
“Temui trus lakuin tes DNA aja, My, sesuai kemauan orang itu.” Ketika baru masuk kamar dan melihat Myria melamun, Angkasa mendekat. Dia membungkuk lalu melingkarkan lengan ke perut sang istri. Pemuda itu ikut tidak nyaman melihat Myria sering merenung selama dua pekan terakhir. “Aku nggak suka kamu diem aja kayak gini. Ada apa-apa, bicara dan selesaiin bersama. Kalau kita nggak bisa, baru ngobrol sama Mama-Papa.”
Hela napas keluar dari bibir yang dimiliki, Myria menatap pemandangan luar dari balik jendela kaca. Hampir dua jam gadis itu berdiri di situ dan masih tak ada pergerakan. “Kasa, kalau Tuan Tirta beneran ayahku, gimana?”
“Gimana apanya?” Angkasa menaruh dagu ke bahu Myria sembari mempererat pelukan. “Alhamdulillah, kalau beliau memang ayahmu. Itu artinya, kan, keinginanmu selama ini terwujud buat tahu siapa dan di mana ayahmu selama ini.”
“Tapi kalau nggak?”
Pertanyaan Myria membuat Angkasa tersenyum. “Nggak, ya, udah. Jangan dipikirin lagi. Kamu juga tetep sama aku. Kita hidup di keluarga Sastra dan akan keluar nanti kalau kamu udah bosen di sini.”
Kembali Myria terdiam. Hati dan pikirannya memang berkecamuk selama dua pekan lamanya sejak bertemu Tuan Tirta di sekolah. Dia tidak pernah mengira akan ada seorang pria mengaku sebagai ayah saat ibunya tak lagi di dunia.
“Hubungi Tuan Tirta besok, aku temani kamu buat tes DNA.”
Myria menoleh, Angkasa refleks berdiri tegap dan membalas tatapan. Pemuda itu mengulum senyum lantas mengangguk. “Bener atau enggak perkara Tuan Tirta ayahmu, kamu bakal tetep sama aku. Yang penting, kan, sekarang gimana caranya kamu dapat jawaban daripada galau terus kayak gini, My.”
Badan Myria berputar secara penuh menghadap Angkasa. Dua tangannya menjulur ke depan dan menyelip di antara dua lengan. Myria mendaratkan kepala untuk bersandar, dia ingin mencari ketenangan di antara hangatnya tubuh sang suami.
“Kasa, terima kasih karena kamu terus berusaha ngertiin aku. Maaf kalau selama ini aku belum bisa jadi istri yang baik buat kamu, Ka.”
Angkasa tersenyum tipis. Dengan satu tangan, dia mengusap rambut Myria hingga turun ke punggung. “Nggak ada yang sempurna di dunia ini, My. Kamu nurut sama aku, itu udah cukup buatku nganggep kamu istri yang baik. Nggak perlu muluk-muluk karena aku juga tahu diri sejauh apa jadi suami.”
...***...
Pagi hari selama di mobil, Myria mencoba mengirim pesan pada Tuan Tirta. Gadis itu akhirnya mengikuti saran Angkasa kemarin malam untuk menerima tawaran tes DNA. Dua pekan lamanya dia selalu meminta petunjuk dan ketenganan pada Sang Pencipta, tetapi tetap saja resah tak berkesudahan. Myria harap, selepas ini, dia bisa tenang seperti dahulu.
Ujian-ujian latihan pasti akan menghampiri beberapa bulan ke depan sebelum ujian nasional tiba, Myria ingin fokus belajar sehingga menyelesaikan semua sekarang. Perkara Tuan Tirta ayahnya atau bukan, hal terpenting bagi Myria adalah jawaban pasti.
“Aku temenin.” Tatapan teduh diberikan Angkasa agar Myria nyaman. Cowok itu menggenggam tangan istrinya dan mengusap lembut. Senyuman tipis membingkai bibirnya yang tipis diikuti lesung pipit di kedua pipi.
Myria tak banyak bicara. Dia hanya merespons dengan anggukan dan seutas senyum. Ada Angkasa atau Friska di sampingnya, sudah sedikit mengobati kecemasan.
Perjalanan menuju sekolah tidak lama asal jalanan lancar. Angkasa ikut turun ketika sampai di halte sekolah. Pemuda itu ingin jalan kaki bersama sang istri karena Myria selalu menolak diantar sampai gerbang. Sebenarnya, bukan tanpa alasan Myria demikian, gadis itu tetap menjaga jarak sekalipun tidak ada lagi Erika di sekolah.
__ADS_1
Myria masih ingat bahwa penggemar suaminya bukan hanya Erika seorang. Maka dari itu, dia lebih antisipasi daripada masalah datang kembali.
“Kamu, kok, turun?” Baru menutup pintu, Myria melongo melihat kemunculan Angkasa dari pintu sisi lain.
“Ini jalan umum. Emang nggak boleh?”
“Masih lumayan jalannya sampai kelas. Kamu ntar capek. Naik lagi sana!”
Penjelasan Myria tak dianggap. Angkasa lebih dahulu memutar badan dan meninggalkan sang istri. Myria yang melihat itu kembali mengaga, lalu mengejar.
“Kasa, ih!”
Tawa kecil keluar dari mulut Angkasa. “Makanya jangan bawel. Jalan tinggal jalan aja, kok, repot.”
“Iya, tapi aku nggak mau jalan barengan.”
“Siapa yang bareng kamu? Kamu sendiri yang lari nyamperin aku, kan?”
Mata bulat Myria membulat. Gadis itu hendak protes lagi, tetapi sudah diultimatum lebih dahulu.
Makin sewot Myria mendengar Angkasa bersikap semena-mena. Akhirnya, gadis itu tetap berjalan di samping Angkasa dengan jarak cukup lebar. Tidak lama dari itu, ponsel di saku bergetar, sehingga membuat Myria bergegas mengambil.
Sejenak, langkah Myria terhenti. Alhasil, Angkasa melakukan hal yang sama. “Kenapa?” tanya Angkasa dengan nada pelan.
“Tuan Tirta nelepon.”
“Oh, angkat aja. Sambil jalan pelan-pelan sini.”
Myria menggigit bibirnya. Dengan perasaan berdebar, dia menggeser icon hijau dari layar ponsel. “Assalamualaikum, Tuan.”
“Ah, ya. Waalaikumussalam, Nak. Ternyata benar ini nomormu. Aku hanya memastikan yang mengirim pesan ke nomor pribadiku ini kamu.”
Myria meringis canggung sembari memilin jilbab tak tentu. “Um, ya, Tuan. Maaf baru bisa memberi kabar.”
__ADS_1
“Tidak masalah. Aku justru senang akhirnya kamu mau menghubungiku. Jadi bagaimana, kamu pulang jam berapa?”
“Eum … jam tiga, Tuan.”
“Oh, oke. Aku akan menjemputmu bersama Daniel nanti. Tunggu, ya.”
“Eh, tidak perlu, Tuan.” Buru-buru Myria menyela sebelum Tuan Tirta mengakhiri panggilan. “Saya bisa berangkat sendiri dengan seseorang naik taksi.”
“Seseorang? Temanmu?”
“Eum, ya. Bisa dibilang begitu.” Selama panggilan, Myria beberapa kali menggigit bibir bawahnya, sementara Angkasa yang ada di samping terus memperhatikan dengan serius.
“Baiklah. Nanti biar Daniel memberi kabar padamu soal alamat rumah sakitnya.”
“Baik, Tuan. Terima kasih. Maaf kalau mengganggu pagi-pagi.”
Tuan Tirta tersenyum mendengar suara Myria yang begitu sopan. Pria itu sejak tadi tidak keberatan sama sekali melakukan panggilan pagi-pagi meski bukan urusan pekerjaan. “Tidak, Nak. Tidak perlu sungkan padaku. Oh, iya, kamu sudah di sekolah?”
“Benar, Tuan. Ini saya mau masuk kelas.”
Meski Myria tak bisa melihat wajahnya secara langsung, Tuan Tirta tetap manggut-manggut menanggapi pembicaraan. “Ya, sudah. Belajarlah yang rajin.”
Panggilan tertutup setelah Myria menjawab pertanyaan Tuan Tirta. Dia segera memasukkan kembali ponsel ke saku. Angkasa yang ada di samping tak langsung bertanya, pemuda itu tetap diam dan memberi waktu Myria mengontrol diri.
“Gimana?” Ketika telah sampai koridor kelas, Angkasa baru berani membuka mulut.
“Nanti sore. Nunggu kabar dari asistennya.”
“Udah bilang sama aku, kan?”
“Nggak bilang sama kamu, sih. Cuma bilang sama temen.”
Angkasa membuang napas kuat sembari menyugar rambut ke belakang. “Kenapa bilangnya gitu? Harusnya ngaku aja kalau mau sama suami.”
__ADS_1
“Apaan, sih, Ka?” Myria mendengkus. Pergi lebih baik saat ini daripada menanggapai Angkasa. Namun, tidak memungkiri, sikap Angkasa yang demikian sukses membuat bibirnya ingin terus melengkung.
.