Menikahi Teman Kelas

Menikahi Teman Kelas
Ch. 37: Serba Salah


__ADS_3

Dua mata Myria langsung terbuka lebar. Dia segera menarik diri dari atas tubuh Angkasa. “Aaa … Kasa! Kamu menodaiku!”


Lupa status suami istri, Myria memukuli Angkasa dengan guling secara membabi buta. Antara kesal, malu dan ingin marah, perasaannya tengah campur aduk.


Angkasa justru tertawa. Pemuda itu meringkuk dan menutupi wajahnya dengan tangan. Ide aneh yang menyelip di pikiran tadi memang tidak terencana secara matang dan muncul tiba-tiba saja, tetapi terbukti sukses membuatnya untung.


“My, baru juga gue mau ngrasain bibir lo lebih dalam. Malah udah duduk.”


“Kasa!” Pukulan Mryia makin brutal. Digoda demikian, gadis itu rasanya ingin menyusut dan menjadi makhluk kecil yang bisa terbang ke luar melalui ventilasi udara. Andai lampu tidak temaram, seluruh mukanya yang memerah pasti sudah terlihat jelas dan makin membuat Angkasa gencar untuk menggoda.


“Udah, My. Gue capek. Sorry, beneran, sorry.” Ditangkapnya guling dengan dua tangan. Kemudian, Angkasa menarik benda itu cukup kuat hingga Myria ikut terperosok dan jatuh tepat di atas dada.


Gadis itu kembali memberontak, tetapi Angkasa terus mengurung Myria di pelukan. “Diem, napa, My? Lo nggak capek?” kata Angkasa dengan napas terengah-engah. Terlalu banyak tertawa dan melindungi diri, pemuda itu kehilangan sedikit tenaganya.


Myria membisu. Dia akhirnya diam dan menaruh kepala sepenuhnya tepat di atas dada Angkasa. Posisi seperti itu membuat Myria bebas mendengar detak jantung sang suami.


“Sorry, kalau lo nggak suka sama yang barusan. Tapi emang itu … gue sengaja.” Bibir mengucap maaf, tetapi kata kata terakhir seolah tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun dari Angkasa. Cowok itu bahkan bicara sambil  senyum-senyum.


Myria memukul lengan Angkasa dengan satu tangan karena jengkel. “Aku marah sama kamu.”


Angkasa tertawa lagi. Cowok itu sangat terhibur atas sikap Myria malam ini. Dia tadi sempat frustrasi karena sulit tidur, tetapi sekarang seperti lupa kesulitannya. “Mana ada orang marah bilang-bilang? Elo lagi izin buat marah sama gue gitu?”


“Kasa, lepasin!” Kesabaran belum pulih, tetapi Angkasa terus meledek. Myria makin geram sendiri dan memberi pukulan kecil beberapa kali.


“Udah diem!” Angkasa memerintah. Dia eratkan pelukan di bahu, lalu mengusap rambut Myria dengan lembut. “Tiap hari sama gue, gimana perasaan lo sekarang?” Topik pembicaraan sengaja diubah, Angkasa memiliki maksud agar Myria tetap ada di pelukan.


“Baik.” Myria menjawab singkat. Suasana hatinya belum membaik, sehingga tidak terlalu serius menanggapi.


Jawaban singkat dari istrinya membuat Angkasa menghela napas. “Cuma itu, doang? Nggak ada yang lain gitu?”


Kepala Myria terangkat. Dia tatap Angkasa dalam jarak dekat. “Apa memangnya?”


Gemas karena Myria hanya menjawab seperti itu, Angkasa berdecak keras. Dia makin memperkuat rengkuhan di tubuh Myria. “Nggak ada jawaban lebih spesifik lagi, My? Ngerasa nyaman atau apa yang lain?”

__ADS_1


“Ooohh ….” Bibir Myria membentuk bulatan. Dia lantas menggeleng. “Enggak. Biasa aja, sih.”


Mata yang awalnya saling pandang, kini beralih. Angkasa menepuk kening sendiri, lalu menjatuhkan seluruh berat badannya ke kasur. Dia biarkan Myria menindih sedari tadi. “Harusnya elo beruntung bisa deket sama gue sampek kayak gini karena nggak semua cewek punya kesempatan. Tapi bisa-bisanya elo bilang nggak ngrasain apa-apa? Nggak habis pikir gue.”


“Itu, kan, mereka.” Tangan Myria menumpu ranjang di sisi kanan dan kiri tubuh Angkasa. Kemudian, dia berguling ke samping. “Adik-adik kelas suka sama kamu karena kamu fiksiable banget kayaknya, Ka.”


Apalagi istilah yang dipakai Myria itu? Angkasa mengernyit karena tidak paham. “Maksud lo?”


Myria menipiskan bibir. Dia melirik Angkasa sedikit. “Cowok fiksi di novel-novel hampir kayak kamu. Cakep, tajir, bad boy, tapi bucin gitu sama ceweknya. Di luar kayak singa, tapi dalamnya lembut kayak adonan kue.”


“Dih!” Merasa aneh atas penjelasan Myria, Angkasa sampai mengedik. Dia lanjut menatap awang-awang, seiring pikirannya terbang bebas di alam lamunan.


Tak lagi mendengar apa pun, Myria menengok ke samping. Dia tersenyum tipis saat tahu Angkasa sudah terlelap. “Selamat malam, Kasa,” ucapnya dengan lembut, lalu menyelimuti diri dan suami dengan selimut yang sama.


***


Mentari terasa hangat saat Myria tiba di sekolah. Berminggu-minggu setelah tragedi salah kecup itu, dia dan Angkasa kembali bersikap seperti biasa. Angkasa tak pernah membahas itu lagi, apalagi Myria. Bagi gadis itu, hal memalukan memang sebaiknya tidak diingat apalagi dijadikan pembahasan.


Sakti muncul dari arah parkiran. Dia sengaja berlari menghampiri Myria yang masih berdiri di koridor kelas lain. Pemuda itu datang dengan wajah semringah. “Mau ke kelas, ya?”


Myria mengangguk. “Iya.”


“Barengan sama gue.”


“Oh, boleh.” Tidak ada kecurigaan apa pun, Myria memang tidak menjadikan Sakti spesial. Dia beranggapan bahwa pemuda di sampingnya itu sama seperti teman kelas lain. Jadi, apa salahnya jika berbuat baik pula?


Kaki terus melangkah menuju kelas, Sakti begitu menikmati berjalan beriringan dengan Myria. Dia tak peduli atas tatapan adik-adik kelas yang banyak mengenal dirinya. Bagi Sakti, justru itu kesempatan untuk memamerkan bahwa Myria gadis special di hidupnya.


Tidak berselang lama, Angkasa tiba. Dia yang ada di jalur sama dengan Sakti, seketika langsung menghentikan langkah. Dua indra penglihatannya menyipit bersamaan alis yang saling menaut, Angkasa tengah memusatkan perhatian pada sahabat dan istrinya.


“Damn! Sakti sialan!” Angkasa melangkah lebar. Dia harus segera menyusul Sakti dan Myria untuk memisah. Meski tidak ada sentuhan dan tercipta jarak antara Sakti dan Myria, Angkasa tetap keberatan.


“Kak Kasa!”

__ADS_1


“Hai, Kakak Ganteng.”


“Kak Kasa, foto dulu, yuk!”


Masih pagi, ada saja sikap menggoda adik kelas. Mulai dari yang hanya sekadar basa-basi dalam bertutur hingga tindakan menyerempet saat lewat berlawanan arah. Namun, itu semua tidak ada yang ditanggapi, yang ada Angkasa justru makin mempercepat gerakan kakinya.


Sampai di dekat Sakti, Angkasa merangkul dari belakang. Dia pura-pura menyapa agar tidak timbul curiga. “Dari tadi lo?”


Sakti berdecak, lalu menurunkan lengan Angkasa yang ada di bahunya. Pemuda itu memelototi.  “Ganggu aja lo!”


Akting masih berlanjut, Angkasa mengernyit agar terkesan tidak paham. Padahal jelas-jelas dari kemarin Sakti sudah berulang kali mengatakan naksir Myria.


Pandangan Angkasa beralih pada sang istri, lalu mengedikkan dagu seolah meminta penjelasan. Namun, tanggapan Myria hanya gelengan kepala pertanda tidak paham.


“Sakti, ini Kasa dateng. Kalau kalian mau ngobrol, ngobrol aja. Aku duluan, ya.”


“Eh, My—” Hampir saja tangan Sakti menahan Myria, tetapi Angkasa bergerak cepat menengahi. Siapa rela istrinya disentuh cowok lain?


“Bareng gue ajalah. Apa bedanya?”


“Ya, bedalah.” Bahu Angkasa didorong ke samping oleh Sakti sampai bergeser. Pemuda itu melanjutkan langkah ke kelas. “Elo juga tahu gue naksir Myria, Bro. Ini  tadi mau PDKT, tapi lo nongol kayak setan. Salty gue!”


“Udahlah, cari cewek lain napa? Gue dari kemarin bilang kalau lebih baik bukan dia. Yakin lo deketin Myria? Cowok kayak kita-kita ini nggak pantes buat dia, kali.”


Langkah Sakti kembali berhenti. Dia tatap sahabatnya dengan tatapan serius. “Maksud dari kata-kata lo ini nunjukkin kalau lo nggak setuju gitu gue deketin Myria?”


Serba salah memang menghadapi sahabat yang menyukai istri sendiri. Satu sisi tidak ingin mengacaukan hubungan pertemanan, tetapi sisi lain siapa mau berbagi? Angkasa terdiam. Dia masih memikirkan cara agar lebih mudah menjauhkan Sakti dari Myria.


Belum sempat Angkasa menjawab, Sakti lebih dahulu berkata, “Lo juga naksir sama dia, kan, Ka? Bilang ajalah sekarang, biar kita fair kalau harus saingan buat dapetin dia.”


.


.

__ADS_1


__ADS_2