengudara. Indra penglihatan pemuda itu begitu jeli. Angkasa sudah berusaha tidak menonjol dengan berada di ujung, tetapi nyatanya masih terlihat. “Ayo, main!”


“Rik, Angkasa di sana, tuh.” Risti membisik pada Erika.

__ADS_1


“Iya, gue lihat.” Erika tersenyum senang. Awalnya dia hanya iseng menonton karena malas pulang, tetapi sekarang seperti dapat rezeki tak terduga.


Dua gadis itu menunggu respons Angkasa dari tempat. Mereka tidak melihat jelas Friska maupun Myria. Fokus Risti dan Erika hanya pada Angkasa, sehingga para siswi di kerumunan ujung dianggap adik-adik kelas.


Siswa SMA 2 turut menoleh saat Sakti berteriak tadi. Kebetulan sekali kapten tim mereka mantan kekasih Erika. Cowok itu tersenyum sinis.


“Kita harus menang, Guys,” kata pemuda itu setelah meneguk semua air dari botol. Niat tanding yang awalnya biasa saja, kini mulai berkobar semangatnya untuk menang karena ada Angkasa. Pemuda itu ingat kala Erika memutuskan hubungan dan pindah sekolah demi mengejar Angkasa kembali.


“Lang, Galang, lihat noh saingan lo.” Satu anggota menyenggol sembari mengarahkan botol ke depan.


Cowok bernama Galang itu mendecih. Dia menyeringai. “Dia udah nggak pantes disebut saingan. Udah nggak bakal tanding lagi dia.”


“Emangnya cedera yang dialami belum sembuh, Lang? Bukannya udah kelewat lama kecelakan itu?”


Galang mengedik. “Mana gue tahu. Kalian inget baik-baik, udah nggak pernah lihat dia main, kan? Kapten SMA 1 juga diganti Sakti.”


Bunyi peluit membubarkan obrolan. Galang dan lainnya segera bersiap ke babak selanjutnya. Cowok itu sesekali melirik Angkasa. Dari tatapannya memberi kesan remeh dan angkuh.


Bola dilempar ke udara oleh wasit. Dua tim yang terdiri masing-masing lima siswa itu saling berebut. Hanya satu yang berhasil menangkap, pemain itu adalah Galang. Sesuai ucapannya, semangat Galang untuk menang tengah membara. Dengan postur tubuh yang tinggi, dia begitu mudah menjangkau ring.


Setiap babak hanya ada waktu sepuluh menit untuk mencetak skor sebanyak-banyaknya, tetapi sayanganya Sakti dan kawan-kawan seolah tidak bisa mengimbangi. Mendadak kekompakan mereka bubar, gerak kaki dan tangan tak bisa setangkas Galang.


“Gila itu cowok, kenapa jadi brutal gitu.” Satu pemuda yang ada di tim Sakti berceletuk saat istirahat kedua. Keringatnya sudah bercucuran, tetapi skor kosong dan tidak bertambah sama sekali.


Sakti menyodorkan botol minum. “Tenang, masih ada dua babak. Ntar kita nyusul.”


“Ya, kalau kesusul, Bro. Babak kedua aja tenaga udah kayak keluar semua gini, gimana tiga dan empat?”


Sakti terkekeh. Dia benarkan headband, lalu menepuk punggung teman timnya itu. “Sabar, menang kalah udah biasa lagi. Lagian ini cuma seru-seruan.”


Tidak seperti biasa yang suka cengengesan dan konyol, Sakti mampu bersikap lebih bijak saat memimpin tim. Kala anggotanya mengeluh, dia harus pandai menyemangati.

__ADS_1


Waktu permainan terasa begitu cepat. Di babak ketiga, ketika Sakti dan teman-teman ingin mengejar skor, salah satu anggota mereka justru tertabrak dan jatuh.


“Argh!”


__ADS_2