
“Myria, kamu baik-baik saja, Nak?” Raut khawatir di wajah Nyonya Nasita langsung terlihat kala pintu terbuka. Ternyata, sejak tadi beliau menunggu anak dan menantunya pulang. Wanita bergaun rumahan biru tosca itu memeriksa Myria dari atas sampai bawah. Satu per satu bagian tubuh menantunya dipegang. “Kamu basah semua. Segera mandi air hangat, ya. Mama buatkan minum dan siapkan makan malam.”
Myria sungkan sendiri mendapat perlakuan seperti itu dari ibu mertua. Dia hanya memberi anggukan dan segera pamit ke kamar untuk membersihkan diri.
Angkasa mengikuti dari belakang. Pemuda itu yang jadi anak tuan rumah, tetapi perhatian justru jatuh pada Myria. Iri? Beruntungnya tidak, Angkasa bersyukur ibunya menganggap Myria seperti anak sendiri.
“Gue mandi di kamar sebelah aja.” Angkasa bicara sembari menyahut handuk. Beberapa lembar pakaian ganti turut dibawa keluar dan meninggalkan Myria di kamar sendiri.
Myria bergegas membersihkan diri. Kehujanan selama ratusan menit membuatnya nyaris menggigil. Namun, beruntung Angkasa memberinya kehangatan meski sebatas genggaman tangan. Andai minta lebih, mungkin pemuda itu tidak akan menolak.
“Apa, sih, yang kupikirkan.” Dipukulnya kepala lantaran terus terbayang tatapan Angkasa saat menggosok tangan dan jemari tadi. Senyum ingin terbit terus-menerus di bibir Myria. Entah apa yang hinggap di hatinya kini.
Gadis itu menanggalkan semua pakaian, lalu mengguyur seluruh badan mulai rambut hingga ujung kuku kaki dengan air hangat dari shower. Titik-titik air yang menyentuh kulit seperti pijatan alami bagi Myria. Aroma sabun nan lembut turut menenangkan pikiran dan otot-otot yang sempat tegang selama sehari penuh.
Sekitar setengah jam lamanya, Myria tak kunjung keluar dan justru Angkasa yang lebih dahulu selesai. Pemuda itu memaklumi, pikirnya mungkin perempuan memang mandi lebih lama. Dia tidak ingin ambil pusing dan segera menggelar sajadah untuk Salat Isya.
Baru rakaat kedua dipenuhi Angkasa, Myria keluar. Gadis itu berjalan pelan dengan handuk membelit kepala dan wajah seperti pakai jilbab. Kemudian, dia menuju meja rias mencari hair dryer. Myria butuh alat itu karena sudah malam dan dingin, tidak mungkin membiarkan rambutnya kering secara alami seperti hari-hari kemarin.
“Apa Kasa enggak punya hair dryer?” Myria bergumam pelan. Bibirnya yang pucat sampai bergetar.
“Nyari apa?” Angkasa mendadak muncul. Istrinya tidak sadar kapan pemuda itu selesai menjalankan ibadah.
“Ah, itu ….” Seperti maling ketahuan mencuri, Myria gelagapan sendiri, padahal Angkasa melihatnya dengan aura tenang. “Apa kamu nggak punya hair dryer? Rambutku basah ini.”
Dua alis Angkasa nyaris bertautan. Dia amati istrinya lebih jeli, lalu menyadari jika handuk yang dipakai Myria digunakan untuk menutup rambut. “Gue pinjemin Mama bentar.”
Angkasa keluar, sementara Myria menunggu sembari membongkar tas sekolah. Gadis itu mengeluarkan buku pelajaran hari ini dan menyiapkan buku untuk besok di atas meja belajar. Di sisi seberang, meja belajar suaminya masih bersih, Myria tidak ada nyali untuk melakukan hal yang sama pada tas Angkasa. Selain tidak sopan juga terkesan tidak menghargai.
Derit pintu mengalihkan perhatian Myria. Angkasa datang dengan hair dryer di tangan. Cowok itu mendekat, lalu berkata, “Gue bantu.”
__ADS_1
“Eh, tapi ….”
“Gue suami lo, bukan orang lain.”
Myria terdiam. Sejak balig, dia belum pernah melepas jilbab di hadapan laki-laki. Di rumah tidak ada sosok ayah baginya. Jadi, ini adalah kali pertama dia melakukan itu.
Meski terasa begitu aneh, lebih baik menurut. Myria berjalan menuju meja rias, lalu duduk. Lagi-lagi, tangannya sempat maju mundur untuk membuka handuk yang membelit kepala.
“Perlu gue bantu?” Angkasa bertanya sembari menghubungkan hair dryer pada colokan listrik. Dia bahkan telah siap berdiri di balik punggung.
Tidak enak jika Angkasa marah kembali, Myria menurunkan handuk dari kepala dan memperlihatkan rambutnya yang panjang. Ketika semua helai terlihat sepenuhnya, gadis itu menunduk dan menghindari tatapan.
Angkasa di belakang justru mematung. Sudah setiap hari dia melihat perempuan berambut panjang tanpa jilbab di sekolah atau mana pun itu, tetapi untuk kali ini seolah nyawanya melayang, matanya menatap kaca rias tanpa berkedip.
“Kasa.”
Gila ni cewek, rambutnya alus banget. Wangi juga. Baru rambut aja udah seindah ini, gimana kalau bagian yang lain.
“Astagfirullah.” Angkasa tiba-tiba mundur dan membuat Myria kaget. Namun, ketika ditanya, dia jawab tidak ada apa pun karena tak mungkin pula mengaku tentang pikiran liarnya.
***
Meja makan diisi tiga orang. Angkasa dan Myria makan tanpa orang tua mereka. Nyonya Nasita sudah makan bersama Tuan Aji, tetapi beliau setia menemani.
“Makan yang banyak, Myria.” Untuk kesekian kali, Nyonya Nasita memperingatkan menantunya. Beliau tidak bosan menyodorkan apa saja yang ada.
Angkasa berulang kali melirik pada ibunya itu, tetapi tidak sedikit pun dapat perhatian seekstra sang istri. “Ma, tinggalkan kami berdua ajalah.”
Nyonya Nasita berhenti menggeser piring. Wanita itu menatap sang anak. “Kenapa memangnya?”
__ADS_1
“Kami sudah besar, Ma. Enggak perlu dilayani kayak gini, lagian Mama capek seharian udah aktivitas, mending temenin Papa.”
“Mama ganggu kamu? Bilang aja mau pacaran.”
Jawaban ibu dua anak itu membuat Myria tersipu, tetapi tidak dengan Angkasa. Pemuda itu masih santai makan dengan lahap, ambil lauk sana-sini.
“Terserah Mama ajalah apa nyebutnya, yang jelas tinggalkan kami sendiri. Lagian mau pacaran, mau berduaan juga nggak pa-pa. Biar bukan Mama aja yang bisa mesra-mesraan.”
Anak dan Ibu tidak mau kalah, ada saja pembahasan yang terus diobrolkan. Myria hanya jadi penyimak interaksi dua orang di dekatnya itu.
Menjadi pengantin muda memang bukan keinginan Myria sepenuhnya karena belum terlalu siap, tetapi nyatanya tidak pula begitu buruk karena keluarga Angkasa sangat ramah dan hangat.
Dua orang tua yang kini jadi mertua, sekalipun sangat sibuk dengan aktivitas masing-masing, mereka tidak lupa memberi kasih sayang dan perhatian pada Angkasa. Terbukti ketika bertemu di meja makan, Tuan Aji dan Nyonya Nasita tidak segan menunjukkan perhatian.
“Ya, sudahlah, kalau gitu Mama ke atas. Kalian bereskan semua sendiri.” Nyonya Nasita beranjak, tetapi ketika hendak melangkah, beliau ingat sesuatu. “Myria, besok Mama check up kesehatan, apa kamu sudah pikirkan saran Mama waktu lalu?”
Kunyahan Myria berhenti. Dia baru ingat jika belum menjawab pertanyaan ibu mertua perihal kehamilan. “Eum, Bunda, Myria takut soal itu.”
“Kenapa, Sayang? Kan, ada macam-macam pilihan. Kamu bisa konsumsi pil saja tanpa pasang apa pun di tubuh kalau takut.”
Paham pembicaraan sang mama mengarah ke mana, Angkasa menyela, “Ah, Mama mau minta Myria pasang kontrasepsi, ya? Nggak perlu, Ma. Kami nggak ngapa-ngapain.” Dia berkata lugas. Angkasa selalu menyampaikan keinginan tanpa basa basi.
Langkah Nyonya Nasita kembali mendekati meja makan. “Kasa, ini hanya langkah preventif demi kebaikan kalian. Selain masih sekolah, rahim yang ada pada istrimu belum cukup matang untuk ditempati bayi. Tidak ada jaminan kamu akan diam saja kalau tiap hari berada di kamar yang sama dengan Myria.”
Piring yang telah habis isinya terdorong maju. Angkasa mengusap mulut dengan tisu. “Tapi beneran, Ma, aku nggak ngapa-ngapain, kalaupun khilaf, ya, tinggal keluarin aja di luar.”
Nyonya Nasita melotot, sementara Myria langsung tersedak mendengar ucapan Angkasa. Pemuda itu bicara terlalu frontal dan membuat ibunya ingin menempeleng.
"Bicara sekali lagi, Mama pisahkan kamar kalian."
__ADS_1