
Myria kembali ke kelas dalam keadaan linglung. Seluruh kesadaran seolah tersedot dengan hal yang diungkap Tuan Tirta di depannya tadi. Tulang-tulang penyangga anggota tubuh seakan rapuh dan tidak lagi berfungsi semestinya.
Friska menyambut. Gadis itu menunggu Myria dengan perasaan tak tenang sejak tadi. Pasalnya, siswa dipanggil ke ruang kepala sekolah tentu bukan perkara sepele.
“My ….” Gadis berperawakan tinggi dan sedikit berisi itu mendekat. Suara Friska begitu lirih. “Kenapa kamu pucet gini? Ada apa, My?” Gurat khawatir membingkai hampir seluruh permukaan wajah Friska. Kondisi sahabatnya yang memprihatinkan membuat gadis itu sedih.
“My, ngomong sesuatu. Jangan nakutin aku.”
Kepala Myria bergerak pelan. Dua mata bulatnya baru mau membalas tatapan Friska setelah dipaksa. Bibir yang senantiasa membisu sejak tadi di hadapan Tuan Tirta itu sampai kini belum bisa mengucap apa pun.
“Kenapa?” Hati Friska mendadak pilu. Dia amati wajah Myria lekat-lekat dan baru sadar jika sahabatnya usai menangis. Tak perlu bertanya lagi, Friska tak butuh alasan untuk peduli. Dia segera menarik Myria ke pelukan meski sahabatnya belum mau bercerita.
Apa yang terjadi? Apa kepala sekolah tahu hubungan Myria sama Kasa terus dia dikeluarin. Ya Allah, enggak! Jangan sampek kayak gitu.
Hati Friska ketar ketir dan sibuk menerka hal terburuk yang dialami Myria hingga mengundang tangis. Tidak biasanya sahabat satu-satunya itu demikian. Friska hafal perangai Myria yang begitu gigih menjalani hidup sebanyak apa pun masalah menghadang.
__ADS_1
“Aku di sini, My.” Hanya itu kata-kata yang bisa diucap Friska saat ini. Memaksa Myria bercerita bukan solusi, Friska takut sahabatnya justru akan tertekan.
Kelakuan dua gadis itu tak ayal mengundang perhatian teman-teman yang ada di kelas. Meski tidak ada pelajaran, beberapa murid tetap tinggal di ruangan dan sebagian lagi berhamburan entah ke mana. Kebetulan pula, Sakti masuk di bagian siswa yang ada di kelas.
Pemuda 18 tahun itu langsung berhenti main games. Sakti segera mengganti menu kamera dan diam-diam memotret Myria serta Friska. Dia langsung mengirim hasil jepretannya pada Angkasa.
“Bro, istri lo kenapa? Berantem sama lo?” Caption tertulis di bawah foto yang dikirim. Sakti sengaja tak langsung menghampiri seperti dahulu. Sekarang, dia berusaha menjaga jarak dari Myria agar tidak terjadi salah paham.
Pesan dari Sakti tak langsung terbaca. Ternyata, Angkasa di rumah sedang mengobrol bersama Nyonya Nasita. Pemuda itu baru kembali ke kamar setelah satu jam kemudian dan langsung menelepon Myria.
Nada sambung keenam, panggilan itu baru terjawab. “My, di mana kamu?” Dalam sekejap, Angkasa langsung bertanya seperti dikejar sesuatu.
“Astaghfirullah. Salam dulu, kek. Ini siap-siap mau pulang. Kenapa? Kamu mau titip sesuatu?” Seolah tidak ada apa-apa, langgam bicara Myria begitu tenang dan lembut seperti biasa. Dia sengaja menyembunyikan masalah dari Angkasa karena belum siap bercerita.
Angkasa menghela napas. “Kamu nggak pa-pa, kan?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Angkasa, Myria ragu menjawab. Dia melipat bibir sebentar sembari melirik Friska di samping. Sahabatnya itu mengedikkan dagu seolah bertanya ‘kenapa’.
“Eng–enggak. Emang kenapa? Ini aku mau pulang. Baru aja dapat jadwal pelajarannya tadi, udah nggak ngapa-ngapain. Jadi pulang aja nemenin kamu.”
“Ya, udah hati-hati. Aku tunggu di rumah.”
“Iya. Assalamualaikum.”
Panggilan diakhiri setelah Angkasa menjawab salam. Myria segera beranjak dan keluar kelas bersama Friska. Namun, sebelum pulang, Myria ingin mampir ke makam sebentar.
Dengan menggunakan taksi Myria pergi ditemani Friska. Sampai makam, dia menuju pusara sang ibunda. Tidak seperti biasa ada tangis kesedihan, kali ini Myria datang dengan wajah tenang.
“Ibu, hari ini aku ketemu Ayah.” Di sela membersihkan rumput dan daun kering, Myria berbicara. Dia seolah bercerita pada orang yang masih hidup.
Friska nyaris limbung karena kaget mendengar perkataan Myria. Dia yang berdiri di belakang, lekas mendekat untuk mendengar kata-kata yang lain.
__ADS_1
“Apa aku tadi nggak salah denger?”