Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 77: Memanggil Ayah


__ADS_3

Tangan Tuan Tirta tiba-tiba gemetar memegang selembar kertas pemberian sang dokter. Pria seumuran Tuan Aji itu mengangkat wajah dengan mata berkaca-kaca. Beliau berdiri, lalu menghadap pada Myria.


“Kamu ingin lihat, Nak?” Kertas hasil uji laboratorium itu tersodor, Myria lekas mengambil dengan perasaan campur aduk.


Bagaimana bisa Myria tenang jika semua cerita Tuan Tirta hampir sama dengan cerita mendiang ibunya. Gadis itu nyaris tidak bisa tidur selama menunggu hasil tes DNA keluar, selama itu pula Angkasa yang setia menjadi pendengar sekaligus penenang kegundahannya.


Huruf demi huruf tereja. Myria terus membaca turun dan menemukan kesimpulan di bagian akhir yang dicetak tebal. Iris hitam yang biasa terlihat jernih itu kini mulai tertutup cairan bening. Myria tergagap dan segera menutup mulut setelah mengetahui semua. Dia ikut mengangkat wajah dengan tatapan sendu.


“Kamu tidak ingin memanggilku ayah?” Tuan Tirta merentangkan tangan sambil menahan sesak. Air mata terbendung di kelopak mata bawahnya.


Semua orang yang mendengar pertanyaan Tuan Tirta ikut kaget. Bahkan Daniel yang biasa terlihat selalu tenang dan berwibawa, kini tak lagi bisa menyembunyikan keterkejutan.


Myria mengangguk pelan sembari menyeka sudut mata. Kakinya mulai melangkah ke depan untuk menuju Tuan Tirta dan berakhir memeluk ketika sampai. “A–ayah,” kata Myria dengan suara lirih. Matanya tak mampu lagi menahan tangis. Gadis itu tergugu di pelukan Tuan Tirta. “Anda benar ayahku?”


“Tentu saja aku ayahmu. Dari awal kita bertemu, Ayah memiliki perasaan aneh yang tiba-tiba. Maka dari itu, Ayah sengaja mencari tahu tentangmu, Nak.”


Tangis Myria makin kencang, bahkan bahunya naik turun di pelukan Tuan Tirta. Siapa mengira selama puluhan tahun hidup hanya bersama sang ibunda, Myria kini ada kesempatan bertemu dengan pria yang seharusnya menjadi cinta pertamanya sejak lahir.


Angkasa yang ada di belakang Myria bernapas lega. Dia tersenyum tipis dan ikut senang melihat sang istri menemukan kebahagiaan yang selama ini dirindukan.


Berbeda dari Angkasa atau Daniel yang masih bisa tenang, Friska justru ikut menangis. Beberapa kali dia mengusap wajah untuk menghampus air mata yang berjatuhan di pipi.


Selamat, ya, My. Kebahagiaanmu makin lengkap sekarang. Kamu punya suami yang penyayang dan ayah yang bisa membelikanmu apa saja. Kamu nggak bakal kekurangan lagi sekarang.


Melihat pasiennya saling memeluk, Dokter lekas berdiri dan keluar dari balik meja kerjanya. Pria bersneli putih itu mendekat dan mengucap selamat.

__ADS_1


“Saya turut senang dengan pertemuan Anda dan putri Anda, Tuan.”


Pelukan Myria terlepas. Dia mundur sembari menyeka wajah. Tuan Tirta mengusap kepalanya penuh kelembutan.


“Terima kasih, Dokter, sudah berkenan saya repotkan. Bahkan rela membagi waktu padahal pekerjaan lain pasti banyak yang harus diselesaikan.”


“Oh, tidak masalah. Kebahagiaan pasien itu penting bagi orang-orang seperti kami agar tetap semangat bekerja.”


Ucapan sang dokter kembali ditanggapi dengan ucapan terima kasih beberapa kali oleh Tuan Tirta. Bahkan, bukan hanya Tuan Tirta, Myria dan Angkasa serta Friska pun ikut mengucap kalimat yang sama.


Semua orang pamit dan keluar dari ruang dokter. Myria, Friska serta Angkasa keluar lebih dahulu baru di belakang mereka ada Tuan Tirta beriringan dengan Daniel.


Sepanjang jalan menuju pintu depan, Myria tak henti-hentinya mendapat ucapan selamat dan pelukan dari Friska. Sahabatnya itu tak bisa menyembunyikan rasa bahagia.


“Iya, dong. Kita, kan, bestie.” Mulut bicara demikian, sementara mata sengaja melirik Angkasa yang ada di samping kiri Myria. Friska belum mau kalah untuk membuktikan bahwa dia lebih dahulu hadir di hidup sahabatnya daripada Angkasa.


“Apa kalian akan pulang?” Tepat saat pintu utama rumah sakit tertutup setelah dilewati, Tuan Tirta berkata. Pria itu menatap satu per satu para anak muda yang masih berseragam SMA  di depannya itu.


Myria yang ada di tengah-tengah menoleh ke kanan dan kiri. Dia mengangguk. “Iya, Ayah. Kami ….”


“Kamu tidak ingin makan malam bersama Ayah, Nak? Kemarin kamu terus menolak karena menganggapku orang lain, sekarang aku ayahmu. Apa masih begitu enggan menerima tawaran?”


Bibir Myria terkatup. Sekali lagi dia menoleh pada Angkasa dan Friska.


Paham kebimbangan sang istri, Angkasa mengangguk. “Nanti aku telepon rumah,” katanya memberi persetujuan.

__ADS_1


Myria tersenyum menanggapi omongan suaminya. Dia ganti mengarah pada Friska. “Fris, ikut, ya.”


“Eh, tapi ini mau magrib. Aku bisa kena omel Ibu.”


“Biar aku yang telepon Tante, Fris.”


“Iya, gue bantu ngomong sama nyokap lo.” Angkasa ikut membujuk agar sahabat istrinya itu mau.


“Ya, udah. Iya, deh.”


Senyum Myria makin lebar. Kebahagiaannya sore ini tumpah ruah seolah lupa pernah terluka. Gadis itu akhirnya ikut Tuan Tirta ke sebuah restoran.


Mobil melaju pelan menuju restoran terdekat. Namun, belum sempat sampai, azan magrib telah berkumandang. Myria meminta mampir ke masjid lebih dahulu dan baru akan melanjutkan perjalanan setelah ini.


Tiga anak SMA di belakang telah siap-siap turun. Angkasa paling ujung sudah membuka pintu dan turun perlahan agar lengannya tidak membentur apa pun. Luka jahitan mulai kering, tetapi rasa nyeri kadang mendera kala tangan tak sengaja menekan sesuatu.


Angkasa, Myria dan Friska telah menjejak bumi sepenuhnya. Mereka segera masuk sebelum salat dimulai. Namun, ada yang janggal. Myria tidak melihat dua pria di pintu depan ikut turun.


Gadis itu mendekat, lalu mengetuk pintu mobil di mana Tuan Tirta duduk. Ketika kaca jendela diturunkan sepenuhnya, dia bertanya, “Ayah, apa Ayah tidak turun?”


Tuan Tirta tersenyum mendengar pertanyaan Myria. “Tidak. Ayah akan menunggumu di sini.”


Dua alis Myria menaut. Tentu saja dia heran mengapa Tuan Tirta menjawab tidak. Pikiran buruk mulai menghampiri, hatinya mendadak waswas. Demi menepis rasa penasaran, dia kembali bertanya dengan hati-hati. “Ke–kenapa Ayah tidak ikut?”


“Ayah berbeda keyakinan denganmu.”

__ADS_1


__ADS_2