
“Kamu nggak ke kantin?”
Myria menggeleng. Dia sibuk menyalin materi yang terlewat gara-gara kena hukuman. Gadis berjilbab putih itu berujar, “Aku titip aja boleh nggak?”
Friska menumpu kepala dengan satu tangan. Sedari tadi bokongnya masih menempel di bangku dan tidak beranjak sedikit pun. “Titip apa?”
“Kamu ke kantin aja sendiri atau sama teman-teman lain. Aku mau nitip minum sama camilan.” Aktivitas menulis Myria dihentikan sejenak. Dia menatap sahabatnya dengan mata penuh harap. “Mau, kan? Aku traktir kamu.”
“Wah, banyak duit kayaknya.”
Senyum lebar terlukis di bibir Myria. Dia memilih tidak terlalu menanggapi ledekan Friska. Berbeda dari sebelum-sebelumnya kala dapat uang banyak dia akan cerita, kali ini tidak mungkin lantaran uang berasal dari Nyonya Nasita. Tidak ingin mengundang curiga, Myria mengalihkan perhatian. Dia rogoh saku rok, lalu menyerahkan selembar uang kertas pada sahabatnya. “Kamu bisa beli apa aja, terus nggak usah buru-buru juga. Aku cuma butuh minum, nggak terlalu laper. Tapi kalau kamu kesepian ke kantin sendiri, bawa aja camilannya ke sini terus kita makan bareng.”
Bola mata Friska berputar. Dia lekas menyahut uang dari tangan Myria dan melenggang pergi tanpa memberi jawaban.
Selepas ditinggalkan Friska seorang diri, Myria kembali fokus menyalin materi. Kapok rasanya harus absen dari belajar.
“Myria.”
Sapaan orang dari pintu mengagetkan Myria. Dia mendongak dan melihat Erika datang bersama satu siswi lagi. “Ya,” jawabnya pelan lalu meletakkan alat tulis.
Erika duduk tepat di depan Myria. “Lo sibuk? Pantes aja pesan gue nggak dibales.”
“Pesan?” Buru-buru Myria mengecek ponsel. Lantaran benda tipis hitam itu selalu mode silent dan hanya ada getaran saat di sekolah, Myria tidak tahu jika ada yang menghubungi. “Oh, kamu mau ajak aku ke kantin?” tanyanya selesai membaca teks singkat dari layar LCD.
“Yups. Udah nunggu di sana, tapi nggak dateng-dateng. Jadi gue samperin ke sini. Di depan gue ketemu Friska tadi.”
“Iya. Aku emang enggak keluar, mau nyalin ini.”
Tubuh Erika condong sedikit ke arah buku yang ada di depan Myria. Dia membaca sekilas. “Eh, gue lihat lo berdiri di depan kelas tadi.” Tiba-tiba Erika berceletuk selepas membaca isi buku.
Myria mengangguk.
“Sama Kasa.”
Gradasi di wajah Myria berubah mendengar nama Angkasa. Dia teringat pembicaraan Sakti mengenai Erika. Sekarang, justru dirinya bersama gadis itu. Respons seperti apa yang akan diberikan Angkasa saat tahu dirinya mengobrol dengan mantan pacar?
“My, kenala lo diem?”
Myria gelagapan. “Oh, iya. Aku lupa nggak kerjain PR, Angkasa juga.”
__ADS_1
“Lo deket sama Kasa, ya, My?”
Pertanyaan yang sulit dijawab oleh Myria saat ini. Dahulu, dia tinggal jawab ‘tidak’, tetapi sekarang entah bagaimana. Memberi jawaban tidak, mungkin akan dapat sanggahan karena siswa lain sering melihat Angkasa mendekatinya akhir-akhir ini.
“Eum, enggak, kok. Ya, biasalah teman sekelas.”
Tatapan Erika seperti tidak percaya, begitu pula dengan tanggapan Risti. Sahabat Erika itu sejak tadi diam tidak berkomentar, tetapi mata terus mengamati.
“Masa?” Erika berusaha memastikan. Namun, yang ada justru terlihat sekali dia curiga. “Gue lihat akhir-akhir ini Kasa sering nyari lo. Kemarin itu di perpus, sekarang bisa dihukum bareng gitu?”
“Eum … ya—”
“Emang nggak boleh barengan sama Kasa?” Friska datang-datang menyela. Dia langsung menaruh jajanan ke meja dan merangkul Myria. “Lagian lo kepo banget sama hidup orang. Kalau ada urusan sama Kasa, selesaikan aja sama itu cowok. Jangan ngerusuh sahabat gue.”
“Fris.” Myria berbisik lembut. Satu tangannya bahkan menarik jilbab Friska dari bawah.
Erika berdiri diikuti Risti. Dua cewek itu memberi tatapan sengit. “Dateng-dateng, kok, lo nyolot?”
“Gue risih liat sahabat gue kayak dipojokin gini? Dia nggak ada urusan sama Angkasa. Jangan nanya aneh-aneh, deh. Udah dijawab, ya, udah. Ngapain masih nggak percayaan gitu?”
“Bukan gue nggak percaya. Cuma mastiin aja.”
“Mastiin apa coba? Lagian lo bukannya udah putus sama Angkasa, tapi kenapa masih ribet ngurusi itu cowok?”
“Tenang aja, My. Gue nggak takut, kok, meski kita nggak sekaya dia. Bete gue lihat kelakuannya.”
“Apaan, sih, lo? Erika cuma nanya. Lo nggak tahu apa pun tiba-tiba nyerang gini.” Risti ikut maju. Dia yang agak bar-bar sampai mendorong bahu Friska sebelah kiri.
Perlakuan itu tentu saja membuat Friska meradang. Gadis berkulit kuning kecokelatan itu hendak balas mendorong, tetapi sudah ditahan oleh Myria.
“Friska, jangan gini.”
“Gue nggak terima, ya, My. Dia seenaknya gini.”
“Lo juga yang mulai.” Risti masih ada di posisi tadi. Dua tangan bertolak pinggang, sedangkan dagunya terangkat hingga memberi kesan keangkuhan.
“Temen lo yang bawel!”
Obrolan sengit dua gadis yang saling membela sahabat masing-masing itu terus memanas. Friska maju dan nyaris menjambak Risti, sementara Myria berusaha menahan dari belakang.
__ADS_1
Berbeda dari Myria yang sibuk menahan Friska, Erika justru terdiam tanpa ingin melerai. Cewek pindahan itu sibuk mengamati kuku-kukunya yang dicat merah muda.
“Eh, eh, ada apa ini?” Sakti muncul di saat situasi makin kacau. Jilbab Friska nyaris terlepas karena ditarik cukup kuat oleh Risti, sedangkan rambut Risti pun tak kalah semrawut. Cowok itu segera melerai. “Apaan kalian ini?”
Kepala Sakti berputar. Dia lihat Erika dengan wajah datar tanpa peduli. “Rik, ada apa?”
“Nggak tahu,” jawab Erika sembari mengangkat dua telapak tangan sebatas leher. “Dah, ah, gue mau balik kelas. Ayo, Ris!”
“Rik!” teriak Sakti dari tempat, tetapi tetap saja tidak digubris. Dia kembali mengarah pada dua teman sekelasnya. “Lo nggak pa-pa, Myria?” Sudah jelas yang kacau balau adalah Friska, tetapi perhatian Sakti justru mengarah pada istri sahabatnya.
Myria menggeleng. Dia tidak perhatian karena sedang sibuk membantu Friska dan menenangkan.
Sementara itu, di luar menuju arah kelas yang dihuni Erika, Risti terus mengomel. Rambut panjangnya yang biasa tersisir rapi jadi kusut dan berantakan. “Gila itu cewek. Tampangnya doang yang muslimah, kelakuan kayak brandal.”
Erika membisu. Dia terus berjalan lurus dan mengamati Angkasa yang kebetulan baru kembali dari kantin bersama teman sebangku.
“Rik! Lo denger gue nggak, sih?” Risti menggerutu. Dia yang sedari tadi sibuk dengan rambut, tidak menyadari jika sahabatnya telah pergi lebih dahulu. “Rik, ke mana lo?”
Langkah Erika makin dipercepat sebelum Angkasa sampai kelas. Dia tidak lagi peduli atas pandangan siswa-siswa lain tentang dirinya. Lagi pula, siapa yang berani menggunjing Erika, cewek dengan kecantikan di atas rata-rata itu tentu saja lebih banyak dikagumi daripada dicibir.
“Kasa.”
Angkasa berhenti diikuti teman sebangkunya. Dua cowok itu bergeming.
“Besok sore ada acara nggak? Kebetulan aku punya dua tiket nonton, mau—”
“Nggak!” Angkasa memotong ucapan Erika.
“Tapi, Ka.”
“Gue udah bilang berkali-kali, menjauh dari gue.”
“Nggak bisa, Ka. Gue gini karena masih sayang sama lo.”
“Sayang?” Alis Angkasa menukik satu sisi, lantas dia tertawa miring. “Mulut lo kayaknya nggak pantes bilang sayang. Apalagi ke gue.” Usai dengan ucapannya, Angkasa menyingkir dan lanjut berjalan.
Akan tetapi, Erika tidak berhenti mengejar. “Ka, dulu gue khilaf. Tapi serius, gue masih sayang sama lo. Pengin kita sama-sama lagi. Gue janji—”
“Nggak perlu bawa-bawa janji kalau ujungnya berkhianat. Sekali gitu, gue nggak akan percaya lagi. Jadi, udahlah, simpan tenaga lo buat serius belajar daripada ribet gini.”
__ADS_1
“Gue semangat belajar kalau ada lo.”
Kaki Angkasa berhenti lagi. Dia menatap penuh wajah Erika yang ada di sampingnya. Gadis itu mengulas senyum manis penuh harap. Namun, ternyata yang diterima hanya seringai sinis. “Gue udah nggak tertarik sama lo,” kata Angkasa penuh penekanan dan melenggang pergi meninggalkan Erika yang sedang terpukul atas apa yang didengar.