Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 74: Kalut


__ADS_3

“Apa aku tadi nggak salah denger?” kata Friska dalam hati. Namun, sampai beberapa menit lamanya dan memutuskan pulang, ternyata Myria tidak bicara lagi.


“My, aku boleh nanya sesuatu?” Friska bertanya hati-hati. Sebenarnya dia jarang sekali memaksa Myria bercerita sebelum diberi tahu. Akan tetapi, untuk kali ini sangat susah menerapkan prinsipnya itu.


“Iya. Nanya aja,” kata Myria santai dengan kaki terus melangkah menyusuri gang untuk kembali ke pinggir jalan raya.


“Kamu bilang tadi ketemu ayahmu. Apa ….”


Keraguan Friska menghentikan langkah, Myria memutar badan 45 derajat. “Iya, Fris. Panggilan Pak Kepsek tadi karena ada pria pengin ketemu aku. Dan kamu tahu apa yang bikin aku nangis, pria itu menduga aku anaknya. Istrinya dulu punya nama seperti Ibu.”


Kepala Friska mendadak kosong. Seluruh kosakata seakan lesap terbawa angin mendengar cerita sahabatnya. Dia sampai tak bisa berkata-kata lagi. “Te–terus, My?”


Udara bergerak yang menerbangkan jilbab kedua gadis itu terasa dingin dalam situasi serius seperti ini. Myria menghela napas panjang, lalu menggeleng. “Aku enggak tahu. Aku nggak bisa percaya gitu aja. Ibu dulu enggak pernah mau ngebahas Ayah. Jadi aku nggak pengin juga buat Ibu sedih. Gara-gara pertanyaanku, Ibu nangis. Aku nggak tega, Fris.”


Friska segera merangkul Myria. Kemudian, dia mengajak untuk lanjut berjalan. “Tapi sekarang Tante Kinar udah nggak ada, My. Apa kamu tetap enggak pengin tahu ayahmu?”


Lagi-lagi Myria membuang napas untuk mengurai sesak di dada. Kepalanya penuh akan pertanyaan, tetapi tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu kecuali sang ibunda. “Nggak tahu juga. Aku bingung harus gimana. Aku mau istikarah dulu aja. Kalau aku udah dapat jawaban dan yakin, nanti aku terima tawaran beliau buat tes DNA. Tadi dapat kartu namanya, kok.”


 ***

__ADS_1


Tiba di rumah, Myria disambut dengan raut cemas sang suami. Angkasa langsung menariknya dan mendudukkan di ranjang. Pemuda dengan perban di lengan kiri itu memperhatikan Myria dari atas sampai bawah, lalu kembali ke atas lagi.


“Kamu baik-baik aja, kan, My?” Pertanyaan di telepon Angkasa tanyakan lagi. Beberapa kali dia kecolongan karena Myria mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari Erika, sehingga membuat Angkasa harus lebih peduli dan peka.


“Iya. Enggak pa-pa, Ka. Emang kenapa, sih?”


“Nggak, nggak mungkin. Tadi Sakti ng-chat aku, kirim foto kamu lagi nangis dipeluk Friska. Seriusan aku nanya ada apa?”


Wajah yang sejak tadi diatur senatural mungkin, sekarang mulai berubah. Myria baru ingat bahwa tidak mudah membohongi Angkasa. Di sekolah, pemuda itu terlalu banyak memiliki mata-mata yang sukarela membagi info tanpa harus membayar.


“Myria.”


Myria menunduk. Jari-jarinya memilin ujung jilbab yang masih dipakai. Gadis itu ragu untuk menyampaikan apa yang tadi dialami.


“Kasa, aku ….”


Angkasa membisu sebentar.  “Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan. Kenapa? Jangan buat aku cemas gini.”


“Kasa, Kepala Sekolah tadi manggil aku. Beliau kedatangan dua tamu. Semua pria, mungkin seumuran Papa Aji dan satu lagi mungkin sedikit lebih tua dari Pak Zayyan.”

__ADS_1


Tangan Angkasa meluruh dari dagu Myria. Dia memandangi wajah istrinya saat bercerita. “Terus kenapa manggil kamu segala?”


“Tamu itu mencariku, Ka. Asal kamu tahu, pria yang seumuran Papa Aji bilang kalau kemungkinan aku anaknya.”


Sama seperti Friska, Angkasa tak kalah kaget. Saking kagetnya, dia sempat membeku beberapa detik dan baru sadar saat mendengar Myria mulai sesenggukan.


Dengan satu tangan, Angkasa menarik Myria ke pelukan. Dia sendiri tak mampu berkata-kata setelah mendengar ungkapan demikian.


Dua insan itu terus saling memeluk. Satu menangis, satu lagi masih dalam pusaran kebingungan.


“Kita bicarain ini sama Mama Papa.” Setelah beberapa saat diam, Angkasa mengambil keputusan.


“Enggak dulu, Ka.”


“Tapi, My. Ini bukan masalah sepele. Gimana kalau orang-orang itu ternyata jahat dan cuma ngaku-ngaku. Atau mungkin dia suruhan ayah Erika yang mau nyelakain kamu karena nggak terima anaknya dipenjara? Aku udah kecolongan kemarin-kemarin, sekarang nggak bisa dibiarin.”


Myria memilih diam sejenak daripada berdebat. Dia hanya ingin ketenangan untuk saat ini. Gadis itu tenggelam dalam peluk, sementara Angkasa hanya bisa menghela napas berat.


Tidak jauh berbeda dari Myria, Tuan Tirta sama kalutnya. Pria itu sejak tadi diam hingga membuat Daniel khawatir.

__ADS_1


“Tuan, apa perlu saya mencari orang untuk mengikuti keseharian gadis itu. Dan kita bisa tahu di mana dia tinggal?”


Usul Daniel mengalihkan perhatian Tuan Tirta. Pria dengan wajah tegas dan kulit putih itu menggeleng ringan. “Tidak, Dan. Semakin banyak tahu, aku akan semakin berharap dia anakku. Aku takut kalau kenyataan berbeda dari yang kuharapkan. Kita tunggu saja kabar darinya.”


__ADS_2