
“Kasa, mau ke mana, Nak?” Nyonya Nasita sedikit berteriak. Beliau ikut mengejar kala melihat Angkasa turun dari tangga secara buru-buru. Tidak biasanya sang putra pergi tanpa pamit dan mengabaikan panggilan seperti itu.
“Kasa!”
Angkasa mematikan motor. Dia menoleh ke belakang dan memundurkan kendaraan tanpa turun. Pemuda itu menarik tangan kanan Nyonya Nasita lalu mencium lembut. “Aku ada urusan, Ma. Sebentar saja. Enggak akan lama.”
“Tapi ke mana? Ini sudah malam, apa kamu tidak lihat kalau hujan gini?”
“Menantu Mama hilang. Aku harus pergi sekarang.”
“Menantu Mama hilang? Myria maksudmu? Hei, Kasa!” Pertanyaan Nyonya Nasita tersapu angin. Nyatanya, sang anak tidak menjawab dan sudah melajukan motor keluar halaman. Nyonya Nasita bergegas ke dalam untuk mengecek apakah benar yang dikatakan Angkasa.
“Kenapa, Ma?”
Di tangga, Nyonya Nasita berpapasan dengan Tuan Aji. Pria yang baru selesai mandi itu ikut heran melihat istrinya seperti orang bingung.
“Mau lihat kamar Angkasa, Pa. Dia bilang Myria hilang.” Nyonya Nasita menjawab sembari melewati Tuan Aji. Dia tidak bisa tenang begitu saja andai itu benar adanya. Kondisi di luar hujan, gelap dan Myria perempuan, bagaimana bisa menantunya itu hilang.
“Hilang gimana, Ma, maksudnya?”
Lantaran fokus hanya ke kamar putranya, Nyonya Nasita sampai mengabaikan pertanyaan Tuan Aji. Beliau buru-buru membuka pintu dan terperangah saat tidak melihat siapa pun di dalam.
“Ma.” Diurungkannya kehendak turun, Tuan Aji memutar badan dan menyusul sang istri. Pemimpin keluarga itu ikut masuk kamar dan melihat kondisi yang ada.
“Myria benar tidak ada, Pa. Bagaimana ini? Ke mana dia? Kasa ceroboh membiarkan istrinya hilang, padahal jelas-jelas satu kelas. Gimana kalau nanti terjadi apa-apa, gimana kalau di luaran sana ….”
“Ma, tenang dulu.” Tuan Aji memotong pembicaraan. Beliau menarik sang istri ke pelukan untuk memberi ketenangan. “Tenang dulu jangan panik. Kalau ada apa-apa, nanti Papa suruh beberapa orang untuk mencari keberadaan Myria. Mama kondisikan diri, kita telepon atau kirim pesan untuk menanyakan keberadaannya sekarang.”
Masih di dalam dekapan hangat sang suami, Nyonya Nasita mengangguk. Dia redam kekhawatiran agar bisa berpikir jernih.
Dua orang tua itu mengambil ponsel, lantas menghubungi si menantu.
“Tidak diangkat, Pa, nomornya mati.” Kekhawatiran Nyonya Nasita makin menggunung. Pikiran-pikiran buruk makin sulit dienyahkan. Wanita itu sampai lupa hak suaminya untuk ditemani dan dilayani makan, padahal jam makan malam telah tiba sedari tadi.
“Kita tunggu kabar dari Kasa, Ma. Jangan berpikir macam-macam, berdoa yang terbaik.”
Nyonya Nasita mengangguk. Beliau menenangkan diri di tempat tidur, lalu meminta suaminya turun untuk makan malam lebih dahulu. Tuan Aji pasti lelah dan lapar, pulang kerja justru dapat hal demikian.
Sementara itu, Angkasa mencari-cari Myria di halte sekolah. Dia masih sempat berpikir jika sang istri tidak mendapat angkutan. Namun, nyatanya tidak ada siapa pun di sana.
Cowok itu memutar ingatan mundur beberapa jam lalu waktu masih di sekolah, tetapi sialnya dia tidak mendengarkan apa pun pembicaraan Friska dan Myria lantaran terlalu tak acuh.
“Di mana elo, My? Nggak mungkin juga, kan, kalau lo kerja lagi di tempat Erika?” Angkasa mengeluh frustrasi. Hujan tak kunjung reda, makin membuat cowok itu merasa tidak tenang.
Di tengah kegalauan hati, nama Friska terlintas di pikiran. Angkasa segera menepi dan turun dari motor. Dia berteduh sebentar di halte untuk menelepon sahabat istrinya. Jemari begitu lincah menggulir layar ponsel untuk mencari nomor Friska di grup chat kelas.
__ADS_1
“Ni cewek juga susah banget dihubungi.” Angkasa menggerutu lantaran teleponnya ke Friska tak kunjung diangkat. Dia coba lagi, tetapi tetap sama.
“Argh! Gue samperin rumahnya ajalah.” Berbekal ingatan seadanya, motor dilajukan ke rumah Friska. Selama dua tahun lebih satu kelas, kemarin adalah pertama kali Angkasa mengetahui tempat tinggal gadis itu.
Perjalanan hampir setengah jam, Angkasa masih berputar-putar di jalan karena bingung. Dia tidak yakin kalau tidak kesasar karena terlalu banyak gang yang telah dilewati. “Yang mana, sih? Argh!” Lagi-lagi Angkasa menggerutu, tetapi tangan tetap mengemudi dan mata terus berkeliling mencari gang tujuan.
Ketika hampir saja menyerah, ponsel di saku jas hujan bergetar. Cowok itu segera menepi dan berhenti di depan ruko yang telah tutup. “Friska,” gumamnya pelan kala mendapati nomor yang tadi dihubungi ganti menghubungi.
Ibu jari segera menggeser icon hijau di layar ponsel, Angkasa me-loudspeaker panggilan karena kesusahan jika ditempel ke telinga. “Halo, Fris,” sapanya langsung kala panggilan terhubung.
Dari seberang sana, Friska beristigfar. Dia kaget karena sahutan Angkasa tergolong keras dan tiba-tiba. “Ini siapa? Angkasa?”
“Iya, gue. Di mana Myria?”
“Myria?” Kening Friska mengerut dalam. Tentu saja tanda tanya besar muncul di kepala gadis itu ketika mendengar nama Myria disebut Angkasa. Dia bertanya-tanya, ada hubungan apa sampai cowok itu mencari Myria hingga malam begini. “Kenapa lo nanyain dia jam segini?”
Angkasa menepuk kening. Saking bingungnya lupa menyiapkan alasan. Pertanyaan itu wajar diberikan Friska padanya karena gadis itu belum tahu apa pun.
Kebisuan Angkasa membuat Friska menyerang lagi. “Kasa! Ngapain lo nyari sahabat gue malam-malam gini? Punya utang lo?”
Mendengar ocehan Friska, dua mata Angkasa melotot. Dia berdecak lirih. “Buruan, Fris. Lo tanya dia sendiri aja besok, sekarang gue butuh info keberadaannya. Buruan!” Kata terakhir sengaja ditekankan Angkasa agar Friska memahami bahwa dirinya tengah buru-buru. Cowok itu tidak ada waktu lagi untuk menerima introgasi.
“Biasa aja kali, Ka. Lo nyari Myria tinggal telepon apa susahnya, sih?” Masih saja Friska berputar-putar, dia ganti yang sewot.
Menyadari ada yang salah dari cara bicaranya, Angkasa mengatur napas. Dia berkata lebih pelan, “Sorry, gue beneran butuh info dari dia. Panik gue. Nomornya nggak aktif dari sore soalnya. Dia belum pulang juga ke rumah sampai sekarang.”
“Mampus gue salah ngomong,” kata Angkasa dalam hati. Dia merutuki diri sendiri. Bisa-bisanya bicara tanpa berpikir dan berujung kecurigaan.
“Kasa, lo denger gue?”
Tangan meraup wajah secara kasar. Angkasa kehabisan ide untuk menghindar. “Iya, gue denger. Udahlah, di mana Myria?”
“Jawab dulu pertanyaan gue!” Friska ngeyel. Memang cewek kadang-kadang seperti itu, selalu ngotot dan kepo.
Ingin sekali Angkasa memaki, tetapi sayangnya sedang butuh. Mau tidak mau, dia mengalah. “Gue kasih tahu asalkan lo nggak kaget.”
“Nggak, lah. Santai aja lagi.”
Enak bener ni cewek ngomong santai. Gue udah stres dari tadi padahal.
Angkasa berdehem sebentar. Sejujurnya, dia tidak yakin pula akan mengaku. Namun, hari makin gelap, dia butuh informasi secepat mungkin. “Gue tahu karena dia tinggal sama gue.”
Friska terdiam. Otaknya sedang loading mencerna perkataan teman kelasnya. “Maksud lo, Ka? Apa Myria kerja di rumah lo?”
Di luar prediksi memang tanggapan Friska. Angkasa mengembuskan napasnya lega. “Ya, gitulah. Buruan, Friska, di mana Myria?”
__ADS_1
Lelah didesak dan khawatir pula, Friska segera menjawab, “Eum, sejujurnya gue juga nggak tahu.”
“Anjir! Dari tadi lo ngomong nggak ada artinya berarti.” Emosi Angkasa meledak. Hampir satu jam dia kehujanan di jalan, tetapi sahabat istrinya justru menjengkelkan.
“Astagfirullah, Kasa!” Friska ikut emosi. “Cowok macem apa lo bicara kasar sama cewek gitu?”
“Gue nggak main-main, Friska! Buruan bilang di mana, kalau nggak tahu dari tadi nggak usah ngomong. Ngabisin waktu gue lo!”
Panggilan nyaris dimatikan oleh Angkasa daripada tambah emosi, tetapi urung karena Friska menyela dan mengatakan sesuatu.
“Dia pulang sekolah tadi ikut gue ke toko buku, terus balik barengan. Tapi dia turun lebih dulu di daerah ngontraknya yang lama soalnya mau ke makam.”
“Makam?”
“Hum.”
“Di mana makamnya? Lo tahu?”
“Tahu.”
“Anterin gue ke sana. Gue jemput lo sekarang, ini gue di sekitaran rumah lo tapi lupa gangnya yang mana.”
“Apa? Lo mau ke rumah gue?”
“Darurat, Fris. Buruan share lokasi lo.”
Friska justru linglung. Antara mengiyakan atau menolak.
“Friska, gue tunggu.”
Panggilan terputus. Angkasa meneror Friska dengan pesan singkat bertubi-tubi hingga membuatnya dapat bantuan.
Meninggalkan rumah setelah pamit pada ibunda Friska, Angkasa melajukan motor dengan kecepatan di atas rata-rata. Motor matic yang dipakai cukup lincah untuk menyelip jalan-jalan kecil. Friska di belakangnya sampai mengomel beberapa kali.
“Ka, gue masih pengin hidup!”
Bukan Angkasa kalau peduli. Cowok itu tak jua menurunkan kecepatan. Jam terus merangkak naik, dia harus memastikan Myria baik-baik saja.
“Itu dia!”
Teriakan Friska mengalihkan fokus Angkasa. Pemuda itu memelankan motor dan mencari-cari keberadaan sang istri. Di ujung jalan, dia lihat gadis berseragam SMA sekolahnya tengah berjalan sembari menutupkan tas ke kepala.
“Myria!” Friska berteriak, lalu melambaikan tangan.
Myria berhenti dan mendongak. Mata sembabnya menyipit karena tersorot lampu motor yang mendekat. Dia amati kendaraan roda dua yang menghampiri dan berhenti di depan itu.
__ADS_1
Angkasa turun terburu-buru. Dia lupakan Friska yang masih berada di belakang dan nyaris terjengkang karena belum sepenuhnya memijak Bumi. Cowok itu menghampiri Myria dengan langkah lebar, lalu memeluk erat ketika sampai. “Lo baik-baik aja?”
Mulut Friska menganga, matanya turut membeliak karena tidak percaya melihat apa yang terjadi. Dia yang hendak turun, seketika berhenti dengan satu kaki masih berada di atas jok motor. “Apa-apaan ini?”