
“Namanya Myria Hasya Iswari. Anak tunggal tanpa saudara. Gadis itu berusia delapan belas tahun dan sekarang masih sekolah di SMA satu kota ini, Tuan.”
Daniel membacakan beberapa informasi yang ada di selembar kertas. Semua data yang diminta bosnya berhasil didapat dalam waktu kurang dari dua pekan. Bermodal kekuasaan, Daniel begitu mudah mencari seseorang yang bisa diajak kerja sama. Entah cara seperti apa pun yang dilakukan orang suruhannya, hal terpenting bagi pria 30 tahun itu adalah hasil memuaskan.
Tuan Tirta sendiri tidak terlalu peduli cara kerja Daniel. Dia lebih suka terima beres dan meminta pertanggungjawaban apabila ada kesalahan data dari asisten pribadinya itu.
“Menurut data sekolah, gadis ini termasuk pintar dan selalu masuk di 30 besar siswa berprestasi yang sering dapat beasiswa dari para donatur.”
Tuan Tirta mengangguk-angguk. Beliau lantas menarik secangkir teh dari meja di samping badan. Sore hari yang cerah sengaja dipakai Tuan Tirta untuk bersantai di pinggir kolam renang sembari menikmati sejuknya udara dari pepohonan yang ditanam. Baru beberapa menit pria itu duduk, asisten pribadinya telah datang.
Oksigen memenuhi rongga paru-paru Daniel saat pria itu menarik napas. Kemudian, dia membuka lembar kedua. Pria bermata abu-abu itu menatap bosnya kembali guna memastikan Tuan Tirta masih menyimak. “Ibunya bernama Kinara Iswari dan ….”
Belum sempat menyelesaikan ucapan, Daniel dibuat kaget oleh Tuan Tirta yang tiba-tiba menjatuhkan cangkir teh. Pecahan beling otomatis menyebar ke segala penjuru dan air teh ikut terciprat ke kaki. Pria yang bekerja menjadi asisten pribadi itu segera menaruh berkas ke meja dan mengambilkan tisu. Tak lupa pula dia berteriak pada pekerja rumah tangga yang ada di dalam.
“Anda baik-baik saja, Tuan?” Daniel bertanya dengan cemas. Ekspresi wajahnya langsung panik saat melihat sang bos terkena tumpahan teh panas. “Saya panggilkan dokter atau kita ke rumah sakit untuk memeriksa kulit Anda.” Saking khawatirnya, Daniel memberi tawaran demikian. Pria yang jadi kepercayaan Tuan Tirta itu selalu sigap saat bekerja. Dia harus memastikan atasannya selamat dan jauh dari bahaya.
“Tidak perlu, Dan. Aku hanya butuh ganti baju.”
__ADS_1
“Kulit Anda tidak terbakar?”
Tuan Tirta menggeleng. Dia beranjak dari kursi lalu meninggalkan area kolam renang. Sebelum benar-benar pergi, beliau berpesan, “Masuklah ke rumah. Tunggu aku di ruang kerja dan selesaikan penjelasanmu itu nanti.”
Daniel mengangguk. Kemudian, dia membereskan beberapa map yang tadi dibawa lantas meninggalkan para pekerja yang masih melakukan bersih-bersih.
Ruang ganti tertutup. Tuan Tirta mengusap wajah dan menyentuh dadanya yang berdebar hebat. Kabar dari Daniel benar-benar menggunjang jiwa dan hampir membuatnya hilang kendali. Tangan pria itu mendadak lemas secara tiba-tiba saat Daniel menyebut nama ibunda Myria.
“Nara ….”
Tak ingin membuang waktu lebih banyak, Tuan Tirta segera berganti pakaian. Beliau tidak sabar mendengar informasi berikutnya mengenai seseorang yang selama ini dicari.
“Apa di situ ada alamat tinggal gadis itu, Dan?”
Suara Tuan Tirta dari arah pintu membuat Daniel berbalik. Selama menunggu, pria itu sibuk membalas pesan seseorang dan langsung mematikan ponsel ketika tahu bosnya telah kembali. “Ada. Di sini tertulis alamat lengkap kontrakan di mana dia tinggal bersama ibunya.”
Tuan Tirta duduk sembari mendengarkan. Satu tangannya mengusap dagu sambil berpikir. “Aku ingin ke sana. Bawa aku menemui gadis itu.”
__ADS_1
Kekagetan Daniel meningkat. Dia merasa ada yang berbeda dari sang bos sejak pulang dari rumah sakit pekan lalu. Sebenarnya Daniel sangat ingin tahu, tetapi sulit untuk mengutarakan. Akhirnya, hanya bisa pasrah dan siap menjalankan tugas. “Sekarang, Tuan?”
“Ya, ayo!” Tanpa persiapan apa pun, Tuan Tirta beranjak. Beliau hanya menyambar dompet dan ponsel yang diletakkan di meja kerja. Pria itu melangkah lebar saking buru-burunya.
Daniel di belakang terus bertanya dalam hati. Pria yang selalu berpenampilan rapi itu ikut mempercepat langkah. Sebagai asisten pribadi, ke mana bos pergi, di situlah dia berada. Sekalipun dalam bahaya, Daniel tidak akan meninggalkan Tuan Tirta.
Mobil melaju pelan menembus jalanan kota. Sore hari jalan mulai padat karena bertepatan para pekerja keluar dari kantor masing-masing. Tuan Tirta beberapa kali menghela napas karena tidak sabar, sementara Daniel di depan melirik lewat spion di atas kepala.
“Tuan, kalau boleh saya tahu. Kenapa Anda ingin menemui gadis itu? Bukankah dia sudah minta maaf kemarin? Kita tidak mungkin minta ganti rugi, kan?” Rasa penasaran Daniel mengalahkan rasa takut. Akhirnya, pria itu bertanya sekaligus berniat menghibur.
Pertanyaan aneh dari Daniel membuat pandangan Tuan Tirta pindah. Beliau awalnya memandangi jalanan melalui kaca jendela, tetapi sekarang ganti menatap ke spion atas melihat pantulan wajah asistennya. “Bicara apa kamu, Dan? Aku tidak mempermasalahkan itu. Kalau bicara ganti rugi, seharusnya aku yang ganti rugi karena meninggalkannya sampai puluhan tahun begini.”
.
.
***
__ADS_1
Hari Senin, kalau vote nya masih punya. boleh kasihkan ke Kasa, ya, Kak.
makasih....