
“Nggak usah, Ka. Di rumah aja kenapa, sih? Besok juga belum ada pelajaran. Paling cuman pembagian jadwal. Ntar aku catetin.” Myria masih terus menghalangi kemauan Angkasa untuk sekolah besok. Suaminya itu ingin pergi, tetapi dia keberatan. Gadis itu pikir, biarkan saja Angkasa di rumah daripada ke sekolah justru akan kelelahan. Apalagi kondisi lukanya belum pulih seratus persen.
“Bosen aku, My. Kamu ke sekolah, aku mau ngapain di rumah?”
“Ya, nyantai aja. Istirahat. Liat film atau main aja sama kucing.”
Jawaban Myria langsung mengundang decakan dari Angkasa. Pemuda yang tengah bersandar di sofa kamar itu mendengkus dan berakhir pasang wajah cemberut. Dia mengubah posisi jadi berdiri lalu bersiap keluar.
“Mau ke mana?” Myria ikut berdiri. Dia kejar Angkasa sebelum benar-benar meninggalkan kamar. Meski sang suami bisa jalan ke mana pun, Myria tetap waswas karena satu tangan Angkasa belum bisa digerakkan sempurna.
“Turun. Bete di kamar sama kamu. Isinya ngelarang ini itu.” Masih terus berjalan, Angkasa menggerutu. Tingkat kesabarannya telah habis karena selama dua pekan dikurung di rumah dan tidak bisa ke mana pun. Persis seperti dirinya dahulu yang usai mengalami koma.
Myria menghela napas lantas menyejajarkan langkah bersama sang suami. Dari samping kanan, dia merangkul lengan Angkasa untuk menuruni tangga. “Kamu mau jalan-jalan ke mana? Aku temenin.”
Baru menjejak tiga tangga dari atas, Angkasa berhenti dan menatap wajah Myria yang mendongak ke arahnya. Dia melengos lagi karena masih ingin melanjutkan acara merajuk.
“Ka.”
“Kasa.” Panggilan pertama tidak ditanggapi, Myria belum menyerah. “Kasa, ih!” Lengan yang melingkar di bahu digoyang pelan, sementara kaki terus melangkah turun. “Jangan ngambek, dong. Aku janji besok cepet pulang. Lagian nanggung tahu, besok Jumat. Sabtu kita udah libur lagi. Lebih baik kamu istirahat aja di rumah.”
Angkasa tak membalas. Cowok itu hanya melirik melalui sudut mata dan lanjut menuruni anak tangga.
Waktu yang terus berjalan. Sejak pagi hari selesai Salat Subuh, Myria sudah siap-siap ke sekolah. Dia sangat bersemangat karena akan bertemu teman-temannya lagi.
Sementara itu, Angkasa masih sama seperti kemarin. Pemuda itu tetap berwajah masam dan enggan bicara. Dia hanya kebagian menjadi penonton untuk Myria yang sibuk.
Berulang kali Angkasa menghela napas panjang dan sengaja dibuat-buat agar dapat perhatian Myria. Dia ingin menunjukkan betapa sebalnya di rumah. Namun, tanggapan Myria hanya senyum tipis. Sama sekali tidak melegakan hati.
__ADS_1
Selesai dengan ganti baju, berdandan dan mengemasi barang bawaann berupa buku catatan dan alat tulis lain, Myria mendekat. Dia duduk di samping sang suami.
“Aku berangkat, ya. Di rumah ada Bibi, kalau ada apa-apa bisa panggil aja, kan? Bunda katanya juga enggak ke butik. Jadi kamu ada temennya.”
“Hm.”
Senyum Myria nyaris pudar mendengar tanggapan Angkasa, tetapi dia harus sabar. Suaminya memang demikian. Kadang manja kadang dewasa.
“Ka, ikhlas nggak? Kamu ridho nggak aku berangkat ini?”
Hela napas terembus dari hidung untuk kesekian kali. Angkasa menatap Myria dan mengusap kepala. “Iya, aku ikhlas. Berangkat sana dan hati-hati.”
Senyum Myria makin lebar. Dia menarik tangan sang suami lalu memberi kecup di punggung tangan. “Aku bakal cepet pulang.”
Angkasa menahan saat tangan Myria hampir terlepas. Pemuda itu mendongak. “Nggak cukup cium tangan, doang. Yang lain masih banyak.”
Diberikannya kecupan singkat di pipi, dahi, dan bibir sang suami, Myria buru-buru pergi setelah itu. Rasanya dia telah kehilangan muka untuk membalas tatapan Angkasa pagi ini. Maka dari itu, pillhan terbaik adalah kabur.
Angkasa yang baru dapat vitamin pagi tersenyum tipis sembari menyentuh pipi. Dia segera berdiri lalu mengikuti istrinya untuk turun.
Mobil yang mengantar Myria akhirnya sampai sekolah. Suasana sudah ramai dan terlihat berbeda. Kaki Myria terus menyusuri lorong depan kelas, lalu kebingungan melihat kondisi depan kelasnya sendiri yang dikerumuni banyak siswa.
“Ada apa, ya?” Myria bergumam pelan, tetapi dia terus mengayunkan kaki.
Tiba di dekat pintu, para siswi itu menyingkir dan membukakan jalan bagi Myria atau penghuni kelas yang lain. Gadis-gadis itu terlihat gelisah seperti menunggu seseorang.
Friska yang baru tiba sama bingungnya. Dia mendekati Myria. “Ada apaan, sih?”
__ADS_1
Myria mengedikkan bahu. Dia sendiri sejak tadi belum menemukan jawaban.
“Aneh.”
“Biarin ajalah, Fris. Ntar juga pada pergi kalau capek.”
Friska mengangguk-angguk. “Eh, by the way, gimana Kasa? Belum dateng dia?” Friska baru sadar jika dua cowok di bangku belakangnya belum ada yang kelihatan. Dia celingukan ke sana kemari.
“Kasa nggak masuk. Biarin aja dia istirahat. Sebenernya ngeyel pengin hadir, sih, hari ini. Cuma Bunda ngelarang.”
Belum selesai obrolan Myria dan Friska, atensi dua gadis itu teralihkan atas suara ribut di depan kelas. Mereka kompak menoleh dan melihat Sakti dikerubungi.
“Kepo, deh, aku, My.” Friska berdiri meninggalkan bangku. Dia mendekati kerumunan perlahan dan mengambil jarak aman agar tidak terdesak.
Dari tempat berdiri, Friska bisa mendengar bahwa Sakti sedang diwawancarai mengenai kondisi Angkasa. Cowok itu sampai tidak terlihat wujudnya saking penuhnya gerombolan gadis-gadis.
“Ampun, deh, cewek-cewek ini. Suatu saat kalau tahu Angkasa udah punya istri, patah hati kalian semua.”
Hampir puluhan menit berlalu dengan Sakti yang terus menjawab pertanyaan. Entah mengapa pemuda itu tidak terkesan lelah.
Friska telah kembali duduk menemani Myria. Dia bercerita banyak hal selama libur semester.
Di tengah keasyikan mengobrol, satu pemuda yang dikenal jadi ketua OSIS datang. Dia mendekati bangku Myria. “Kak, yang namanya Myria mana?”
“Aku.” Myria menjawab tenang.
“Kakak dipanggil ke ruang kepala sekolah, Kak.”
__ADS_1