Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 47: Lomba Class Meeting


__ADS_3

Friska menangkap dengan sigap, lalu melihat siapa yang membuat ulah pada sahabatnya. Mata gadis itu mendelik langsung saat tatapannya berhenti. “Punya mata nggak, sih? Jalan lebar kayak gitu, bisa-bisanya nabrak orang!”


Si Penabrak menengok ke belakang dengan senyum sinis tersungging di bibir. Dia mendecih, lalu melengos dan mengacungkan jari tengah ke depan mata Friska.


“Erika sialan!” teriak Friska tanpa sadar. Saking geramnya dia sampai mengumpat dan lepas kendali. Dadanya seperti hendak meledak dan ingin sekali melabrak, lalu menarik rambut Erika hingga rontok. Akan tetapi, semua itu terhalang lebih dahulu oleh Myria.


“Jangan nuruti nafsu, Fris,” kata Myria sembari menahan bahu Friska agar bisa mengontrol diri. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan dan membuat masalah. Myria memang memilih jalan damai daripada panjang urusan.


“Tapi dua cewek setengah setan itu udah keterlaluan, My!” Friska masih berapi-api. Mana bisa dia sesabar Myria.


“Hush! Jangan ngomong gitu, mereka manusia. Ciptaan Allah sama kayak kita. Hati-hati kalau ngomong.”


“Astagfirullah ….” Akhirnya, emosi Friska menurun. Dia atur napas sembari beristigfar beberapa kali, baru mengajak Myria ke lapangan lagi.


Bunyi peluit menyambut pendengaran Myria dan Friska ketika sampai lapangan. Dua gadis itu ternyata melewatkan pertandingan kelas mereka hingga setengah babak. Tinggal dua babak yang tersisa dan mau tidak mau hanya bisa menikmati itu.

__ADS_1


Berbeda dari Myria yang baru datang, Angkasa justru sudah bermandikan peluh. Sesuai omongan tadi malam, pemuda itu ikut bergabung dengan tim basket perwakilan kelasnya.


Istirahat kurang lebih hanya 15 menit. Maka dari itu, waktu harus dipakai sebaik mungkin untuk membangun tenaga kembali. Saat Angkasa ingin minum, dia merasa tertiban sial karena botol minumnya telah kosong. Pemuda itu celingukan mencari botol air di sekitar yang masih utuh, siapa tahu ada dan bisa diminum.


Beberapa siswi yang tahu permasalahan Angkasa, langsung bergerak mendekat dan membawa botol minum untuk diberikan. Semua tindakan itu langsung mencuri perhatian satu lapangan.


“Kak Kasa, minum ini.” Satu adik kelas paling cepat berlari langsung menyodorkan sebotol air pada Angkasa. Namun, belum sempat diterima, gadis itu sudah didesak siswi lain hingga membuatnya bergeser dan Angkasa langsung mundur.


Di tengah kehebohan siswi yang hendak merebut perhatian Angkasa, ada satu cewek berteriak. Teriakan itu makin mengalihkan perhatian semua siswa yang ada, termasuk para pemain yang masih beristirahat di sisi lain.


Friska menganga melihat kejadian itu. Dia menggeram lagi. “My, si Erika, tuh!”


Myria hanya diam dan menaruh perhatian tanpa ingin melakukan apa pun. Tidak ada hak baginya marah-marah apalagi sampai mengundang masalah lebih jauh. Dia dan Angkasa tidak pernah membahas perkara Erika. Perasaan suaminya pada gadis itu saja, Myria masih menebak-nebak.


“Kasa, minum ini. Gue beliin ini spesial buat lo,” kata Erika dengan suara lembut dan manja. Satu tangannya mengangkat sebotol air dan satu lagi bermain rambut menggulung-gulung.

__ADS_1


Angkasa menurunkan pandangan. Dia tatap wajah Erika sepenuhnya hingga membuat gadis itu salah tingkah dan gadis lain iri. Para siswi yang ada di sana menemukan momen langka, di mana pujaan hati mereka tidak bersikap dingin seperti biasa.


Akan tetapi, ternyata salah, tatapan ramah Angkasa berubah jadi seringai sinis yang merendahkan dan sukses menyurutkan senyum Erika.


Pemuda itu ganti mengedarkan pandangan. Dia menatap hampir seluruh penonton dan berhenti di satu titik.


Deg!


Myria menelan ludah saat tatapan Angkasa jelas-jelas mengunci keberadaannya. Dia terpaku di tempat. Saat kesadaran kembali, Myria merapal doa dan berharap Angkasa tidak menghampiri.


“Friska, kita kabur aja, yuk!” bisik Myria saat doanya tidak terkabul. Dia menatap lurus ke depan, di mana Angkasa berjalan dan membelah kerumunan gadis yang tadi mengelilingi. Mulut memang mengajak kabur, tetapi kaki Myria seperti tertanam di lapisan beton yang menjadikannya sulit beranjak.


Bukannya membantu atau menarik Myria pergi, Friska justru mundur dan mengambil posisi di belakang sahabatnya itu. Dia menyembunyikan senyum saat melihat Myria kaku seperti kayu.


Angkasa makin dekat, sedangkan Myria makin kehilangan kesadaran. Gadis itu hanya berkedip dan tidak memikirkan berapa banyak pasang mata menaruh beragam arti tatapan ke arahnya.

__ADS_1


“Gue ambil minum lo,” kata Angkasa sembari merebut pelan botol di tangan Myria ketika sampai. Dia meneguk air itu sampai tandas di depan istrinya langsung dan sukses membuat banyak hati kepanasan.


__ADS_2